Animasi di Era Ai: Antara Efisiensi Ala Toei dan Idealisme Ala Ghibli

oleh
oleh

Oleh Muhammad Sakti Bagaskara. Mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Pamulang

DEPOKPOS – Industri anime Jepang kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, Toei Animation studio legendaris di balik pembuatan One Piece, Digimon, Saint Seiya, Dragon Ball, dan Sailor Moon mulai membuka diri terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk proses produksi animasi ke depan.

Di sisi lain, Studio Ghibli justru dikenal tegas menolak penggunaan AI dalam proses kreatif mereka.

Perbedaan sikap ini menimbulkan pertanyaan besar: ke mana arah masa depan industri anime?

Rencana Toei Animation Mengandalkan AI dalam Produksi Anime

Toei Animation secara resmi memasukkan rencana penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam laporan keuangan mereka untuk tahun fiskal 2025.

Dalam dokumen tersebut, Hal ini mencakup berbagai tahap produksi seperti storyboard, coloring, animasi in-between, line drawing correction dan background generation from photos yang bisa dibantu oleh teknologi AI.

Manajemen Toei menyebut langkah ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga kualitas produksi.

“Kami akan berupaya untuk mengembangkan peluang bisnis baru dan meningkatkan efisiensi serta kualitas produksi, memanfaatkan sinergi antara teknologi produksi AI dan animasi,” demikian bunyi pernyataan dalam laporan bisnis Toei.

Selain itu, Toei Animation bahkan telah berinvestasi pada perusahaan teknologi Jepang Preferred Networks, yang dikenal memiliki kemampuan AI tingkat tinggi.

Kerja sama ini direncanakan untuk mempercepat integrasi teknologi baru ke dalam alur kerja mereka di produksi animasi Toei di masa depan.

Meski demikian, Toei menegaskan bahwa penggunaan teknologi AI saat ini masih bersifat eksploratif dan belum diterapkan secara luas. Perusahaan juga menekankan bahwa AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran manusia sepenuhnya dalam proses produksi animasi.

Langkah ini dipandang sebagai respons atas tekanan yang dihadapi industri anime Jepang, yang terus berkembang namun dibayangi berbagai tantangan, mulai dari jadwal produksi yang semakin ketat hingga keterbatasan jumlah animator berpengalaman.

Menurut data industri, Jepang memproduksi sekitar 300 judul anime televisi setiap tahun. Angka tersebut tergolong sangat tinggi dan menuntut efisiensi dalam alur kerja produksi visual. Kondisi inilah yang kerap disebut sebagai salah satu faktor pendorong ketertarikan studio-studio besar terhadap pemanfaatan teknologi AI.

Studio Ghibli: Seni Harus Tetap Manusiawi

Berbanding terbalik dengan langkah Toei, Studio Ghibli mengambil posisi yang jauh lebih konservatif terhadap AI. Studio ini secara terbuka meminta agar karya mereka tidak digunakan untuk melatih model AI tanpa izin, sebagai bentuk perlindungan terhadap hak cipta dan nilai seni.

Penolakan ini sejalan dengan pandangan pendirinya, Hayao Miyazaki, yang sejak lama mengkritik penggunaan AI dalam seni dan animasi.

Dalam sebuah dokumentasi internal Studio Ghibli pada 2016, Hayao Miyazaki pernah diperlihatkan demo animasi yang dihasilkan oleh AI. Reaksinya kala itu menjadi salah satu kutipan paling terkenal dalam perdebatan seni dan teknologi. Miyazaki menyebut animasi tersebut sebagai “an insult to life itself” (penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri).

Menurut Miyazaki, seni terutama animasi lahir dari pengalaman hidup, empati, dan rasa kemanusiaan. Proses menggambar secara manual bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan cara manusia menuangkan perasaan dan pemahamannya terhadap dunia. Hal-hal tersebut, baginya, tidak bisa direplikasi oleh algoritma.

Pandangan ini menjelaskan mengapa Studio Ghibli tetap mempertahankan metode animasi tradisional dan sangat berhati-hati terhadap otomatisasi. Bagi Miyazaki, hasil akhir yang indah tidak cukup jika prosesnya kehilangan jiwa.

Fun fact, sebelum mendirikan Studio Ghibli dan dikenal sebagai simbol animasi yang humanis, Hayao Miyazaki ternyata pernah mengawali kariernya di Toei Animation. Ia terlibat sebagai animator dalam sejumlah proyek pada era 1960-an, ketika industri anime Jepang masih berada dalam tahap awal perkembangan dan sangat bergantung pada sistem studio besar.

Efisiensi vs Nilai Seni

Pemanfaatan AI dalam industri animasi muncul dari tuntutan efisiensi akibat jadwal produksi yang ketat, biaya tinggi, dan keterbatasan tenaga animator, sehingga langkah Toei Animation dapat dipahami sebagai strategi bertahan di tengah tekanan industri.

Namun, di sisi lain, penolakan Hayao Miyazaki dan Studio Ghibli menyoroti kekhawatiran bahwa penggunaan AI berisiko menghilangkan sentuhan manusia dalam animasi, yang selama ini lahir dari pengalaman, emosi, dan imajinasi pembuatnya.

Perbedaan sikap ini menunjukkan bahwa perdebatan AI di dunia anime bukan sekadar soal teknologi, melainkan pilihan nilai yang akan menentukan arah dan wajah anime di masa depan.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi seperti AI memang tidak bisa sepenuhnya dihindari oleh industri animasi global. Namun, pilihan tentang sejauh mana teknologi digunakan dan nilai apa yang ingin dipertahankan akan sangat menentukan apakah anime tetap menjadi medium seni yang hidup dan bermakna, atau berubah menjadi sekadar produk visual yang mengejar kecepatan dan efisiensi.

“Teknologi dapat membantu proses kreatif, tetapi makna seni tetap ditentukan oleh manusia di baliknya.”