Oleh Nayla Navisa
DEPOKPOS – Gen Z sering disebut sebagai generasi paling melek digital, paling adaptif, dan paling terbuka soal kesehatan mental. Namun dibalik citra itu, muncul satu fenomena yang makin sering dibicarakan: kelelahan mental atau burnout. Banyak anak muda merasa hidupnya seperti lomba tanpa garis finish—harus produktif, harus terlihat berhasil, harus cepat punya arah, dan harus selalu “baik-baik saja” di media sosial.
Apa Itu Burnout, Sebenarnya?
Penelitian dari Putri & Dudija (2024) yang dipublikasikan dalam International Research Journal menegaskan bahwa burnout adalah kondisi psikologis serius—bukan kelemahan karakter—yang berakar pada paparan stres berkepanjangan. Jika tidak ditangani, burnout dapat berujung pada depresi klinis, penurunan imunitas, hingga isolasi sosial.
Menurut WHO
Burnout adalah sindrom akibat stres kerja kronis, Tiga dimensi utama burnout adalah kelelahan emosional, perasaan negatif, dan berkurangnya efektivitas profesional.
Mengapa Gen-Z Paling Rentan?
1.Tekanan dari segala arah
Salah satu alasan utama Gen Z lebih rentan burnout adalah tingginya tuntutan untuk selalu produktif. Budaya hustle culture membuat banyak anak muda merasa bersalah kalau tidak sibuk, tidak membalas pesan cepat, atau tidak “naik level” dalam hidupnya. Dalam laporan populer tentang burnout Gen Z, tekanan produktivitas tinggi dan kaburnya work-life balance disebut sebagai faktor yang makin memperburuk kelelahan mental.
Di dunia kerja, masalahnya sering dimulai sejak awal karier. Gen Z masuk ke lingkungan kerja dengan harapan akan fleksibilitas, makna kerja, dan keseimbangan hidup, tetapi realitanya banyak yang langsung berhadapan dengan target tinggi, jam kerja panjang, dan ekspektasi performa yang besar. Kesenjangan antara harapan dan kenyataan ini membuat kelelahan emosional muncul lebih cepat.
2. Masa depan yang tidak pasti
Selain tekanan digital dan kerja, Gen Z juga hidup di tengah ketidakpastian ekonomi dan sosial yang besar. Biaya hidup naik, pasar kerja tidak stabil, dan jalur karier tidak lagi linear seperti generasi sebelumnya. Banyak anak muda merasa harus cepat sukses karena takut terlambat, padahal beban psikologis justru makin berat saat standar keberhasilan terus berubah.
Faktor ini membuat burnout bukan hanya urusan individu, tetapi juga urusan sistem. Ketika lingkungan kerja, pendidikan, dan budaya sosial sama-sama menuntut performa tinggi tanpa menyediakan ruang istirahat yang cukup, maka kelelahan menjadi sangat wajar. Dalam tinjauan sistematis, work-life balance terbukti berkorelasi negatif dengan burnout pada karyawan Generasi Z, artinya semakin baik keseimbangan kerja-hidup, semakin rendah resikonya.
3. Hidup di bawah layar
Gen Z adalah generasi yang tumbuh dengan internet, menjadikan smartphone dan media sosial bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Namun, penggunaan teknologi yang berlebihan dapat menyebabkan technostress, yaitu stres akibat tekanan untuk selalu responsif. Penelitian menunjukkan hubungan antara technostress, burnout, dan kesehatan mental, serta bahwa teknologi yang melewati batas kemampuan individu dapat menambah kelelahan. Media sosial memperburuk keadaan dengan mendorong perbandingan sosial yang terus-menerus, memicu FOMO, rasa tertinggal, dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Otak pun tidak pernah benar-benar beristirahat.
Kenapa terasa lebih cepat?
Gen Z tidak lebih “lemah” dari generasi lain; konteks hidup mereka berbeda. Mereka menghadapi banyak informasi, sedikit batas antara kerja dan waktu pribadi, serta tekanan untuk sukses, menyebabkan kelelahan yang lebih cepat dan intens. Mereka juga cenderung overthinking, butuh validasi, dan memiliki kesadaran diri tinggi.
Apa yang bisa membantu Gen-Z saat ini?
Solusi efektif untuk Gen Z adalah menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Langkah penting termasuk menjaga batas penggunaan teknologi, mengurangi perbandingan sosial, membangun rutinitas istirahat, dan meningkatkan komunikasi di tempat kerja. Kebijakan work-life balance juga penting untuk mengurangi risiko burnout. Gen Z perlu memahami bahwa istirahat bukan kemunduran.
