Ambisi Israel Raya, Rampas Palestina, Rebut Masjid Al-Aqsa

oleh
oleh

Oleh Deti Kutsiya Dewi, S.Tr.Ak,M.S.Ak (Aktivis Dakwah)

Sejak Deklarasi Balfour dilaksanakan pada tahun 1917 yang memberikan dukungan untuk pembentukan “tanah air nasional bagi bangsa Yahudi“ di Palestina, Rakyat Palestina mulai mengalami penderitaan panjang yang tak berkesudahan. Hingga saat ini tahun 2026 entitas zionis terus memerangi Gaza tak peduli gencatan senjata. Berkali-kali gencatan senjata dilaksanakan, berkali-kali pula zionis melanggar aturan. Kini ⁠ribuan pemukiman di Tepi Barat terus diperluas demi merampas tanah Palestina hingga 70℅. ⁠

Mengutip laporan Metro TV News pada tanggal 5 Juni 2026, Abdullah al-Astal, seorang warga Palestina, mengatakan kepada Anadolu bahwa warga kini terjebak di area yang sangat sempit. Tidak ada lagi tempat untuk pergi. Orang-orang sudah terjebak di area yang sangat kecil”. Pengibaran bendera Israel di Masjid Al-Aqsa menjadi simbol penguasaan entitas zionis yang telah mengalahkan umat Islam. Demi mewujudkan ambisi membangun Israel Raya entitas zionis menghancurkan Gaza, memperluas pemukiman di Tepi Barat dan melakukan genosida. Apa yang dilakukan entitas zionis adalah kebiadaban, kekejaman, kejahatan kemanusiaan, dan kerusakan terbesar di muka bumi. Tak heran jika proyek ambisi ini terus berjalan karena penyokong utamanya adalah Sang Negeri Adidaya yaitu Amerika Serikat (AS), AS bahkan mengajak penguasa negeri-negeri muslim bersekongkol mendukung solusi dua negara yang jauh dari kata adil. ⁠

Penderitaan Palestina tak kunjung usai karena pengkhianatan penguasa muslim dan tidak adanya persatuan umat Islam. Sekitar 2 miliar jiwa muslim bertebaran di seluruh penjuru dunia diam tak berdaya, benarlah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda: “Hampir tiba suatu masa di mana bangsa-bangsa dan umat lain akan mengerumuni serta memperebutkan kalian, sebagaimana orang-orang yang makan mengerumuni piring hidangannya.” Seseorang lalu bertanya: “Apakah karena jumlah kami yang sedikit pada saat itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak, bahkan jumlah kalian pada saat itu sangat banyak. Namun, kalian bagaikan buih dan sampah yang terbawa oleh arus air hujan (banjir). Sungguh, Allah akan mencabut rasa takut dan segan terhadap kalian dari dalam dada musuh-musuh kalian, dan Allah akan menanamkan penyakit Wahn ke dalam hati kalian.” Seseorang kembali bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan penyakit Wahn itu?” Beliau menjawab: “Cinta kepada dunia dan takut (benci) terhadap kematian” (HR Ahmad dan Abu Daud).

Realitas hari ini seakan mengonfirmasi pesan dalam hadits tersebut. Ketika perpecahan masih mengakar dan tekanan datang dari berbagai penjuru, pertanyaan yang patut diajukan adalah: sampai kapan kondisi ini akan dibiarkan berlanjut, dan kapan persatuan menjadi agenda bersama yang diperjuangkan secara nyata? Sudah saatnya umat Islam bersatu untuk bangkit bersama. Ambisi Israel Raya harus dilawan dan ini membutuhkan kekuatan serta persatuan umat Islam dalam wujud nyata, yaitu sistem Islam yang disebut dengan Khilafah. Tegaknya Khilafah harus menjadi prioritas perjuangan umat Islam seluruh dunia, karena Khilafah adalah wujud persatuan umat Islam yang hakiki. Khilafah akan menghilangkan sekat nasionalisme antar negeri muslim dan menghentikan pengkhianatan para penguasa muslim. Khilafah bertanggung jawab mengirimkan tentara untuk membebaskan Palestina dan memerangi entitas zionis, sehingga penjajahan di muka bumi bisa terhapus dengan tuntas. Wallahu a’lam bissawab.