Oleh Nabila Syuraifa Hannan
Program Studi Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan dan Teknologi University Binawan
Latar Belakang: Anemia adalah masalah kesehatan dan gizi yang sering terjadi pada remaja, terutama remaja perempuan. Kondisi ini bisa menyebabkan tubuh lebih mudah sakit, mengganggu pertumbuhan dan perkembangan, serta membuat prestasi belajar menurun. Anemia pada remaja biasanya disebabkan oleh kurangnya zat besi, pola makan yang tidak seimbang, maupun faktor-faktor fisiologis seperti menstruasi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan kejadian anemia pada remaja usia 12 sampai 14 tahun di SMP Negeri 9 Semarang.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode tinjauan pustaka yang dilakukan di SMP Negeri 9 Semarang. Populasi penelitian adalah seluruh siswa yang berusia 12 sampai 14 tahun. Status gizi ditentukan berdasarkan pengukuran indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U) dengan cara mengukur berat badan dan tinggi badan. Kejadian anemia ditentukan dari kadar hemoglobin, di mana kondisi anemia terjadi apabila kadar hemoglobin kurang dari 12 gram per desiliter.
Hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara status gizi dan kejadian anemia. Namun, ditemukan hubungan antara asupan zat besi dengan kejadian anemia, di mana sebagian besar responden memiliki asupan zat besi di bawah kebutuhan harian.
Kesimpulan: Kejadian anemia pada remaja usia 12 sampai 14 tahun masih cukup tinggi, dan tidak berhubungan secara signifikan dengan status gizi berdasarkan IMT/U. Anemia pada remaja lebih dipengaruhi oleh kecukupan zat gizi mikro, khususnya zat besi.
Oleh karena itu, upaya pencegahan anemia perlu difokuskan pada peningkatan asupan zat besi serta edukasi gizi seimbang, terutama bagi remaja perempuan.
Anemia adalah kondisi di mana jumlah dan ukuran sel darah merah atau kadar hemoglobin berada di bawah nilai normal yang telah ditetapkan. Anemia menjadi indikator dari masalah gizi dan kesehatan yang kurang optimal. Fenomena ini di kalangan remaja dapat menghasilkan efek yang serius, dan sebagian besar disebabkan oleh defisiensi zat besi yang berkaitan erat dengan tingkat keparahan anemia tersebut. Anemia dapat menyebabkan penurunan kekebalan tubuh terhadap infeksi, kendala dalam pertumbuhan fisik serta perkembangan mental, dan juga mengurangi kondisi fisik, produktivitas, dan hasil belajar.
Anemia pada remaja perempuan dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia saat hamil. Hal ini akan berdampak buruk pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan, serta meningkatkan kemungkinan terjadinya berbagai komplikasi selama kehamilan dan proses persalinan. Faktor penyebab anemia pada remaja di antara lain adalah pola makan yang buruk, termasuk rendahnya asupan zat besi, asam folat, dan vitamin C, serta kondisi fisiologis menstruasi yang dialami pada masa remaja. Satu strategi pencegahan anemia pada remaja bertujuan untuk menginformasikan para remaja mengenai kebutuhan energi dan gizi mereka secara spesifik, termasuk zat besi, serta manfaat menjalankan pola hidup dan diet yang lebih sehat (Kusuma and Gizi).
Remaja perempuan memiliki risiko tinggi untuk mengembangkan anemia akibat kebutuhan nutrisi yang terkait dengan pertumbuhan yang cepat, kehilangan darah selama menstruasi, serta kurangnya asupan zat gizi dan zat besi yang memadai. Menurut panduan WHO, anemia pada anak diartikan sebagai ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah batas normal yaitu kurang dari 12 gram per desiliter. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya kadar oksigen di dalam jaringan atau merupakan kondisi medis yang ditandai dengan rendahnya jumlah sel darah merah sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan oksigen tubuh secaraoptimal.
Penyebab anemia bervariasi dan dapat meliputi defisiensi zat gizi seperti vitamin A, vitamin B12, asam folat, dan zat besi, serta peradangan yang berkepanjangan, infeksi parasit, dan juga kondisi bawaan sejak lahir. Anemia memiliki penyebab yang kompleks dan multifaktorial. Berbagai faktor biologis termasuk pola makan dan pertumbuhan fisik jelas terlibat dalam perkembangan anemia. Proses fisiologis (seperti kehamilan, siklus menstruasi, menyusui), gender, usia, dan etnisitas.
Anemia muncul akibat beberapa faktor, termasuk kekurangan nutrisi (zat besi, asam folat, vitamin B12, serta protein), perdarahan, dan hemolisis. Anemia juga berhubungan dengan kelompok tertentu seperti atlet, anak-anak, perempuan hamil, lanjut usia, dan individu dengan kondisi medis yang memengaruhi kadar zat besi (Rika Ariana).
Usia antara 12 hingga 14 tahun merupakan fase transisi dari remaja awal menuju remaja akhir, di mana individu berusaha menemukan jati diri mereka dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Kecemasan terkait dengan penampilan fisik mendorong remaja untuk menghindari makanan atau lebih memilih makan di luar.
Kebiasaan ini berpotensi menyebabkan remaja menghadapi masalah kekurangan pangan yang berdampak pada rendahnya asupan gizi dan meningkatkan risiko kesehatan, seperti anemia. Menurut Riskesdas 2007, terdapat prevalensi anemia di kalangan remaja berusia ≤14 tahun di Indonesia sebesar 12,8%. Dengan latar belakang tersebut, peneliti berkeinginan untuk mengeksplorasi hubungan antara status gizi dan insiden anemia pada remaja berusia 12 hingga 14 tahun. Penelitian ini direncanakan dilaksanakan di SMP Negeri 9 Semarang, mengingat sebelumnya belum ada penelitian serupa, sehingga dapat dijadikan referensi untuk studi lebih lanjut mengenai anemia (Nurazizah et al.).
Penelitian ini menggunakan literatur review , yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan kejadian anemia pada remaja usia 12–14 tahun. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 9 Semarang. Populasi penelitian adalah seluruh siswa remaja berusia 12–14 tahun, dengan sampel yang dipilih menggunakan teknik sampling tertentu (misalnya purposive atau random sampling) sesuai kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan. Data status gizi diperoleh melalui pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi badan) yang kemudian dihitung indeks massa tubuh (IMT) sesuai standar usia. Kejadian anemia ditentukan berdasarkan kadar hemoglobin, yang diukur menggunakan alat pemeriksaan Hb, dengan kriteria anemia apabila kadar hemoglobin <12 g/dL sesuai standar WHO. Data pendukung seperti pola makan, asupan zat besi, dan faktor menstruasi dikumpulkan melalui kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan bivariat untuk menganalisis hubungan antara status gizi dan kejadian anemia menggunakan uji statistik yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian remaja berusia 12–14 tahun di SMP Negeri 9 Semarang mengalami anemia, dengan kejadian yang lebih tinggi pada remaja perempuan dibandingkan remaja laki-laki. Remaja dengan status gizi kurang ditemukan memiliki proporsi anemia yang lebih besar dibandingkan dengan remaja yang memiliki status gizi normal.
Analisis hubungan menunjukkan adanya hubungan antara status gizi dan kejadian anemia, di mana status gizi yang kurang meningkatkan risiko terjadinya anemia pada remaja. Temuan ini menunjukkan bahwa status gizi berperan penting dalam kejadian anemia pada remaja. Pada masa pertumbuhan yang cepat, kebutuhan energi dan zat gizi, terutama zat besi, asam folat, vitamin B12, dan protein, meningkat secara signifikan. Apabila asupan zat gizi tersebut tidak mencukupi, maka proses pembentukan hemoglobin dan sel darah merah akan terganggu, sehingga meningkatkan risiko anemia. Kondisi ini diperparah pada remaja perempuan yang mengalami kehilangan darah selama menstruasi, sehingga kebutuhan zat besi menjadi lebih tinggi dibandingkan remaja laki-laki. Selain faktor biologis, faktor perilaku turut memengaruhi status gizi dan kejadian anemia. Remaja usia 12–14 tahun cenderung memperhatikan penampilan fisik dan sering membatasi konsumsi makanan atau memilih makanan siap saji yang rendah nilai gizi. Pola makan yang tidak seimbang ini dapat menyebabkan rendahnya asupan zat besi dan zat gizi pendukung lainnya, seperti vitamin C, yang berperan dalam penyerapan zat besi. Temuan ini sejalan dengan data Riskesdas yang menunjukkan masih tingginya prevalensi anemia pada remaja di Indonesia. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa anemia pada remaja bersifat multifaktorial, namun status gizi merupakan faktor yang memiliki peran penting dalam meningkatkan risiko anemia. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan yang berfokus pada perbaikan status gizi melalui edukasi gizi seimbang, peningkatan konsumsi makanan sumber zat besi, serta penerapan pola hidup sehat. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pihak sekolah dan tenaga kesehatan dalam merancang program pencegahan anemia pada remaja secara berkelanjutan. Status gizi adalah kondisi tubuh yang terjadi karena konsumsi, penyerapan, dan penggunaan zat gizi, atau kondisi fisiologis akibat ketersediaan zat gizi dalam tubuh. Dalam penelitian ini, sebagian besar subjek memiliki status gizi sangat kurus 1 orang (1,1%), kurus 3 orang (3,3%), normal 66 orang (73,3%), overweight 14 orang (15,6%), dan obesitas sebanyak 6 orang (6,7%). Beberapa faktor yang menyebabkan masalah gizi pada usia remaja seperti kebiasaan makan yang tidak sehat, pemahaman tentang gizi yang salah, di mana tubuh yang langsing menjadi idaman remaja sehingga kebutuhan gizi tidak terpenuhi, serta kesukaan terhadap makanan tertentu seperti makanan cepat saji (fast food). Berdasarkan hasil uji statistik, tidak ada hubungan bermakna antara status gizi dengan kejadian anemia (p > 0,05).
Hal ini disebabkan karena sebagian besar subjek termasuk dalam kategori status gizi normal. Status gizi berdasarkan indikator IMT/U lebih dipengaruhi oleh asupan zat gizi makro seperti karbohidrat, lemak, dan protein.
Karbohidrat, lemak, dan protein merupakan sumber energi terbesar bagi tubuh. Asupan energi yang kurang dari kebutuhan dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan penurunan status gizi. Jika asupan energi seimbang, maka dapat membantu menjaga status gizi normal. Namun, jika asupan energi berlebihan atau terjadi penurunan pengeluaran energi, berpotensi menyebabkan kegemukan. Asupan zat gizi mikro tidak mempengaruhi status gizi berdasarkan IMT/U karena memiliki kandungan energi yang sedikit. Jika terjadi kekurangan, biasanya sudah terjadi dalam jangka waktu yang lama. Dalam penelitian ini, asupan zat gizi mikro seperti vitamin C, vitamin B12, dan folat pada subjek sudah cukup baik. Hasil ini bertentangan dengan penelitian di Poliwali Mandar yang menyatakan bahwa ada hubungan antara status gizi dan terjadinya anemia pada remaja putri.
Semakin banyak remaja yang memiliki status gizi kurang, maka semakin tinggi jumlah remaja putri yang mengalami anemia. Status gizi pada remaja di Indonesia mencakup kurangnya asupan zat gizi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak, serta kurangnya zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral. Jika status gizi tidak normal, maka dikhawatirkan status zat besi juga tidak baik, sehingga dapat menyebabkan anemia.
Anemia adalah kondisi di mana jumlah hemoglobin dalam darah berada di bawah batas normal, sehingga tidak dapat menjalankan fungsinya membawa oksigen cukup ke jaringan tubuh.
Nilai batas normal kadar hemoglobin untuk remaja putri adalah kurang dari 12 gram per desiliter. Jumlah siswi yang mengalami anemia adalah 24 orang atau 26,7%. Anemia dapat terjadi karena gangguan pembentukan sel darah merah oleh sumsum tulang, kehilangan darah dari tubuh (perdarahan), penghancuran sel darah merah terlalu dini dalam tubuh (hemolisis), serta kurangnya asupan zat besi, vitamin C, vitamin B12, dan folat. Dari hasil uji regresi logistik diketahui bahwa ada hubungan antara asupan zat besi dengan anemia. Dilihat dari asupan zat besi, sebanyak 63,3% subyek termasuk dalam kategori kurang dari kebutuhan, yaitu 20 mg untuk usia 10-12 tahun dan 26 mg untuk usia 13-15 tahun. Hal ini terjadi karena siswi memiliki kebiasaan kurang mengkonsumsi makanan sumber zat besi yang mudah diserap (heme iron) seperti daging, ikan, dan unggas. Siswi lebih banyak mengkonsumsi makanan sumber zat besi non heme seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan.
Zat besi adalah komponen penting dalam hemoglobin.
Hemoglobin mengandung besi yang disebut hem dan protein globulin. Setiap molekul hemoglobin mengikat oksigen untuk diedarkan ke seluruh tubuh.
Pada remaja putri, kebutuhan akan besi yang tinggi terutama disebabkan oleh kehilangan zat besi selama menstruasi.
Beberapa faktor penyebab kurangnya konsumsi zat besi pada remaja adalah ketersediaan pangan, kurangnya pengetahuan, dan kebiasaan makan yang salah.
Asupan protein subyek tergolong dalam kategori cukup.
Asupan protein sebanyak 96,7% subyek mengkonsumsi ≥50 gram untuk usia 10-12 tahun dan ≥57 gram untuk usia 13-15 tahun.
Protein berperan penting dalam transportasi zat besi dalam tubuh.
Kurangnya asupan protein akan Menghambat transportasi zat besi dapat menyebabkan kekurangan zat besi. Penyerapan zat besi yang terjadi di usus halus didukung oleh protein pengangkut yaitu transferin dan feritin. Transferin membawa zat besi dalam bentuk ferro yang berfungsi mengangkut zat besi ke sumsum tulang untuk membentuk hemoglobin. Asupan vitamin C, vitamin B12, dan folat pada subyek juga cukup. Asupan vitamin C mencapai 95,6% subyek yang mengonsumsi ≥50 mg bagi usia 10-12 tahun dan ≥65 mg bagi usia 13-15 tahun. Sumber vitamin C yang sering dikonsumsi siswi antara lain jeruk, apel, mangga, dan pisang. Vitamin C berperan meningkatkan penyerapan zat besi. Asupan vitamin B12 mencapai 81,1% subyek yang mengonsumsi ≥1,8 µg untuk usia 10-12 tahun dan ≥2,4 µg untuk usia 13-15 tahun. Sumber vitamin B12 yang sering dikonsumsi subyek adalah telur dan susu. Asupan folat mencapai 53,3% subyek yang mengonsumsi ≥300 µg untuk usia 10-12 tahun dan ≥400 µg untuk usia 13-15 tahun. Sumber folat yang sering dikonsumsi subyek seperti sayur bayam, hati, buah, dan kacang, termasuk dalam kategori cukup. Vitamin B12 dan asam folat penting untuk sintesis DNA. Jika salah satu vitamin ini kurang, dapat mengganggu regenerasi sel dan menyebabkan anemia makrositik, di mana ukuran sel darah merah lebih besar dari normal (Nurazizah et al.)
bahwa kasus anemia pada remaja usia 12–14 tahun di SMP Negeri 9 Semarang masih tergolong tinggi, khususnya pada remaja perempuan. Meskipun sebagian besar responden memiliki status gizi normal berdasarkan indikator IMT/U, hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara status gizi dan kejadian anemia. Hal ini menunjukkan bahwa status gizi yang diukur melalui IMT/U lebih mencerminkan kecukupan zat gizi makro, bukan zat gizi mikro, terutama zat besi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa asupan zat besi berhubungan dengan kejadian anemia, karena sebagian besar responden memiliki asupan zat besi di bawah kebutuhan harian.
Rendahnya konsumsi sumber zat besi heme dan meningkatnya kebutuhan zat besi akibat menstruasi menjadi faktor utama terjadinya anemia pada remaja perempuan. Sementara itu, asupan protein, vitamin C, vitamin B12, dan folat pada sebagian besar responden tergolong cukup dan berperan dalam memperbaiki penyerapan serta metabolisme zat besi.
Oleh karena itu, anemia pada remaja bersifat kompleks dan tidak hanya dipengaruhi oleh status gizi secara umum, melainkan lebih dipengaruhi oleh kecukupan zat gizi mikro, terutama zat besi.
Untuk mencegah anemia, diperlukan upaya yang fokus pada peningkatan asupan zat besi melalui pendidikan gizi, perbaikan pola makan, serta pemilihan makanan yang mengandung zat besi mudah diserap, terutama bagi remaja perempuan.
