DEPOK – Aktivis Dakwah, Ustadzah Mega Marlina menegaskan, setidaknya ada tiga kunci kebahagiaan dalam ajaran Islam.
“Ada tiga kunci bahagia dalam Islam,” ungkapnya dalam Kajian Muslimah Shalihah Rutin, Kunci Kebahagiaan dalam Islam, Sabtu, (9/5/2026) di Depok.
Adapun ketiga kunci tersebut yakni: Pertama, taat syariah. “Taat syariah, tidak akan sesat dan celaka,” jelasnya di hadapan sekitar 22 peserta.
Ia pun membacakan dalilnya dalam Al-Qur’an surah Thaha ayat 123 dan 124 yang artinya, “Barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
Kedua, qana’ah. “Qana’ah adalah ridha, menerima atau puas diri dengan segala karunia atau ketentuan Allah Taala. Wujudnya dengan merasa cukup terhadap pemberian Allah, tidak tamak terhadap apa yang dimiliki manusia, tidak iri melihat apa yang ada di tangan orang lain dan tidak rakus mencari harta benda dengan menghalalkan segala cara. Qana’ah juga merupakan kunci untuk meraih kebahagiaan bagi manusia ketika hidup di dunia,” bebernya.
Adapun perintah qana’ah, lanjutnya terdapat dalam hadits Riwayat Ibnu Majah no 4138 yang artinya, “Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.”
Ketiga, istiqamah. “Seperti yang disebutkan dalam buku Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 246, Darul Muayyid, cetakan pertama, tahun 1424 H, istiqamah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqamah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya,” jelasnya.
Ia juga menegaskan, agar bahagia harus istiqamah. Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah SWT surah Fussilat ayat 30 yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’, kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu’.”
Istiqamah pun menurutnya ada tiga macam yakni istiqamah di atas tauhid, istiqamah dalam ketaatan dan menunaikan kewajiban Allah dan istiqamah di atas ikhlas dan dalam beramal hingga maut menjemput, sebagaimana yang disebutkan dalam Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 5/304, Mawqi’ At Tafasir.
Menurutnya, pasti ada kekurangan dalam istiqomah. “Ketika kita ingin berjalan di jalan yang lurus dan memenuhi tuntutan istiqamah, terkadang kita tergelincir dan tidak bisa istiqamah secara utuh,” terangnya.
“Lantas apa yang bisa menutupi kekurangan ini?” tanyanya.
Menurutnya, jawabannya adalah pada firman Allah Ta’ala Al-Qur’an surah Fussilat ayat 6 yang artinya, Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Rabbmu adalah Rabb Yang Maha Esa, maka tetaplah istiqomah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.”
Ia pun menegaskan ada beberapa kiat agar istiqamah. “Adapun kiat agar istiqamah yakni dengan menghadiri majelis ilmu, agar memiliki aqidah yang kokoh, mengamalkan syariah secara kaffah dan mengetahui kisah orang sholih sehingga bisa dijadikan uswah (teladan), serta bergaul dengan teman-teman yang saleh,” bebernya.
Di akhir bahasan ia juga mengajak kita banyak berdoa kepada Allah agar istiqamah. Adapun doanya sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 8 yang artinya, “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”
Ditambah juga dengan doa, “Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”[Siti Aisyah]

