Tinggal Scan, Transaksi Selesai: Apakah Tunai Akan Menghilang?

oleh
oleh

Oleh Dara Zulia, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang

DEPOKPOS – Beberapa tahun sebelumnya keluar rumah tanpa dompet mungkin terasa mustahil bagi kita. Tapi sekarang, banyak orang justru akan lebih panik ketika ponselnya tertinggal dibanding dompetnya. Membeli kopi, membayar parkir, bahkan sampai berbelanja di pasar tradisional pun sekarang bisa dilakukan hanya dengan memindai kode QR saja.

Dalam hitungan detik, transaksi selesai tanpa perlu menghitung uang kembalian atau mencari uang pecahan yang pas. Perubahan tersebut menimbulkan sebuah pertanyaan yang menarik: apakah uang tunai akan benar-benar menghilang di masa depan?

Bank Indonesia pertama kali meluncurkan QRIS pada 17 Agustus 2019, proses transaksi dengan alat pembayaran jenis ini semakin meluas, mudah dan efektif.

Bank Indonesia mencatat, nominal transaksi digital melalui QRIS mengalami pertumbuhan hingga 194,06 persen secara tahunan (year on year) pada April 2024. Pada periode Juli – September 2025, volume transaksi pembayaran digital mencapai 12,99 miliar transaksi atau tumbuh 38,08% (year on year).

Data dari Bank Indonesia tersebut menunjukkan bahwa penggunaan pembayaran digital terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan berkembangnya teknologi dan semakin luasnya akses internet.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin akrab dengan sistem pembayaran digital. Kehadiran QRIS, mobile banking, dan dompet digital telah mengubah cara masyarakat bertransaksi.

Pengguna utama didominasi oleh generasi Z dan Milenial yang lahir dan tumbuh dengan teknologi digital. Contoh kecil ungkapan generasi Z dan Milenial yang biasanya terjadi pada saat ingin melakukan pembayaran “Bisa pakai QRIS kak?”.

Bagi generasi ini, pembayaran digital bukan lagi hal yang baru, tapi bagian dari gaya hidup sehari-hari. Transaksi digital menawarkan kecepatan, kemudahan, dan efisiensi yang sulit ditandingi oleh uang tunai.

Namun, di sisi lain sebetulnya masih banyak masyarakat yang masih bergantung pada uang fisik dalam aktivitas sehari-hari. Contohnya kita sering kali melihat orang tua yang merasa bingung saat harus melakukan pembayaran melalui aplikasi atau memindai kode QR, biasanya ini terjadi pada generasi X dan Boomers, hal ini disebabkan karena generasi ini merupakan individu yang lambat dan belum fasih dalam mengadopsi teknologi baru.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perjalanan menuju masyarakat tanpa uang tunai mungkin tidak sesederhana yang dibayangkan.

Masa depan transaksi di Indonesia bukanlah tentang memilih antara uang tunai atau pembayaran digital, melainkan bagaimana keduanya bisa berjalan berdampingan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beragam.

Meskipun budaya “tinggal scan, transaksi selesai” semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, uang tunai tampaknya masih akan tetap memiliki tempat di tengah pesatnya transformasi digital.