Demontrasi Berulang, Krisis tak Kunjung Hilang: Ada apa?

oleh
oleh

Oleh: Eulis Martini, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Gelombang demonstrasi kembali mengguncang berbagai kota di Indonesia. Ribuan mahasiswa dan elemen masyarakat turun ke jalan menyuarakan keresahan atas berbagai persoalan yang dirasakan rakyat, mulai dari meningkatnya biaya hidup, sulitnya lapangan pekerjaan, maraknya kasus korupsi, hingga berbagai kebijakan yang dianggap belum berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.

Fenomena ini menunjukkan masih terdapat persoalan mendasar yang dirasakan rakyat dan mendorong mereka untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka. Bagi seorang Muslim, kondisi seperti ini tidak boleh dipandang sekadar sebagai peristiwa politik biasa, melainkan sebagai bagian dari realitas kehidupan umat saat ini yang perlu dikaji dengan pandangan Islam.

Berbagai tuntutan yang muncul dalam aksi demonstrasi pada dasarnya berkaitan dengan persoalan kesejahteraan, keadilan, dan tata kelola pemerintahan saat ini yang jelas-jelas gagal. Banyak masyarakat merasa bahwa berbagai masalah yang terjadi tidak kunjung terselesaikan secara tuntas. Akibatnya, ketidakpuasan terus berulang dari waktu ke waktu.

Pergantian pejabat, perubahan kebijakan, bahkan pergantian pemerintahan sering kali belum mampu menghilangkan persoalan mendasar yang dihadapi rakyat. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah masalah yang terjadi hanya terletak pada individu yang menjalankan pemerintahan, atau ada persoalan yang lebih mendasar pada sistem yang diterapkan?

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk diam terhadap kemungkaran dan kezaliman, tapi melakukan amar makruf nahi munkar, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah an-Nisa ayat 135 yang artinya,”Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah…”

Allah SWT juga berfirman dalam surah Ali-Imran ayat 104 yang artinya, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR Muslim).

Karena itu, kepedulian terhadap urusan umat serta upaya menyampaikan kebenaran merupakan bagian dari keimanan seorang Muslim.

Islam pun memandang, berbagai problem kehidupan manusia muncul ketika petunjuk Allah SWT tidak dijadikan rujukan utama dalam mengatur kehidupan. Ketika urusan ekonomi, politik, pendidikan, sosial, dan pemerintahan dibangun berdasarkan pemikiran manusia yang lemah dan terbatas, berbagai persoalan akan terus bermunculan dan solusi yang lahir sering kali hanya menyentuh gejala, bukan akar masalah.

Allah SWT berfirman dalam surah Thaha ayat 124 yang artinya, “Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.” Ayat ini menunjukkan, menjauh dari petunjuk Allah akan melahirkan berbagai kesulitan dalam kehidupan manusia.

Maka, dalam pandangan Islam, negara memiliki peran penting sebagai pengurus urusan rakyat dan pelaksana hukum-hukum Allah. Negara tidak cukup hanya berfungsi sebagai regulator, tetapi wajib memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, menegakkan keadilan, menjaga keamanan, serta melindungi hak-hak rakyat.

Rasulullah SAW bersabda, “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya” (HR Bukhari dan Muslim). Karena itu, ketika berbagai persoalan seperti kemiskinan, korupsi, ketimpangan ekonomi, dan ketidakadilan terus terjadi, negara dituntut untuk menjalankan perannya secara optimal demi mewujudkan kemaslahatan masyarakat.

Oleh karena itu, Islam bukan hanya mengatur ibadah individu, tetapi juga memberikan panduan dalam urusan ekonomi, pendidikan, peradilan, pemerintahan, hingga hubungan antarmanusia. Allah SWT berfirman dalam surah al-Jatsiyah ayat 18 yang artinya, “Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syariat dari urusan itu, maka ikutilah syariat itu.”

Karena itu, penyelesaian problem umat tidak cukup dengan pergantian figur semata, tetapi memerlukan komitmen untuk menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Demonstrasi yang terus berulang ini tandanya banyak persoalan rakyat yang belum menemukan penyelesaian yang memuaskan. Ketika keluhan yang sama terus terdengar dari tahun ke tahun, umat patut bertanya, sampai kapan kebijakan yang tidak menyentuh akar masalah akan terus dipertahankan?

Allah SWT berfirman, “Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (TQS al-Maidah: 45).

Jika berbagai krisis terus berulang sementara penderitaan rakyat terus bertambah, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya pelaksana kebijakannya, tetapi juga arah dan paradigma sistem yang melahirkannya. Saatnya umat kembali menjadikan petunjuk Allah sebagai pedoman dalam mewujudkan keadilan dan kemaslahatan. Sebab kemuliaan umat tidak akan diraih kecuali dengan berpegang teguh kepada ajaran Islam.[]