Stephen Septian Bahas Storytelling dan Brand Building di IDMC 2026

oleh
oleh
Stephen Septian Bahas Storytelling dan Brand Building di IDMC 2026

Indonesia Digital Marketing Conference (IDMC) 2026 sukses digelar di Nusantara Hall, ICE BSD, Tangerang, pada Jumat, 5 Juni 2026. 

Mengusung tema “Move. Adapt. Play”, konferensi marketing bergengsi ini menghadirkan puluhan praktisi dan pakar digital marketing dari berbagai industri.

Sesi khusus bertajuk “The Strategy Behind Brands That Always Win” yang diselenggarakan oleh Magnify menjadi salah satu highlight pada hari kedua penyelenggaraan IDMC 2026. 

Sesi ini berlangsung di Garuda Room, ICE BSD, mulai pukul 14.30 hingga 18.30 WIB, dipandu oleh MC dan moderator Sophia Tobing serta Wilson Susilo.

Dalam sesi tersebut, hadir lima pembicara praktisi dengan latar belakang beragam. Stephen Septian, Founder dan Creative Director dari Increasink, tampil sebagai pembicara pertama membawakan materi seputar storytelling dan brand building. 

Stephen Septian: Founder Increasink yang Membangun Brand Lewat Storytelling

Stephen Septian adalah Founder sekaligus Creative Director dari Increasink, perusahaan branding & digital agency. Ia bercerita bahwa sebelum terjun ke dunia kreatif, Stephen sempat bercita-cita menjadi atlet bulutangkis profesional. 

Namun, arah hidupnya berubah dan ia pun menempuh pendidikan di bidang Desain Komunikasi Visual (DKV). Setelah melewati berbagai lika-liku, Stephen kini sukses menorehkan rekam jejak selama lebih dari satu dekade di industri branding dan konten digital.

Bersama Increasink, Stephen telah menangani klien-klien dari berbagai industri, seperti Parang Kencana, Merry Riana Group, dan sejumlah brand ternama lainnya. Ia juga dikenal sebagai co-founder DreamPlanner, sebuah project yang dibangun bersama figur inspiratif, Merry Riana.

Kehadiran Stephen di IDMC 2026 menjadi salah satu yang paling dinanti karena akan mengulik cara brand membangun konten yang mampu membentuk persepsi dan meninggalkan kesan jangka panjang di benak audiens. 

Everyone Creates Content, Not Everyone Builds a Brand

Tampil dengan gaya yang energik dan penuh interaksi, Stephen membawakan materi berjudul “Everyone Creates Content, Not Everyone Builds a Brand: Connecting the Dots Through Storytelling”. 

Dalam waktu sekitar 25 menit, ia menyampaikan tiga poin utama yang ia nilai paling relevan bagi para pelaku bisnis dan pemilik brand di era digital saat ini.

Poin pertama yang ia angkat adalah realita di era digital. Ia menyoroti bahwa setiap orang kini bisa memproduksi konten dengan mudah berkat ketersediaan AI, template, dan berbagai platform editing. 

Namun menurut Stephen, kemudahan tersebut justru melahirkan tantangan baru. Menurutnya, semua orang bisa membuat konten yang bagus, tetapi yang menjadi pembeda bukan lagi kualitas produksi, melainkan rasa.

“Di saat konten bagus sudah jadi standar, maka yang dicari audiens adalah siapa yang punya rasa yang berbeda,” ujar Stephen di hadapan peserta. 

Berlanjut ke poin kedua, Stephen menjelaskan konsep connecting the dots, yakni  setiap konten yang dipublikasikan seharusnya saling terhubung membentuk satu narasi. 

Stephen menegaskan bahwa konten yang tidak punya arah dan strategi hanya akan menguras energi tim tanpa menghasilkan dampak apa-apa bagi brand. 

Ia juga memperkenalkan formula storytelling miliknya yang ia namai STEPS, singkatan dari dari Stop Line, Tension, Exactly You, Pivot Point, dan Solution. Pendekatan ini ia rancang untuk membantu brand membuat konten yang meninggalkan kesan.

Poin ketiga yang disampaikannya berkaitan dengan brand archetype. Menggunakan analogi telur yang tenggelam dan mengapung di air, Stephen mengilustrasikan brand yang tidak memiliki karakter jelas akan tenggelam di tengah keramaian konten, sedangkan brand dengan identitas kuat dan konsisten akan selalu melekat di benak audiens.

“Storytelling yang kuat lahir dari karakter yang jelas. Kalau kita enggak tahu brandnya mau ke mana, gimana tim kita bisa mengerjakan konten yang sesuai brand itu?” ujarnya.

Ia pun menutup sesi dengan satu pesan yang menjadi benang merah dari seluruh materinya. 

“Branding is long term, dan branding is a marathon, not a sprint,” tutupnya.

Sesi classroom ini dilanjutkan dengan Aldo Sinarta, Fashion & Portrait Photographer Expert yang berbicara tentang konten visual yang menghasilkan konversi, serta Christian Sotanto, CEO dan Co-Founder Marketz.id yang membahas tantangan digital advertising di era AI. 

Sebagai penutup, hadir pula talkshow bertema personal branding bersama Elizabeth Setiaatmadja, Strategic Networking Advisor yang dikenal dengan julukan The Queen of Networking, dan Ingrid Saidbun, second generation owner dari brand Bocorocco.