Oleh Kayla Tifani Djohar, mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof Dr. Hamka Jakarta.
DEPOKPOS – Perkembangan teknologi digital di era modern membawa perubahan yang cukup besar dalam kehidupan remaja Gen Z, khususnya dalam cara berinteraksi, mengakses informasi, serta mengalami dan mengekspresikan emosi. Media sosial yang dijalankan oleh sistem algoritma tidak hanya menampilkan konten sesuai minat pengguna, tetapi juga secara tidak langsung membentuk pengalaman emosional remaja melalui pola paparan yang terus-menerus berulang. Algoritma sendiri mempelajari perilaku pengguna dan cenderung memprioritaskan konten yang bisa membangkitkan reaksi emosional yang cukup kuat seperti kecemasan, iri, kemarahan, atau senang yang berlebihan. Pembahasan ini menunjukkan bahwa paparan algoritmik yang cukup intens dan berkelanjutan sangat berpotensi untuk meningkatkan reaktivitas emosional remaja, terutama apabila tidak diimbangi dengan kemampuan regulasi emosi yang cukup baik. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran digital dan penguatan literasi emosional menjadi langkah pertama yang sangat penting agar remaja mampu menggunakan media sosial secara lebih sehat dan seimbang.
Di era media sosial yang semakin maju ini, perkembangan media sosial di era digital tidak hanya menggubah pola komunikasi remaja saja tetapi juga mempengaruhi cara mereka merasakan dan mengelola emosi mereka sehari-hari. Remaja Gen Z sekarang ini tumbuh dalam lingkungan yang sudah dipengaruhi oleh sistem algoritma di media sosial seperti sistem yang secara otomatis menyaring dan menampilkan konten-konten yang sering mereka lihat secara berulang-ulang dan juga berdasar perilaku mereka sehari-hari. Kondisi seperti inilah yang menjadikan pengalaman pertama untuk emosional remaja, karna mereka tidak sepenuhnya terbentuk secara alami melainkan sudah diarahkan langsung dari sistem teknologi (Wulandari et al., 2022)
Ada beberapa sumber yang menunjukkan bahwa media sosial sendiri punya dua sisi dalam perkembangan emosi remaja Gen Z. di satu sisi dikatakan bahwa media sosial sendiri bisa menjadi ruang yang cukup aman untuk remaja mengekspresikan diri mereka dan mendapat dukungan emosional juga, namun di sisi lainnya juga media sosial ini bisa menjadi hal yang buruk yang Dimana sangat berpotensi memicu ketenangan emosional apabila tidak menggunakannya secara berlebihan tanpa kemampuan regulasi emosi yang cukup baik (Arini & Nur, 2023). Oleh karna itu, hubunan antara algoritma di media sosial, emosi serta regulasi emosi pada remaja Gen Z ini masih menjadi topik hangat yang sangat penting untuk dikaji secara kritis.
Hubungan antara algoritma media sosial dan emosional remaja
Algortima media sosial bekerja di belakang layar dengan cara mengidentifikasi apa yang sering remaja ‘’suka’’ lewat interaksi digital mereka seperti seberapa sering mereka menonton konten secara berulang-ulang, menyukai postingan seperti apa, dan konten seperti apa yang sering dibagikan. Sistem algoritma ini cenderung sangat prioritaskan konten yang bisa memicu reaksi emosional yang sangat kuat karna dinilai bisa meningkatkan keterlibatan dengan remaja. Akibatnya dari itu, remaja lebih sering terkena konten yang bisa memancing emosi mereka yang tertentu baik itu secara positif atau negative (Fajarini et al., 2025).
Dari data-data yang sering di dapat tentang filter bubble dan echo chamber menunjukkan bahwasannya algoritma ini bisa menciptakan ruang digital yang aman dimana di dalamnya emosi bisa tidak seimbang. Remaja-remaja yang sering berinterksi dengan konten-konten yang bernuansa sedih, Bahagia, atau emosional akan bisa terus-terusan menerima konten yang serupa berulang-ulang, sehingga pengalaman emosional yang mereka rasakan bisa menjadi semakin bertambah dan sulit untuk di control (Fajarini et al., 2025). Akibat dari remaja yang sering terkena konten yang bersifat negatif membuat perasaan mereka dan memperluas pengalaman emosional mereka secara terus-terusan sementara konten dengan edukasi yang baik atau yang netral justru sangat jarang muncul di berandanya.
Intensitas penggunaan media sosial dan regulasi emosi
Pada masa remaja merupaka fase Dimana mengalami perkembangan emosi yang masih berada ditahap susah untuk mengonrol emosinya sendiri sehingga dengan paparan yang terus-menerus berulang-ulang kali membuat emosional mereka bisa memberikan pengaruh yang cukup signifikan akan kemampuan mengelola emosi mereka sendiri. Penggunaan media sosial juga yang tidak bisa di kontrol bisa berpotensi sangat menganggu proses pembentukan regulasi remaja, karena seseorang yang sudah terbiasa dengan menerima rangsangan emosional yang instan tanpa proses refleksi yang cukup baik bisa menyebabkan mereka susah untuk mengenali emosi mereka sendiri secara mendalam (Aini, 2021).
Intensitas penggunaan media sosial sekarang menjadi sangat banyak salah faktor yang paling penting dalam kemampuan regulasi emosi remaja juga meningkat. Aktivitas scrolling yang terus-menerus dilakukan dapat mempengaruhi suasana hati mereka sangat cepat, terutama Ketika remaja yang sering terkena konten yang memancing sisi emosional mereka tanpa jeda refleksi. Kondisi seperti inilah yang sering membuat remaja lebih aktif secara emosional dan sulit untuk mengelola perasaan negative yang muncul (Arini & Nur, 2023).
Kesimpulan dari ini juga sejalan dengan pendapat dari (Wulandari et al., 2022) Dimana mereka juga menjelaskan bahwa remaja yang sering memakai media sosial yang tidak terkontrol berhubungan dengan turunnya kemampuan regulasi emosi remaja. Remaja yang lebih sering menggunakan media sosial seperti tiktok, Instagram, twiter, youtube mereka lebih cenderung menjadi anak yang cukup implusif dalam mengekspresikan emosi mereka serta kurang bisa tenangin diri mereka Ketika menghadapi tekanan psikologis.
Regulasi emosi pada remaja gen z di lingkungan sosial
Ada satu studi eksploratif pada remaja gen Z di Mojokerto, Dimana mereka menunjukkan bahwa masih banyak anak-anak remaja yang menggunakan media sosial sebagai tempat pelarian dari masalah emosional yang sedang mereka hadapi di dunia nyata. Strategi yang mereka gunakan ini cukup membantu mereka mendapatkan kenyamanan yang sementara namun tidak selalu bisa membantu remaja untuk memahai sumber emosi yang mereka rasakan secara lebih dalam (Pratama & Jannah, 2024). Selain itu, lingkungan sekitar seperti lingkungan keluarga, sekolah, dan pertemanan juga cukup mempengaruhi remaja untuk mengelola emosi mereka. Remaja yang kurang mendapatkan dukungan dari keluarga biasanya mereka cenderung lebih sering bergantung di media sosial sebagai tempat yang bisa memberika mereka kenyamanan akan validasi emosionalnya, sehingga proses regulasi emosi yang didapat jadi kurang adaptif (Pratama & Jannah, 2024)
Interaksi antara lingkungan sosialremaja Gen Z seperti circle pertemanan, keluarga dan juga organisasi di sekolah sangat berperan penting dalam membentuk regulasi emosi remaja sehari-hari. Interaksi yang dilakukan sehari di lingkungan-lingkungan tersebut bisa menjai sumber utama untuk dorongan emosional remaja dan menjadi tantangan bagaimana mereka bisa menenangkan diri mereka, memberi tahu apa yang sedang dirasakan atau menanggapi permasalahan yang interpersonal. Dengan ini regulasi emosi pada gen z tidak hanya berasal dari proses yang internal secara sendiri tetapi juga menjadi satu pembahasan sosial yang bisa mereka tumbuh kembangkan, serta lingkungan sekolah dan keluarga yang mendukung Kesehatan mental remaja secara produktif bisa memperkuat kemampuan remaja untuk memahami dan mengelola perasaan mereka secara sehat. Sebaliknya, kalau mereka kurang dukungan dari lingkungan keluarga dan sekolah bisa tambah memperburuk regulasi emosi yang mereka sedang hadapin (Lia & Iswinarti, 2025)
Dampak dari algoritma terhadap regulasi emosi
Paparan algoritmik yang cukup intens bisa berdampak pada kestabilan emosional remaja. Seperti yang kita tahu, bahwasannya banyak ‘’quotes sedih’’di media sosial salah satunya tiktok Dimana dalam quotes tersebut menunjukkan bahwa algoritma lebih cenderung memperkuat distribusinya di konten tersebut Dimana itu mengandung emosional berdasarkan dari interaksi yang dimulai sama penggunanya. Remaja yang sering berada dalam situasi tersebut biasanya kondisi emosionalnya mudah untuk terpengaruhi konten yang bernuansa kesedihan tersebut (Aini, 2021). Dampak dari kondisi seperti ini biasanya bisa meningkatkan kelelahan emosionalnya, cemas yang sangat berlebihan, serta kesulitan dalam mengelola stress. Hal ini sangat memperkuat kesimpulan bahwa media sosial bukan hanya bisa mempengaruhi emosi yang sesaat saja tetapi juga bisa berkontribusi pada Kesehatan mental remaja secara keseluruhan (Siregar & Mesra, 2025).
(Anugrah, 2024) juga menjelaskan bahwa tanpa adanya etika dan literasi di dunia digital yang cukup baik, bisa membuat remaja lebih mudah untuk kehilangan kemampuan dalam jati dirinya untuk mengatur emosi mereka secara mandiri karna bentuk emosi yang mereka bentuk sudah terlalu bergantung pada stimulus di media sosial.
Tantangan regulasi emosi pada remaja Gen Z di era modern
Di era digital yang serba cepat, remaja Gen Z dihadapkan pada tantangan besar dalam mengelola emosi mereka. Aktivitas di dunia digital yang berlangsung hampir sepanjang hari,waktu dan menit membuat remaja terus menerima rangsangan emosional dari berbagai arah. Kondisi ini dapat mengganggu proses alami remaja dalam mengenali dan mengendalikan perasaan, karena emosi sering kali muncul secara tiba-tiba tanpa kesempatan untuk dipahami terlebih dahulu. Akibatnya, remaja menjadi lebih mudah bereaksi secara spontan dibandingkan menenangkan diri mereka secara lebih sadar. Tekanan emosional juga semakin meningkat akibat adanya budaya perbandingan sosial yang kuat di media sosial. Remaja kerap melihat potongan kehidupan orang lain yang tampak lebih baik,lebih sempurna, lebih bahagia, atau lebih ideal. Situasi ini mendorong munculnya perasaan tidak puas terhadap diri mereka sendiri, kecemasan, serta turunnya rasa percayaan diri. Ketika remaja belum cukup memiliki keterampilan regulasi emosi yang baik, paparan terhadap standar sosial yang tidak realistis ini dapat memperparah ketidakstabilan emosi (Wulandari et al.,2022)
Selain itu, perkembangan emosi yang belum cukup matang bisa membuat remaja lebih rentan terhadap konten emosional yang cukup intens. Tanpa keterampilanregulasi yang cukup baik remaja bisa dapat mengalami kesulitan saat mengontrol perasaan sedih, cemas, Bahagia atau frustasi yang muncul akibat dari konten yang berulang-ulang di media sosial bisa menjadi sebuauh tantangan karna respons emosional yangmereka alami sudah digerakkan dengan dorongan digital yang sudah sering mereka lihat secara berulang kali (Lia & Iswinarti, 2025).
Strategi penguatan regulasi yang bisa mengkontrol emosi di era algoritma
Penguatan akan kemampuan regulasi emosi pada remaja di tengah banyaknya platform digital yang cukup banyak, hanya perlu pendekatan yang holistik dan adaptif. Di era algoritma ini emosi pada remaja sering kali mudah untuk dipengaruhi oleh konten-konten yang ditampilkan langsung oleh sistem, remaja yang mudah alami kecemasan, emosional dan memiliki mood yang gampang berubah-ubah dikarenakan karna algoritma tersebut. Strategi regulasi emosi yang cukup efektif dengan cara paham akan pengetahuan erosional, keterampilan dalam pengendalian yang internal dan memanfaatkan media sosial dengan cara literasi dengan baik. Selain itu interaksi di lingkungan sosial juga bisa membantu remaja agar lebih positif dan supportif Dimana bisa memperkuat rasa keterkaitan emosional dan memberikan pemahaman pada remaja bagaimana mereka bisa melawan tekanan algoritmik dengan bertahap serta bersifat isolative atau memancing perbandingan sosial yang sudah tidak sehat (Fitriyani & Iskandar, 2025).
Dari sudut pandang psikologi, kemampuan akan regulasi emosi bisa menjadi sebuah keterampilan psikologis yang semakin krusial, terutama pada fase remaja dan tahap dewasa awal Dimana mereka hidup dalam sebuah arus informasi digital yang berjalan tanpa henti. Dalam situasi seperti ini regulasi emosi tidak hanya cukup untuk dimengerti sebagai kemampuan untuk menahan sebuah perasaan saja tetapi juga sebagai proses aktif yang terus berjalan untuk mengenali, mengelola dan merespons emosi secara adaptif di tengah tekanan digital yang terus bertambah sepanjang waktu. Salah satu strategi yang utama dalam menguatkan regulasi emosi Adalah peningkatan kesadaran emosi pada remaja, Dimana mereka perlu dilatih untuk mengenal emosi yang sering muncul saat mereka berinteraksi dengan konten di media sosial termasuk memahami penyebab emosional mereka yang berasal dari algoritma (Jaro et al., 2023).
Perkembangan media sosial berbasis algoritma telah membawa pengaruh yang nyata terhadap kehidupan emosional remaja Gen Z. Algoritma tidak lagi hanya berfungsi sebagai sistem penyalur informasi atau hiburan, tetapi juga secara tidak langsung ikut membentuk suasana hati, cara berpikir, dan respons emosional remaja melalui pemilihan konten yang terus disesuaikan dengan perilaku pengguna. Paparan konten yang berulang dan sarat muatan emosional membuat remaja lebih mudah terpengaruh, terutama ketika kemampuan regulasi emosi mereka masih berada dalam tahap perkembangan. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi remaja Gen Z, karena emosi yang dipicu dari luar, seperti dari media sosial, sering kali lebih dominan dibandingkan kemampuan internal untuk mengelola perasaan secara mandiri. Ketergantungan pada validasi digital, perbandingan sosial yang tidak sehat, serta arus informasi yang tidak pernah berhenti berpotensi menurunkan kesejahteraan psikologis apabila tidak disertai dengan keterampilan regulasi emosi yang memadai. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk membantu remaja menghadapi realitas digital ini secara lebih sehat. Penguatan literasi digital yang disertai pemahaman emosi, dukungan dari keluarga dan lingkungan pendidikan, serta pengembangan keterampilan regulasi emosi seperti refleksi diri dan kesadaran penuh menjadi langkah penting agar remaja dapat tetap menggunakan media sosial secara bijak tanpa mengorbankan kesehatan mental mereka.
