DEPOK – Di hadapan sekitar 35 jemaah, Aktivis Dakwah, Ustadzah Weny Triana menegaskan sesungguhnya hakikat qurban bukan sekadar ritual tahunan.
“Setiap tahun, seringkali kita terjebak pada pemahaman bahwa qurban itu sekadar menyembelih hewan dan daging dibagikan. Padahal, hakikat qurban jauh lebih dalam dari sekadar ritual tahunan,” ungkapnya dalam Kajian Muslimah Shalihah Rutin, Ibadah Qurban: Bukan Sekedar Potong Hewan, Tapi Potong Sifat Buruk Dari Diri Kita, Sabtu, (23/5/2026) di Depok.
Menurutnya, qurban sebenarnya menjadi momen menjadi pribadi yang lebih baik. “Jika kita pahami maknanya, qurban sebenarnya adalah momen untuk “memotong” ego dan keburukan diri sendiri, serta menjadi komitmen untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik,” jelasnya.
Apalagi terangnya, sesungguhnya ibadah qurban itu untuk Allah semata. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah al-An’am ayat 162 yang berbunyi, “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
”Hakikat qurban sebenarnya bermula dari kisah Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, semata-mata karena perintah Allah. Kemudian digantikan dengan menyembelih hewan ternak sebagai simbolnya. Ini mengajarkan kita bahwa qurban intinya adalah penyerahan diri total. Hewan yang kita sembelih itu adalah perwakilan dari harta dan nyawa kita yang seharusnya kita korbankan demi Allah, namun karena kasih sayang-Nya, diganti dengan hewan ternak,” paparnya.
Lebih lanjut dijelaskan, hikmah utama qurban adalah berbagi dan mendekatkan diri kepada Allah. Daging qurban dibagi agar yang kaya dan yang miskin bisa merasakan kebahagiaan bersama. Jika dagingnya saja bisa bermanfaat dan memberi kebahagiaan bagi orang lain, maka pemiliknya (kita) pun seharusnya menjadi pribadi yang bermanfaat dan menyenangkan bagi orang lain.
”Qurban yang sesungguhnya adalah ketika setelah menyembelih hewan itu, hewannya mati, sementara kita “hidup” dengan karakter yang baru dan lebih shalih. Jauh dari hasad, dengki, dusta, berkata kasar dan rasa malas beribadah,” pungkasnya [Mega Marlina]

