Realitas Mental Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi

oleh
oleh

Oleh: Dr. Retno Muninggar, S. Pi., M.E. (Dosen dan Pemerhati Generasi) 

DEPOKPOS – Sebuah survei yang bertajuk “Faktor yang Menyebabkan Gen Z Terkena Gangguan Mental”, dilaksanakan pada 10–12 Desember 2025 melalui kuesioner daring yang diakses menggunakan aplikasi mobile Jakpat, melibatkan 1.158 responden dari kalangan Gen Z. Sampel disusun berdasarkan proporsi pengguna internet di Indonesia, dengan margin of error di bawah 5%. Hasil survei menunjukkan bahwa kekhawatiran Gen Z terhadap masa depan menjadi pemicu utama gangguan mental, dengan proporsi mencapai 60%. Selain itu, tekanan finansial juga menjadi faktor signifikan 57%, diikuti oleh ekspektasi sosial 42% serta perasaan tidak berdaya terhadap situasi yang berada di luar kendali 36%. Hal ini menunjukkan adanya ketidakpastian yang besar terkait karier, stabilitas ekonomi, hingga kondisi global.

Selain itu, 62% responden mengaku merasakan berbagai gangguan seperti perubahan suasana hati atau mood swing , gangguan tidur seperti insomnia atau tidur berlebihan (50%). Selain itu, kecemasan berlebih (38%) dan kesulitan mengelola emosi (38%) juga menjadi tantangan yang kerap dihadapi. (data.goodstats.id, Ahmad Nabil Husein, 8 April 2026). Hasil penelitian tersebut makin membuktikan bahwa generasi yang lahir di era digital ini merupakan kelompok usia yang paling rentan mengalami kecemasan (anxiety), depresi, hingga gangguan kesehatan mental. Di Indonesia, fenomena tersebut juga tampak semakin nyata. Banyak anak muda mengaku merasa cemas menghadapi masa depan, kehilangan arah, bahkan mengalami burnout pada usia yang relatif muda.

Generasi Z kerap dicap sebagai generasi rapuh dan mudah mengeluh. Namun, anak-anak muda kelahiran 1997-2012 itu membalikkan stereotipe tersebut. Mereka mulai menunjukkan “taji” dengan melancarkan gelombang resistensi. Gen Z dikenal sebagai digital native. Internet dan kemajuan teknologi digital telah menemani kehidupan mereka sejak lahir. Yang paling mutakhir adalah melesatnya teknologi artificial intelligence atau kecerdasan buatan yang memengaruhi hampir semua lini kehidupan (www.kompas.id, Tatang Mulyana Sinaga, 25 Mei 2026).

Akan tetapi, justru Gen Z yang bergejolak merespons dampak yang ditimbulkan oleh AI. Mereka sadar betul, teknologi itu berpotensi merampas peluang kerja mereka karena digantikan oleh mesin. Di Amerika Serikat, para lulusan baru yang merupakan Gen Z ramai-ramai mencemooh adanya teknologi AI baru. Sorakan mereka menandai resistensi terhadap teknologi tersebut.

Di belahan bumi lainnya, Gen Z di India punya cara unik dalam mengekspresikan protes. Mereka bereaksi keras saat pejabat di negara itu membandingkan pemuda yang menganggur dengan kecoak. Anak-anak muda itu marah, tetapi tidak meluapkannya dengan emosi semata. Mereka melawan dengan lelucon di media sosial. Cockroach Janta Party (CJP) atau Partai Rakyat Kecoak mencuri perhatian rakyat India dalam sepekan terakhir. Akun partai parodi ini memiliki 22 juta pengikut di media sosial Instagram. Sebagai perbandingan, Bharatiya Janata Party (Partai Bharatiya Janata) yang berkuasa di India hanya memiliki 8,8 juta pengikut.

Gelombang resistensi Gen Z telah menjalar ke berbagai negara. Mereka melancarkan protes dengan berbagai cara. Dari cemoohan hingga lelucon menjadi ekspresi diri untuk mengingatkan bahwa suara mereka tak boleh lagi diabaikan. Di balik tingginya angka kecemasan yang dialami Generasi Z, sesungguhnya terdapat persoalan yang lebih mendasar, yakni lemahnya ri’ayah (pengurusan) negara terhadap generasi muda. Selama ini, kebijakan yang menyangkut pemuda lebih banyak berorientasi pada peningkatan keterampilan agar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Padahal, tantangan yang mereka hadapi jauh lebih kompleks: tekanan ekonomi, mahalnya pendidikan, sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak, krisis kesehatan mental, hingga derasnya arus budaya digital yang sering kali menggerus identitas dan nilai-nilai kehidupan. Berbagai persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan melalui program-program yang bersifat parsial.

Potensi besar yang dimiliki generasi muda sejatinya merupakan aset strategis bagi kebangkitan umat dan peradaban. Para pemuda adalah generasi pemimpin masa depan, di tangan merekalah estafet kepemimpinan akan diletakkan. Namun, potensi mereka sebagai pemuda dilemahkan oleh berbagai hal yang merusak jati diri melalui peradaban sekularistik kapitalistik. Melalui berbagai instrumen seperti industri hiburan yang berlebihan, budaya hedonisme, pornografi, dan game dengan konten kekerasan, tanpa disadari, mengikis jati diri pemuda Muslim.

Generasi muda membutuhkan ekosistem yang mampu memberikan rasa aman, harapan, sekaligus arah yang jelas bagi masa depan mereka. Ekosistem tersebut hanya ada pada sistem kehidupan yang menerapkan Islam secara kaffah. Islam sebagai solusi dari krisis yang melanda dunia hari ini, penerapannya akan mendatangkan Rahmatan lil Alamin. Kehadiran negara yang menerapkan syariat Islam akan mampu berperan sebagai pelindung dan pelayan umat, menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil. Penerapan Islam juga akan menyadarkan pemuda hari ini untuk mengemban mabda Islam, serta peduli terhadap kondisi umat. Agar masa depan emas bukan lagi sekadar angan-angan.