Peran Keluarga dalam Memproteksi Generasi Muda dari Dampak Negatif Globalisasi

oleh
oleh

Oleh : Aaqilah Fatimah Zahra, Firyaal Aqila

DEPOKPOS – Perkembangan global yang terjadi saat ini menjadi sebuah risiko bagi keluarga yang harus dihadapi dengan selektif dan cerdas. Hal ini disebabkan oleh dampak yang menyertainya, seperti perubahan peran ibu dan ayah dalam rumah tangga, peningkatan sifat konsumtif yang menjadi gaya hidup masyarakat, adanya akses informasi yang luas, serta penurunan moralitas manusia. Sebagai dasar peradaban terkecil dalam Islam, keluarga memiliki peran penting dalam menghadapi tantangan ini. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana ketahanan keluarga dalam menghadapi tantangan tersebut perlu terus ada sebagai manifestasi keluarga yang memiliki kepribadian Islami.

Proses globalisasi secara alami memberikan tantangan di berbagai bidang kehidupan. pertemuanya dengan beragam budaya menciptakan interaksi yang bersifat heterogen dan memberikan dampak satu sama lain baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun dalam pondasi manusianya. Sebagaimana diungkapkan di teori konvergensi yang dikemukakan oleh William Strend dan dan teori, teori nativisme,bahwa individu dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal Oleh karena itu, penting untuk memiliki kemampuan selektif dalam menanggapi berbagai faktor eksternal dan internal yang muncul demi menjaga keberlangsungan diri. Hal yang paling mendasar untuk dipertimbangkan adalah unsur agama pada tingkat individu, yang berfungsi sebagai kemampuan selektif fundamental terhadap faktor eksternal, termasuk dalam konteks proses globalisasi tersebut.

Tantangan Globalisasi Kontemporer yang Tengah Dihadapi Masyarakat Indonesia Saat Ini

Globalisasi telah meruntuhkan sekat-sekat geografis di seluruh dunia. Bagi Indonesia, kemudahan arus informasi dan budaya luar ini membawa perubahan sosial yang sangat signifikan. Di satu sisi, teknologi menawarkan efisiensi, namun di sisi lain, ia membawa tantangan serius bagi tatanan sosial, moral, dan keluarga.

Empat tantangan utama globalisasi kontemporer yang tengah dihadapi masyarakat Indonesia saat ini:

1. Banjir Informasi dan Konten Negatif

Teknologi digital membuat informasi dapat diakses secara instan oleh siapa saja. Sayangnya, kebebasan ini juga membuka pintu bagi maraknya konten negatif, seperti pornografi, perjudian online, penipuan, hingga hoaks. Mirisnya, data menunjukkan bahwa kelompok usia produktif dan anak-anak menjadi korban utama dari kemudahan akses ini, salah satunya lewat kecanduan game online dan media sosial. Tanpa penyaringan yang ketat, ruang digital berpotensi merusak masa depan generasi muda.

2. Jebakan Gaya Hidup Konsumtivisme

Pengaruh iklan dan media sosial telah mengubah perilaku belanja masyarakat, baik di kota besar maupun di pedesaan. Masyarakat kini cenderung membeli barang bukan karena kebutuhan nyata (real need), melainkan demi gengsi atau kepuasan semu (felt need). Merujuk pada teori kritis Herbert Marcuse, fenomena ini menciptakan “kebutuhan palsu” dan perbudakan sukarela, di mana masyarakat konsumtif digerakkan oleh kepentingan investor besar demi keuntungan sepihak.

3. Degradasi Moral Generasi Bangsa

Arus globalisasi juga membawa nilai-nilai budaya asing yang sering kali berbenturan dengan identitas dan norma susila bangsa Indonesia. Fenomena seperti maraknya seks bebas di kalangan remaja, penyimpangan seksual, sikap individualis, dan hedonisme menjadi ancaman nyata. Jika dibiarkan, pergeseran budaya ini tidak hanya merusak moral individu, tetapi juga mengikis identitas nasional secara perlahan.

4. Pergeseran Fungsi Domestik dalam Keluarga

Tuntutan ekonomi dan emansipasi membuat banyak ibu kini aktif bekerja di ranah publik. Meski positif dari segi ekonomi, fenomena ini mengubah dinamika internal keluarga:

• Longgarnya Fungsi Kasih Sayang: Kurangnya waktu luang orang tua membuat anak kerap mencari pelarian pada gadget atau lingkungan luar.

• Pengalihan Pola Asuh: Peran pengawasan kini banyak diambil alih oleh jasa penitipan anak atau pengasuh.

• Budaya Serba Instan: Kehadiran makanan siap saji menggantikan peran memasak di rumah, yang secara tidak langsung membiasakan keluarga pada pola hidup serba instan.

Ketahanan keluarga dalam perspektif Islam

Keluarga adalah unit sosial yang paling awal dan terpenting yang memengaruhi karakter seorang anak. Oleh karena itu, karakter yang positif harus dibangun sejak kecil, sebab masa kanak-kanak adalah periode krusial dalam pengembangan karakter individu.

Dalam hal ini, keluarga tidak hanya bertindak sebagai penyedia kebutuhan primer, tetapi juga sebagai lingkungan pertama yang memberikan contoh, nilai-nilai, dan norma yang akan digunakan oleh anak. ketahanan keluarga menurut UU No.52 Tahun 2009 (Revisi UU No.10 Tahun 1992) adalah keadaan yang dinamis dalam keluarga, di mana terdapat ketahanan dan kemampuan yang tinggi serta dilengkapi dengan keterampilan fisik dan materi yang diperlukan untuk menjalani hidup secara mandiri.

Selain itu, juga melakukan pengembangan diri dan keluarga agar dapat hidup dengan harmonis dalam rangka meningkatkan kesejahteraan serta kebahagiaan secara lahiriah dan batiniah.

Berdasarkan penjelasan dari Majelis Ulama Indonesia, Ketahanan Keluarga merupakan kemampuan yang dimiliki keluarga untuk mengatasi berbagai masalah yang muncul dengan menggunakan sumber daya yang mereka miliki dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Hal ini mencakup tiga aspek utama yaitu ketahanan fisik, ketahanan sosial, dan ketahanan psikologis.

Peran Strategis Ketahan Keluarga Dalam Menghadapi Tantangan Globalisasi

Ditengah gempuran arus globalisasi, ketahanan keluarga menjadi benteng pertahanan paling krusial yang wajib diperkuat melalui dua pilar utama.Pilar pertama menempatkan keluarga sebagai madrasah utama untuk menanamkan nilai-nilai spiritual sejak dini, karena pondasi keimanan yang kokoh akan melahirkan individu yang kritis sekaligus protektif dalam menyaring dampak negatif teknologi serta budaya luar yang menyimpang dari agama. sementara itu,pilar kedua menekankan pentingnya keluarga berjalan sebagai sebuah sistem islam yang harmonis. di dalam lingkungan ini, ayah memegang kendali sebagai pemimpin sekaligus role model dalam menentukan arah ketahanan rumah tangga.sedangkan ibu berperan sebagai pengasuh yang bijaksana dalam pola asuh anak.peran yang seimbang ini termasuk keterlibatan figur pengganti seperti paman atau kakek saat struktur keluarga tidak untuk,efektif dalam menangkal kelonggaran pengawasan,perilaku konsumtif.oleh sebab itu, mempertahankan keutuhan pernikahan dan menekan angka perceraian menjadi kunci agar stabilitas emosional serta pengasuhan anak dapat berjalan optimal di tengah dinamika zaman.

kesimpulan

Proses globalisasi mempersembahkan empat tantangan utama bagi keluarga di Indonesia: limpahan informasi dan konten yang merugikan, pola hidup konsumtif, penurunan moral di kalangan generasi muda, serta perubahan dalam peran domestik keluarga akibat keterlibatan ibu dalam dunia kerja.

Dalam menghadapi segala tantangan ini, ketahanan keluarga menjadi aspek yang sangat krusial, terutama dalam pandangan Islam. Ketahanan tersebut dibangun di atas dua dasar utama:

1. Penanaman nilai-nilai spiritual sejak awal keluarga berperan sebagai “madrasah pertama” yang menetapkan dasar keimanan, sehingga anak-anak dapat tumbuh sebagai individu yang kritis dan mampu memilah pengaruh buruk dari lingkungan luar.

2. Struktur keluarga yang harmonis dan seimbang, ayah berfungsi sebagai pemimpin dan panutan, ibu sebagai pengasuh yang bijaksana, dan keduanya saling melengkapi (termasuk peran pengganti jika perlu).

Akhirnya, menjaga integritas pernikahan menjadi faktor penting agar keluarga tetap stabil secara emosional, sosial, dan spiritual di tengah perubahan zaman yang berlangsung dengan cepat.