DEPOKPOS – Setiap jam, sekitar 15 orang Indonesia meninggal karena TBC. Bukan karena obatnya tidak ada. Bukan karena teknologinya belum ditemukan. Melainkan karena kita terlambat terlambat mendeteksi, terlambat memeriksa, dan terlambat menyadari bahwa pencegahan jauh lebih penting dari pengobatan.
Hingga awal Mei 2026, pemerintah mencatat lebih dari 241 ribu kasus TBC yang terdeteksi. Capaian inisiasi pengobatan baru menyentuh 84 persen dari target 95 persen, dan tingkat keberhasilan pengobatan hanya 80 persen dari target 90 persen. Di sisi lain, WHO dalam laporannya tahun 2025 menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia dengan beban kasus TBC tertinggi tepat di bawah India. Angka-angka ini bukan sekadar rapor yang buruk. Ini adalah cermin dari sistem kesehatan yang masih lebih sibuk memadamkan api daripada mencegahnya menyala.
Di lapangan, akar masalahnya terlihat jelas. Banyak masyarakat yang menganggap batuk berkepanjangan sebagai hal yang wajar kelelahan, debu, atau cuaca dingin. Padahal batuk lebih dari dua minggu adalah tanda peringatan yang tidak boleh diabaikan. Akibat anggapan sepele ini, pemeriksaan ditunda berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Sementara itu, penularan sudah berlangsung diam-diam di rumah, di sekolah, di angkutan umum, dan di tempat kerja.
Dalam penyakit menular seperti TBC, keterlambatan satu orang bisa menjadi bencana bagi puluhan orang di sekitarnya. Lebih parah lagi, ketika satu kasus akhirnya terdeteksi, penelusuran kontak sering kali berjalan lambat dan tidak tuntas. Anggota keluarga serumah tidak segera diperiksa. Rekan kerja tidak diberitahu. Rantai penularan dibiarkan terus berjalan seolah tidak ada yang bertanggung jawab memutusnya.
Inilah titik lemah terbesar dalam penanganan TBC di Indonesia sistem kesehatan kita masih bersifat reaktif, bukan proaktif. Puskesmas yang seharusnya menjadi garda terdepan pencegahan lebih banyak berfungsi sebagai tempat berobat bagi yang sudah sakit. Skrining aktif jarang dilakukan. Pelacakan kontak tidak konsisten. Edukasi kesehatan kepada masyarakat masih terbatas pada spanduk dan poster yang mudah diabaikan.
Kader kesehatan TBC di tingkat komunitas pun belum dilibatkan secara maksimal. Padahal mereka adalah ujung tombak yang paling dekat dengan masyarakat orang-orang yang paling tahu siapa di lingkungannya yang batuk lama, siapa yang tinggal di rumah sempit dan lembap, siapa yang belum pernah diperiksa. Jika potensi ini tidak dioptimalkan, informasi kesehatan akan terus berhenti di tingkat kebijakan dan tidak pernah benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan.
Selama ini, anggaran dan perhatian lebih banyak dialokasikan untuk pengobatan dibanding pencegahan. Padahal biaya sosial dari keterlambatan jauh lebih besar. Satu pasien TBC yang tidak terdeteksi tepat waktu bisa menularkan penyakit kepada 10 hingga 15 orang dalam setahun. Artinya, setiap kasus yang terlambat ditangani bukan hanya satu masalah ia adalah potensi belasan masalah baru yang harus ditanggung sistem kesehatan di kemudian hari.
Solusi untuk masalah ini sebenarnya sudah diketahui yang kurang adalah keberanian untuk menjalankannya secara konsisten. Pertama, puskesmas harus bertransformasi: bukan hanya tempat berobat, tetapi pusat pencegahan aktif yang rutin melakukan skrining, melacak kontak, dan mendampingi pasien hingga pengobatan tuntas. Kedua, pemeriksaan kesehatan massal perlu dijadwalkan secara berkala di wilayah padat penduduk dan daerah berisiko tinggi. Ketiga, kader TBC komunitas harus diberdayakan secara nyata bukan hanya dilatih, tetapi juga didukung dengan sumber daya yang memadai. Keempat, edukasi publik harus bergeser dari kampanye seremonial menjadi komunikasi yang menyentuh keseharian masyarakat.
Indonesia sudah lama tahu bahwa TBC adalah masalah serius. Data tidak pernah berbohong, dan laporan demi laporan sudah memberikan peringatan yang cukup. Yang masih absen adalah keputusan untuk benar-benar bergerak dari pendekatan kuratif menuju preventif dari mengobati yang sudah jatuh sakit menuju mencegah yang sehat agar tidak ikut jatuh.
Kemenangan sejati melawan TBC tidak akan lahir dari rumah sakit yang penuh obat. Ia akan lahir dari puskesmas yang aktif menjemput pasien, dari kader yang gigih menelusuri kontak, dan dari masyarakat yang tidak lagi menganggap batuk panjang sebagai hal biasa. Selama pencegahan masih menjadi pilihan kedua, Indonesia akan terus kalah bukan karena kekurangan obat, tetapi karena kekurangan keberanian untuk memulai dari hulu.
Carla Dwiutami Pairunan
Universitas Mulawarman
Program Studi Akuntansi
