Oleh Urwatul Wutsqo, Tariska Syarthary, Salimah Nurul Jannah, Putri Kania Azzahra, Alwi Satria Pratama. Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta, 2026
- Pendahuluan:Kisah di Balik Pintu yang Tertutup
Di sebuah gang kecil di Sawangan, Depok, tinggallah seorang perempuan berusia lima puluh tahun yang setiap harinya menanggung beban yang tak kasat mata. Namanya Bu Silvi. Dua tahun lalu, hidupnya berubah drastis: pernikahan yang ia bangun selama puluhan tahun hancur karena pengkhianatan. Suaminya, seorang pelaut dengan penghasilan dalam mata uang dolar, memilih perempuan lain.
Perceraian resmi terjadi pada tahun 2024. Sejak saat itu, tidak ada sepeser pun nafkah yang mengalir dari mantan suami, tidak ada nafkah iddah, tidak ada nafkah anak. Padahal, Islam dengan tegas mengatur kewajiban tersebut. Yang lebih menyakitkan, hakim pengadilan pun sempat terpelanga menyaksikan ketidakadilan ini. Satu-satunya keadilan yang berhasil diperjuangkan Bu Silvi hanyalah hak atas rumah yang kini ia tinggali bersama ketiga anaknya, sebuah rumah yang hingga kini sertifikatnya masih atas nama mantan suami, karena biaya balik nama sebesar delapan puluh juta rupiah tak terjangkau oleh perempuan tanpa penghasilan tetap yang mengidap penyakit saraf kejepit.
Inilah wajah nyata dhuafa di zaman modern: bukan sekadar kemiskinan materi, melainkan kemiskinan yang berlapis dari fisik, psikologis, hukum, dan sosial. Dan inilah pula tantangan bagi kita semua: bagaimana Islam, dan khususnya gerakan Muhammadiyah, hadir bukan hanya sebagai penghibur, melainkan sebagai pengubah keadaan.
- SiapakahKaum Dhuafa? Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah
Kata dhuafa (ضُعَفَاء) adalah bentuk jamak dari dha’if, yang berarti lemah. Dalam diskursus Islam, kaum dhuafa bukan hanya mereka yang miskin secara finansial, tetapi mencakup siapa pun yang berada dalam posisi rentan dan lemah, lemah secara ekonomi, fisik, sosial, maupun akses terhadap keadilan. Al-Qur’an dalam Surah Al-Ma’un (107: 1-3) mengingatkan dengan keras:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (Q.S. Al-Ma’un: 1-3)
Ayat ini bukan sekadar ancaman teologis. Ia adalah cermin sosial. K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, menjadikan surah ini sebagai salah satu landasan utama gerakannya. Beliau membaca ayat ini bukan hanya untuk dihafal, melainkan untuk diamalkan. Maka lahirlah sekolah, rumah sakit, panti asuhan, semua sebagai jawaban atas pertanyaan retorikal Al-Qur’an tersebut.
Bu Silvi adalah salah satu wajah dari kaum dhuafa yang dimaksud ayat tersebut. Ia bukan pemalas. Ia pernah mencoba berdagang jajanan di depan rumah. Ia mengelola warnet kecil. Ia berjuang. Namun kondisi fisiknya yang membatasi, ketiadaan modal, dan trauma psikologis akibat perceraian menjadikannya terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang tidak mudah diputus sendirian.
- Muhammadiyahdan Tradisi Panjang Pemberdayaan Umat
Sejak didirikan pada 18 November 1912, Muhammadiyah tidak pernah memisahkan antara teologi dan aksi sosial. Dalam pandangan Muhammadiyah, Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam), yang harus diwujudkan secara konkret dalam kehidupan nyata. Konsep ini termaktub dalam cita-cita Muhammadiyah: terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (al-mujtama’ al-islamiy al-haqiqi).
Salah satu pilar penting gerakan Muhammadiyah adalah amal usaha, lembaga-lembaga pelayanan sosial yang berfungsi sebagai instrumen dakwah sekaligus pemberdayaan. Rumah sakit Muhammadiyah berdiri bukan semata untuk mencari keuntungan komersial, melainkan sebagai manifestasi kepedulian Islam terhadap orang yang sakit. Sekolah Muhammadiyah berdiri bukan hanya untuk transfer ilmu, melainkan untuk memutus rantai kebodohan yang membelenggu umat.
Di sinilah letak relevansi program pemberdayaan keluarga Bu Silvi. Ketika mahasiswa Psikologi UHAMKA merancang program pelatihan affiliate marketing dan pemodalan usaha jasuke dan es kepal milo bagi ibu ini, mereka tidak sedang melakukan sesuatu yang asing bagi Muhammadiyah. Mereka sedang melanjutkan tradisi panjang: menghadirkan solusi nyata bagi masalah nyata. Bedanya, solusi ini disesuaikan dengan konteks zaman, era digital yang penuh peluang namun juga penuh ketimpangan akses.
- HikayatSang Janda Miskin: Dari Masa Nabi hingga Kini
Sejarah Islam dipenuhi dengan kisah-kisah perempuan tangguh yang menghadapi keterbatasan ekonomi dengan iman yang kokoh dan ikhtiar yang tak kenal menyerah. Salah satunya adalah kisah seorang janda di masa Rasulullah ﷺ yang datang mengadu karena para krediturnya hendak mengambil kedua putranya sebagai budak untuk membayar hutang almarhum suaminya. Rasulullah ﷺ tidak sekadar mendoakannya. Beliau mencari solusi praktis: bertanya apa yang dimiliki sang janda di rumahnya (hanya sedikit minyak samin), lalu memberikan instruksi bisnis yang konkret: pinjam banyak wadah, isi semuanya dengan minyak itu, dan juallah. Transaksi itu, yang kita kenal dari riwayat dalam Sunan Abu Dawud, menjadi pembebasan sang janda dari jerat hutang.
Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini sangat relevan dengan program pemberdayaan keluarga Bu Silvi:
Rasulullah ﷺ tidak memberi ikan, melainkan mengajarkan cara memancing. Program affiliate marketing dan pemodalan usaha rumahan yang diberikan kepada Bu Silvi bukan sekadar bantuan konsumtif, melainkan pelatihan keterampilan yang dapat menghasilkan pendapatan mandiri secara berkelanjutan.
Rasulullah ﷺ bertanya lebih dulu tentang potensi yang dimiliki sang janda. Demikian pula, pendekatan ABCD (Asset-Based Community Development) dalam program ini dimulai dari pemetaan aset: Bu Silvi memiliki akses internet melalui warnet yang dikelola putra sulungnya, ia terbiasa menggunakan teknologi, dan ia memiliki motivasi tinggi demi anak-anaknya.
Minyak samin sang janda adalah modal kecil yang dioptimalkan. Warnet kecil, smartphone dan pengalaman berjualan online adalah modal kecil Bu Silvi yang dapat dioptimalkan melalui pengetahuan affiliate marketing.
Kisah lain yang tak kalah menginspirasi adalah kisah Siti Khadijah r.a., perempuan pertama yang masuk Islam sekaligus seorang pengusaha ulung. Khadijah membuktikan bahwa perempuan Muslim bukan hanya bisa, tetapi sejak empat belas abad lalu telah memimpin dunia perdagangan dengan integritas dan kecerdasan. Bu Silvi, dalam skala yang jauh lebih kecil namun dengan semangat yang sama, tengah dalam perjalanan menuju kemandirian serupa.
- AffiliateMarketing dalam Kaca Mata Islam: Halal, Produktif, Bermartabat
Mungkin ada yang bertanya: apakah affiliate marketing itu halal? Jawabannya adalah ya, selama memenuhi prinsip-prinsip muamalah Islam. Dalam fikih Islam, affiliate marketing pada dasarnya serupa dengan akad ji’alah, upah atas pekerjaan tertentu yang berhasil diselesaikan, atau mirip dengan akad samsarah (perantara/broker) yang dikenal dalam fikih klasik. Komisi yang diterima dari setiap penjualan produk yang berhasil adalah ujrah (upah) yang sah atas jasa promosi yang telah diberikan.
Islam sangat menganjurkan umatnya untuk bekerja dan mencari rezeki. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-Jumu’ah: 10:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ
“Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah.” (Q.S. Al-Jumu’ah: 10)
“Bertebaran di muka bumi” di era digital ini berarti memanfaatkan ruang-ruang digital—media sosial, platform e-commerce, jaringan internet—sebagai ladang mencari rezeki. Tidak ada yang salah dengan ini. Yang penting adalah kejujuran dalam berpromosi, tidak menipu konsumen, dan mempromosikan produk yang halal.
Lebih dari itu, affiliate marketing memiliki keunggulan yang sangat relevan bagi kondisi Bu Silvi: tidak memerlukan modal besar, bisa dilakukan dari rumah, fleksibel sesuai kondisi kesehatan, dan potensi penghasilannya terbuka lebar. Inilah bukti bahwa Islam tidak pernah mempersulit umatnya untuk mencari nafkah yang halal. Selalu ada jalan, selalu ada celah rezeki yang Allah sediakan.
- DimensiPsikologis: Ketika Iman Menjadi Resiliensi
Sebagai mahasiswa psikologi, kami tidak bisa menutup mata terhadap dimensi psikologis dari kisah ini. Keluarga Bu Silvi tidak hanya mengalami kemiskinan ekonomi, mereka mengalami kemiskinan psikologis akibat trauma yang menghantam bertubi-tubi.
Putra sulung Bu Silvi, yang menjadi saksi pertama pengkhianatan ayahnya—kini menarik diri dari kehidupan sosial. Ia tidak mau bersosialisasi, pasif di rumah, hanya mengelola bisnis warnet kecil yang penghasilannya tidak lebih dari Rp 5.000 per hari. Gejala ini, dari sudut pandang psikologi, merupakan indikasi gangguan yang serius: mungkin depresi, mungkin trauma kompleks, mungkin gangguan penyesuaian. Sementara itu, Bu Silvi sendiri menanggung beban ganda: sakit fisik yang menyiksa dan luka batin yang belum sembuh.
Di sinilah nilai-nilai Islam berfungsi sebagai sumber resiliensi yang luar biasa. Konsep sabar dalam Islam bukan berarti pasif menerima keadaan—ia adalah keteguhan aktif untuk terus melangkah meski dalam kepedihan. Konsep tawakkal bukan berarti menyerah pada takdir—ia adalah keyakinan bahwa setelah ikhtiar maksimal, hasil diserahkan kepada Allah Yang Maha Mengetahui. Dan konsep ukhuwah adalah jaring pengaman sosial yang mencegah seseorang jatuh sendirian dalam kegelapan.
Penelitian psikologi kontemporer, termasuk karya Martin Seligman tentang learned optimism dan Viktor Frankl tentang logotherapy, menunjukkan bahwa keyakinan akan makna hidup adalah prediktor resiliensi yang paling kuat. Islam, dengan narasi besarnya tentang kehidupan sebagai ujian dan akhirat sebagai tujuan, memberikan landasan makna yang kokoh. Bu Silvi yang masih bertahan, masih berjuang, masih merawat anak-anaknya di tengah segala keterbatasan adalah bukti hidup dari kekuatan makna tersebut.
- DakwahBil Hal: Manifestasi Kemuhammadiyahan di Era Digital
Muhammadiyah dikenal dengan konsep dakwah bil hal—dakwah melalui perbuatan nyata, bukan sekadar ceramah dan retorika. Jika K.H. Ahmad Dahlan mendakwahkan Islam dengan mendirikan sekolah di tengah masyarakat yang terbelakang pendidikannya, maka mahasiswa Psikologi UHAMKA masa kini mendakwahkan Islam dengan memberikan pelatihan digital kepada ibu yang terbelakang aksesnya terhadap teknologi.
Program pemberdayaan keluarga Bu Silvi yang dirancang dalam proposal ini mencerminkan semangat dakwah bil hal dalam beberapa dimensi:
- DimensiEkonomi: Memberdayakan, Bukan Sekadar Memberi
Program ini tidak memberikan ikan, tetapi mengajarkan cara memancing di kolam digital. Pelatihan affiliate marketing dirancang agar Bu Silvi mampu menghasilkan pendapatan minimal Rp 1.000.000 per bulan secara mandiri dalam tiga bulan pertama. Ini bukan angka yang besar, tetapi bagi keluarga yang selama ini bergantung sepenuhnya pada anak keduanya yang masih kuliah sambil bekerja sebagai ojek online, angka itu adalah perbedaan antara makan dan tidak makan, antara sekolah dan putus sekolah.
- DimensiPsikologis: Mengembalikan Martabat dan Harapan
Kemiskinan bukan hanya tentang uang, ia juga tentang martabat dan harapan yang dirampas. Ketika Bu Silvi berhasil menghasilkan uang pertama dari affiliate marketing, yang terjadi bukan sekadar transaksi ekonomi. Yang terjadi adalah pemulihan keyakinan dirinya bahwa ia masih mampu, bahwa ia masih berguna, bahwa ia bukan beban bagi anak-anaknya. Ini adalah terapi psikologis yang paling autentik, lebih kuat dari seribu kata motivasi.
- DimensiSpiritual: Memperkuat Ukhuwah dan Kepercayaan kepada Allah
Setiap kunjungan pendampingan dalam program ini bukan sekadar sesi teknis belajar affiliate. Ia juga adalah momen silaturahmi, mempererat tali persaudaraan Islam. Dalam setiap pertemuan, ada ruang untuk berbagi, untuk menguatkan, untuk mengingatkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Rasulullah ﷺ bersabda:
النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ خَيْرُ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia.” (H.R. Ahmad, Al-Mu’jam Al-Awsath)
- Tantangandan Harapan: Catatan Kritis
Penulis tidak ingin menutup artikel ini dengan optimisme semu. Ada tantangan nyata yang perlu dihadapi dengan jujur.
Pertama, kondisi psikologis putra sulung Bu Silvi yang menarik diri dari kehidupan sosial memerlukan intervensi profesional yang lebih dari sekadar kunjungan motivasi. Program ini perlu dilengkapi dengan pendampingan psikologis yang lebih intensif.
Kedua, masalah sertifikat rumah yang masih atas nama mantan suami adalah bom waktu yang suatu saat bisa meledak dan meruntuhkan semua yang telah dibangun. Program pemberdayaan sebaiknya juga melibatkan advokasi hukum, misalnya bekerja sama dengan LBH atau Posbakum pengadilan agama, untuk membantu penyelesaian masalah ini.
Ketiga, keberlanjutan program. Banyak program pemberdayaan yang berhasil di fase awal tetapi gagal mempertahankan dampaknya setelah masa program berakhir. Program ini perlu membangun jaringan dukungan yang berkelanjutan, komunitas affiliate lokal, grup belajar bersama, atau forum online yang memungkinkan Bu Silvi terus berkembang setelah masa pendampingan formal berakhir.
Namun di balik semua tantangan ini, ada harapan yang tidak boleh dipadamkan. Si bungsu yang sedang mengincar beasiswa melalui prestasi karate, yang bermimpi kuliah di Psikologi Universitas Padjadjaran, ia adalah simbol bahwa kemiskinan tidak menghalangi mimpi selama ada keluarga yang saling mendukung dan komunitas yang peduli. Kita semua berperan dalam memastikan mimpinya menjadi kenyataan.
- Penutup:Menjawab Panggilan Al-Ma’un
K.H. Ahmad Dahlan pernah berkata kepada murid-muridnya yang selalu menghafal dan mendiskusikan surah Al-Ma’un tanpa mengamalkannya: “Sudah hafalkah kalian Al-Ma’un? Kalau sudah, amalkan!” Kalimat sederhana itu mengandung revolusi pemikiran: bahwa Islam bukan agama tekstual semata, melainkan agama yang hidup dalam tindakan.
Bu Silvi dan jutaan keluarga sepertinya di Indonesia adalah panggilan Al-Ma’un yang mengetuk pintu nurani kita setiap hari. Mereka bukan statistik kemiskinan dalam laporan BPS. Mereka adalah manusia dengan nama, dengan cerita, dengan luka, dan dengan mimpi yang berhak diwujudkan.
Program Pemberdayaan Keluarga Dhuafa melalui Pelatihan Affiliate Marketing yang dirancang oleh mahasiswa Psikologi UHAMKA, selain itu pemodalan usaha rumahan, ini adalah satu langkah kecil untuk menjawab panggilan itu. Ia bukan solusi sempurna, tidak ada solusi yang sempurna untuk masalah kemiskinan yang kompleks. Tetapi ia adalah langkah yang nyata, yang dilandasi nilai Islam yang autentik, yang berpijak pada tradisi Muhammadiyah yang panjang, dan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Semoga langkah ini menjadi benih yang tumbuh. Semoga kemandirian Bu Silvi menjadi inspirasi bagi tetangganya, bagi komunitasnya, bagi sesama perempuan yang tengah berjuang. Dan semoga setiap dari kita, mahasiswa, dosen, pengusaha, masyarakat biasa, tergerak untuk menjadi bagian dari jawaban, bukan bagian dari keheningan.
وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
“Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. Ali Imran: 134)
