Oleh : Adlina Rifka, Mahasiswa Fakultas Bisnis dan Ilmu Sosial , Prodi Kesejahteraan Sosial. Universitas Binawan
“Ah Cuma checkout sekali.”
“Biar nggak ketinggalan tren.”
“Nanti juga bisa dicicil.”
Kalimat-kalimat itu mungkin terdengar sepele. Tapi kalau makin sering muncul di kepala, bisa jadi kita sedang masuk ke siklus yang pelan-pelan menguras dompet sekaligus kesehatan mental. Dan dari sudut pandang kesejahteraan sosial, ini bukan cuma soal kebiasaan belanja individu, tapi soal bagaimana seseorang bisa (atau nggak bisa) menjalankan fungsi sosialnya sehari-hari dengan baik.
Perkembangan teknologi digital bikin hidup jadi serba praktis, apalagi buat generasi muda usia 18–35 tahun yang hampir setiap harinya nggak lepas dari gadget. Mau beli apa pun tinggal klik, pembayaran bisa dicicil pakai paylater, inspirasi gaya hidup datang tanpa henti dari media sosial, dan setiap hari rasanya ada tuntutan buat terus produktif. Sayangnya, kemudahan ini punya “harga” yang sering nggak kita sadari, dan kalau dibiarkan, bisa berkembang jadi masalah yang butuh perhatian serius, bukan cuma dari individu yang mengalaminya, tapi juga dari sistem pendukung di sekitarnya. Riset dari Lutfiyah dkk (2025) misalnya, menemukan kalau FoMO dan penggunaan paylater sama-sama berpengaruh signifikan terhadap perilaku belanja impulsif anak muda, sementara literasi keuangan justru jadi faktor yang menekan kecenderungan itu.
Paylater: Solusi atau Jebakan?
Paylater hadir sebagai penyelamat saat uang belum cukup. Tinggal klik, barang langsung datang, bayarnya belakangan. Konsepnya sendiri sebenarnya bagus, bikin akses konsumsi jadi lebih fleksibel dan terjangkau, apalagi buat kelompok yang sebelumnya sulit mengakses layanan keuangan formal.
Masalahnya, kemudahan ini sering bikin kita lupa kalau setiap transaksi itu tetap aja hutang. Ilmi dkk (2025) dalam penelitiannya soal BNPL dan perilaku belanja online di Indonesia menemukan kalau kemudahan akses kredit digital justru berkaitan dengan meningkatnya kecenderungan belanja impulsif, karena makin gampang aksesnya, makin kecil jeda buat mikir sebelum checkout. Hidayah dkk (2025) menambahkan, kombinasi FOMO dan pinjaman digital ini secara konsisten mendorong pembelian impulsif di kalangan Gen Z. Nggak cuma soal kebiasaan belanja, dampaknya bisa lebih luas dari itu. Yue dkk (2022) lewat studinya tentang digital finance menemukan bahwa kemudahan akses kredit digital memang meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pasar kredit, tapi di saat bersamaan juga menaikkan risiko rumah tangga terjebak dalam lingkaran utang alias debt trap. Yaitu kondisi yang, kalau dilihat dari kacamata kesejahteraan sosial, bisa jadi faktor risiko yang mengganggu stabilitas ekonomi dan psikologis seseorang dalam jangka panjang.
FOMO: Bukan Iri, Tapi Takut Tertinggal
Pernah merasa hidupmu “kurang” setelah lima menit scrolling media sosial? Itulah FOMO, singkatan dari Fear of Missing Out. Kita terus-terusan lihat teman liburan, nongkrong di kafe estetik, beli gadget baru, atau pamer pencapaian, sampai akhirnya muncul dorongan buat ikut mengejar semuanya meski sebenarnya nggak benar-benar butuh.
Rinonce dan Jannah (2025) dalam penelitiannya terhadap Gen Z menemukan bahwa FOMO punya pengaruh signifikan terhadap kecenderungan belanja impulsif. Semakin sering seseorang ngerasa “ketinggalan” dari tren atau gaya hidup orang lain, semakin besar juga dorongan buat belanja demi ngerasa “setara” secara sosial. Yang bikin makin rumit, kombinasi FOMO dan kemudahan paylater ternyata saling memperkuat. Lutfiyah dkk (2025) mencatat kalau ketika dua faktor ini digabung, kecenderungan konsumsi impulsif jadi jauh lebih tinggi dibanding kalau cuma salah satu yang muncul. Fenomena ini menarik untuk dilihat dari sisi kesejahteraan sosial, karena FOMO pada dasarnya adalah kebutuhan akan penerimaan dan validasi sosial yang nggak terpenuhi secara sehat—dan ketika kebutuhan itu dipenuhi lewat konsumsi instan, yang muncul justru siklus baru yang berpotensi merugikan.
Burnout: Saat Lelah Dianggap Normal
Di sisi lain, anak muda juga hidup dengan tekanan buat selalu produktif. Harus kuliah, kerja, ikut organisasi, bangun personal branding, punya side hustle, sampai tetap aktif di media sosial. Kalau semua itu terasa wajib dilakukan bareng-bareng, kapan istirahatnya?
Burnout bukan sekadar capek biasa. Ini kondisi kelelahan emosional, fisik, dan mental akibat stres yang berkepanjangan, dan dampaknya nggak cuma ke produktivitas—tapi juga ke kesehatan mental dan kualitas hubungan sosial. Dalam konteks kesejahteraan sosial, burnout jadi semacam alarm kalau seseorang lagi kehilangan keseimbangan dalam menjalankan fungsi sosialnya sehari-hari, entah itu di lingkungan keluarga, pertemanan, atau komunitas yang lebih luas. Ironisnya, kondisi ini sering dianggap wajar, bahkan kadang malah dijadiin “lambang” kerja keras, padahal ini justru sinyal bahwa dukungan sosial dan sistem yang ada di sekitar individu belum berfungsi dengan optimal.
Ketika Ketiganya Ketemu
Paylater, FOMO, dan burnout sebenarnya nggak berdiri sendiri-sendiri. Ketiganya saling nyambung dalam satu siklus yang jarang kita sadari, dan justru di titik inilah persoalan ini jadi relevan buat dibahas dari perspektif kesejahteraan sosial, bukan cuma soal perilaku individu, tapi soal bagaimana faktor psikologis, ekonomi, dan sosial saling berinteraksi dan memengaruhi kualitas hidup seseorang secara keseluruhan.
FOMO bikin kita pengen ngikutin gaya hidup orang lain. Paylater kasih jalan biar keinginan itu bisa langsung terwujud tanpa perlu mikir dua kali. Norman Noor dan Fatihat (2025) menemukan kalau kombinasi FOMO dan dorongan buat langsung dapat kepuasan (instant gratification) memang jadi salah satu faktor kuat yang mendorong anak muda pakai layanan BNPL (Buy Now Pay Later). Dari situ, tagihan mulai menumpuk, tekanan finansial meningkat, stres bertambah, dan lama-lama burnout pun datang menghampiri. Jadi ini bukan cuma soal “boros” atau “kurang kuat mental”, tapi emang ada pola psikologis dan sosial yang saling mendorong satu sama lain
Efeknya juga nggak berhenti di dompet doang. Ketika seseorang ngalamin FOMO, kebiasaan paylater yang nggak terkontrol, dan burnout secara bersamaan. Dalam perspektif kesejahteraan sosial, burnout bukan sekadar kelelahan bekerja. Kondisi ini dapat menurunkan kemampuan seseorang menjalankan fungsi sosialnya, seperti mempertahankan relasi yang sehat, memenuhi tanggung jawab akademik maupun pekerjaan, hingga berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika fungsi-fungsi tersebut mulai terganggu, kesejahteraan sosial individu pun ikut menurun.
Untungnya, ada jalan keluar yang cukup realistis: Lutfiyah dkk (2025) juga mencatat kalau literasi keuangan berperan penting dalam mengurangi dampak negatif dari FOMO dan penggunaan paylater. Artinya, makin paham seseorang soal cara ngatur uang, makin kecil juga kemungkinan dia kejebak dalam siklus ini. dan ini jadi salah satu bentuk pencegahan yang bisa didorong lewat edukasi, baik oleh individu, keluarga, kampus, maupun komunitas.
Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan?
Masalahnya bukan di teknologinya. Paylater sendiri bukan sesuatu yang salah. Yang jadi persoalan adalah ketika kemudahan itu dipakai tanpa kontrol diri. Yang perlu dibangun Adalah awareness, dan seberapa siap sistem dukungan di sekitar kita dalam membantu individu mengelola tekanan ini.
Mulai dari hal simpel: coba tanya ke diri sendiri sebelum belanja, aku beneran butuh, atau cuma takut ketinggalan? Literasi keuangan, kemampuan ngatur emosi, dan keberanian buat nggak selalu ikut tren jadi bekal penting biar nggak gampang kejebak dalam siklus konsumtif ini. Tapi di luar upaya individu, penting juga buat melihat ini sebagai isu bersama: peningkatan literasi keuangan, akses ke layanan konseling atau dukungan psikososial, serta lingkungan sosial yang lebih suportif dan nggak toxic soal validasi pencapaian, jadi bagian dari upaya menjaga kesejahteraan sosial generasi muda secara lebih luas.
Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat checkout, paling sibuk, atau paling keliatan sukses di media sosial. Kadang, keputusan paling bijak justru datang dari keberanian buat berhenti sejenak dan bilang, “Nggak semua hal harus aku ikuti.”
