Jaringan Ulama Betawi dengan Ulama Banten: Persaudaraan Lintas Batas yang Membangun Peradaban

oleh
oleh

Oleh: Murodi al-Batawi

Di antara sekian banyak jaringan ulama Nusantara, relasi antara Betawi dan Banten memiliki keunikan tersendiri. Tidak hanya karena kedekatan geografis—Jakarta dan Banten bertetangga—tetapi juga karena ikatan historis, genealogis, dan intelektual yang telah terjalin selama berabad-abad.

Tulisan ini mengupas secara kritis bagaimana hubungan ulama Betawi dan Banten terbentuk melalui haji dan pengembaraan intelektual di Haramain, bagaimana peran tokoh-tokoh seperti Syekh Nawawi al-Bantani dan Guru Marzuki, serta bagaimana jaringan ini melahirkan karakter Islam Betawi yang kuat, moderat, dan berjejaring luas.

Dari leluhur Banten yang menjadi prajurit Sultan Agung hingga para ulama Banten yang “numpang lahir” tetapi berkarya di Betawi. Selain itu, tulisan ini mengajak pembaca untuk melihat bahwa persaudaraan Betawi-Banten bukan sekadar hubungan etnis, melainkan ikatan peradaban yang membentuk Jakarta hingga kini.

Karena Jakarta dan Banten, dua wilayah yang saat ini terpisah secara administratif—satu provinsi khusus yang perah jadi ibu kota, satu provinsi di ujung barat Pulau Jawa—tetapi dalam sejarah, keduanya tak terpisahkan. Sejak era Kesultanan Banten (abad ke-16 hingga ke-19), Jakarta (saat itu Jayakarta) adalah bagian dari wilayah pengaruh Banten.

Bahkan, Fatahillah yang merebut Sunda Kelapa dari Portugis dan mengubah namanya menjadi Jayakarta adalah panglima dari Kesultanan Demak yang kemudian menjadi penguasa Cirebon dan sekutu Banten .

Namun, ikatan antara Betawi dan Banten tidak hanya bersifat politis. Ia jauh lebih dalam: ikatan genealogis, intelektual, dan spiritual. Banyak keluarga Betawi yang memiliki akar dari Banten, dan sebaliknya. Banyak ulama Banten yang memilih Jakarta sebagai tempat berdakwah dan mengajar. Dan yang paling menarik: banyak ulama Betawi menempuh pendidikan di Banten, atau sebaliknya, ulama Banten menjadi guru bagi para kiai Betawi.

Ikatan Genealogis dan Historis
Dari Leluhur Banten ke Tanah Betawi

Salah satu fakta paling mencengangkan tentang Jakarta adalah bahwa masyarakat Betawi terbentuk dari amalgamasi berbagai etnis, termasuk di dalamnya Banten. Alwi Shahab, budayawan Betawi terkemuka, mencatat bahwa banyak keluarga Betawi yang masih bisa melacak silsilah mereka hingga ke Banten .

Fenomena ini tidak mengherankan mengingat sejarah Kesultanan Banten yang berkuasa atas sebagian besar wilayah Jawa Barat bagian utara hingga abad ke-19. Jayakarta (kini Jakarta) adalah salah satu kota penting dalam jalur perdagangan dan pengaruh Banten. Ketika VOC merebut Batavia pada 1619, banyak penduduk Banten yang kemudian bermigrasi ke dalam kota atau menetap di wilayah pinggiran yang kini menjadi bagian dari Jakarta.

Selain itu, terdapat komunitas besar Bantenese diaspora di Jakarta—terutama di daerah Sawah Besar, Tanah Abang, Jatinegara, dan Kampung Melayu. Mereka datang sebagai pedagang, buruh, atau ulama, dan seiring waktu berasimilasi dengan penduduk lokal, membentuk apa yang kini kita kenal sebagai masyarakat Betawi .

Kisah Leluhur Banten Para Ulama Betawi

Salah satu contoh paling menarik adalah kisah Baserin, leluhur KH Muhammad Tambih (Kiai Tambih), seorang ulama Betawi asal Bekasi. Dalam buku Ulama Betawi, karya Ahmad Fadli HS, diceritakan bahwa Baserin adalah prajurit Sultan Agung yang berasal dari Banten. Ia melarikan diri dari kejaran VOC dan bersembunyi di Kampung Setu, Bintara Jaya, Bekasi. Di sanalah ia menetap dan membangun keluarga .

Cerita ini bukan sekadar anekdot. Ia menunjukkan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme telah menyatukan orang Banten dan Betawi sejak abad ke-17. Para prajurit Banten yang terdesak oleh Belanda tidak lari ke barat (ke Banten sendiri) atau ke timur (ke Cirebon), tetapi ke arah Jakarta—ke wilayah yang saat itu menjadi pusat kekuasaan VOC. Mereka memilih untuk bersembunyi di tengah musuh, sebuah keberanian yang luar biasa.

Setelah VOC runtuh dan digantikan Hindia Belanda, keturunan prajurit-prajurit ini tetap tinggal di Bekasi dan sekitarnya. Mereka berasimilasi, menikah dengan penduduk setempat, dan melahirkan generasi ulama Betawi yang kelak menjadi benteng perlawanan melawan kolonialisme. KH Muhammad Tambih, keturunan ke sekian dari Baserin, justru menjadi salah satu ulama Betawi yang paling vokal melawan Belanda dan memelopori berdirinya NU di Bekasi .

Inilah ironi sejarah yang indah. Mereka yang dulu diburu oleh VOC, kini keturunannya menjadi pemburu kemerdekaan. Dan dalam prosesnya, batas antara “Banten” dan “Betawi” menjadi kabur, digantikan oleh identitas bersama: pejuang Islam dan pejuang bangsa.

Ikatan Intelektual: Dari Makkah ke Betawi

Jika ikatan genealogis menyatukan Betawi dan Banten secara darah, maka ikatan intelektual menyatukan mereka secara sanad keilmuan. Pusat pertemuan utamanya bukan di Jakarta atau Banten, melainkan di Makkah dan Madinah, pusat peradaban Islam yang menjadi tujuan para pelajar dari seluruh Nusantara.

Syekh Nawawi al-Bantani: Guru Para Ulama Nusantara

Figur paling sentral dalam jaringan intelektual Betawi-Banten adalah Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani (1815-1897). Lahir di Kampung Tanara, Serang, Banten, ia menetap di Makkah selama sekitar 30 tahun dan menjadi salah satu ulama tersohor di Haramain .

Syekh Nawawi bukan sekadar ulama biasa. Ia adalah imam besar Masjidil Haram, salah satu dari tiga ulama Indonesia yang pernah menduduki posisi prestisius ini. Dua lainnya adalah Syekh Junaid al-Batawi (ulama Betawi) dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi .

Keistimewaan Syekh Nawawi terletak pada karya-karyanya yang sangat produktif. Ia mengarang puluhan kitab dalam berbagai disiplin ilmu—tafsir, fikih, tasawuf, tauhid, nahwu—yang menjadi rujukan utama di pesantren-pesantren Nusantara hingga kini. Kitabnya yang paling terkenal,_*Marah Labid li Kasyfi Ma’na Al-Qur’an al-Majid_*(tafsir dua jilid), adalah salah satu tafsir Al-Qur’an berbahasa Arab yang paling banyak dipelajari di Indonesia .

Apa hubungan Syekh Nawawi dengan Betawi?. Sangat erat. Ia adalah guru dari para guru Betawi. Banyak ulama Betawi yang belajar langsung kepadanya di Makkah, atau belajar melalui perantara murid-muridnya. Syekh Nawawi-lah salah satu mata rantai yang menghubungkan tradisi keilmuan Haramain dengan para kiai Betawi seperti Guru Marzuki, Guru Mansur, dan para “enam pendekar” lainnya .

Prof. Azyumardi Azra, dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara, menyebut Syekh Nawawi sebagai bagian dari generasi emas ulama Nusantara di Haramain yang meletakkan fondasi bagi pembaruan Islam di Indonesia . Dan fondasi itu, pada gilirannya, menjadi landasan bagi perjuangan melawan kolonialisme dan pembentukan negara-bangsa.

Guru Marzuki: Koneksi Banten dalam Sanad Keilmuan

Sekembalinya dari Makkah, para ulama Betawi tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga jaringan sanad yang bersambung hingga ke Banten. Guru Marzuki (1877-1934), mahaguru Betawi, adalah contoh paling representatif.

Dalam daftar guru Guru Marzuki selama di Makkah, terdapat beberapa nama ulama yang berasal dari Banten atau memiliki koneksi kuat dengan Banten. Di antara yang paling menonjol adalah Syekh Marzuki al-Bantani, seorang ulama besar asal Banten yang juga menjadi gurunya. Fakta bahwa Guru Marzuki memiliki sanad keilmuan yang bersambung ke Syekh Marzuki al-Bantani menunjukkan bahwa tradisi intelektual Banten tidak putus hanya karena para ulama bermukim di Makkah. Ia justru dilestarikan dan ditransmisikan secara lintas generasi.

Selain itu, Guru Marzuki juga berguru kepada Syekh Mahfuz at-Tarmasi (ulama asal Tegal, tetapi memiliki murid-murid dari Banten) dan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan(Mufti Syafi’iyyah di Makkah yang menjadi guru banyak ulama Nusantara) .

Ketika pulang ke Jakarta, Guru Marzuki tidak hanya mengajar murid-murid Betawi, tetapi juga menerima santri dari berbagai daerah, termasuk dari Banten. Murid-muridnya, seperti KH Noer Ali (Bekasi, 1913-1992) dan KH Abdullah Syafi’i (Bali Matraman, 1910-1985), kemudian menjadi ulama Betawi yang juga memiliki pengaruh di Banten melalui jaringan dakwah mereka .

Dengan demikian, bukan hanya orang Betawi yang belajar dari ulama Banten di Makkah, tetapi juga orang Banten yang belajar dari ulama Betawi di Jakarta. Ini adalah jaringan dua arah yang simbiotik, bukan dominasi satu arah.

Manifestasi Jaringan: Kolaborasi, Organisasi, dan Persaudaraan

Jika ikatan genealogis dan intelektual bersifat personal dan individual, maka manifestasi kolektif dari jaringan Betawi-Banten terlihat dalam berbagai bentuk kolaborasi, organisasi, dan persaudaraan di abad ke-20.

NU sebagai Wadah Pemersatu

Nahdlatul Ulama (NU), yang didirikan pada 1926 oleh KH Hasyim Asy’ari (Jombang) dan KH Wahab Chasbullah (Jombang), dengan cepat menyebar ke berbagai daerah, termasuk Betawi dan Banten.

Di Betawi, tokoh yang paling berperan dalam mendirikan NU adalah Guru Marzuki. Beliau menjadi Rais Syuriah NU Batavia (Jakarta) pertama pada 1928 dan menjabat sampai wafatnya pada 1934. Melalui posisinya ini, Guru Marzuki menghubungkan para kiai Betawi dengan pusat NU di Jawa Timur, termasuk dengan para kiai Banten yang juga menjadi bagian dari jaringan NU .

Sementara itu, di Bekasi, KH Muhammad Tambih menjadi peletak dasar berdirinya NU. Ia adalah murid Guru Marzuki yang kemudian mengembangkan NU di wilayah Bekasi dan sekitarnya. Menariknya, leluhur Kiai Tambih berasal dari Banten—sebuah contoh sempurna bagaimana ikatan genealogis, intelektual, dan organisatoris menyatu dalam satu figur .

Kiai Tambih juga dikenal sebagai tokoh yang menyatukan ulama dan habaib di Betawi. Ia menjadi penggerak dakwah bersama Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang), Habib Ali bin Husein Al-Atthas (Cikini/Bungur), dan KH Tohir Rohili (Kampung Melayu). Dalam jaringan ini, para ulama Banten juga terlibat aktif—seperti KH Nahrawi (Lengkong/Banten) dan KH Tb Sholeh Ma’mun (Serang/Banten) yang pernah mengajar di majelis taklim Kiai Tambih .

Hubungan Guru-Murid: Saling Mengajar, Saling Mengisi

Bukti konkret lain dari jaringan Betawi-Banten adalah praktik saling mengajar. Banyak ulama Banten yang diundang menjadi pengajar di majelis-majelis taklim Betawi, dan sebaliknya.

Dalam catatan Ahmad Fadli HS, KH Abdul Hannan Sa’id—seorang ulama tajwid dari Sawah Besar, Jakarta Pusat—adalah contoh menarik. Ia lahir di Serang, Banten, tetapi seluruh kiprah keulamaannya dihabiskan di Betawi. Ketika ditanya apakah ia pantas disebut “ulama Betawi”, jawabannya sederhana: “KH Abdul Hannan Sa’id cuma numpang lahir di Banten, Ustadz, tapi kiprah keulamaan beliau di Betawi. Beliau sangat pantas dimasukkan sebagai ulama Betawi” .

Pernyataan ini bukanlah pernyataan provokatif, melainkan pengakuan atas fluiditas identitas dalam jaringan ulama Nusantara. Seorang yang lahir di Banten bisa menjadi “ulama Betawi” karena ia menghabiskan masa dewasanya untuk mengajar, berdakwah, dan membesarkan keluarga di Jakarta. Sebaliknya, ada juga orang Betawi yang memilih menetap dan mengajar di Banten.

Hal terpenting bukanlah label etnis, tetapi kontribusi nyata terhadap masyarakat. Dan kontribusi itu tidak mengenal batas administratif.

Silaturahim Lintas Tokoh

Jaringan ini juga terlihat dalam kunjungan dan silaturahim para tokoh nasional ke Betawi. Dalam sejarah majelis taklim KH Muhammad Tambih di Kranji, Bekasi, tercatat tokoh-tokoh nasional seperti KH Idham Cholid (Ketua PBNU 1956-1984), KH Wahab Chasbullah (Pendiri NU), dan KH Ali Maksum (Krapyak) pernah hadir sebagai pengunjung atau pengisi acara .

Kedatangan mereka bukan sekadar seremonial, tetapi merupakan bagian dari penguatan jaringan dan konsolidasi dakwah. Di era ketika transportasi masih terbatas, kunjungan seorang kiai dari Jawa Timur ke Bekasi bukanlah hal sepele. Ia menunjukkan bahwa para ulama Nusawatara—apapun asal daerahnya—memiliki kesadaran kolektif bahwa persatuan lebih penting daripada perbedaan.

Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat{odie}.

Pamulang, 23 Mei 2026.

Murodi al-Batawi.