Bukan Lagi Investasi “Auto Cuan”, Mengapa Properti Mulai Ditinggalkan Anak Muda?

oleh
oleh

DEPOKPOS – Dulu, ada sebuah “mantra” yang diamini hampir semua orang tua kita: kalau punya uang dingin, segera belikan tanah atau rumah. Katanya, harga properti tidak pernah turun dan pasti untung besar saat di jual kembali. Properti dianggap sebagai instrumen investasi paling aman dan menjanjikan sepanjang masa.

Namun, kalau kita melihat realita dilapangan hari ini, mantra itu sepertinya mulai kehilangan kesaktiannya, Di platform jual-beli properti,kita makin sering melihat iklan dengan label “Jual Cepat”, “BU (Butuh Uang)”, hingga “Turun Harga”. Mirisnya, meski harga sudah dikoreksi, calon pembeli tak kunjung datang.

Mengapa industri yang dulu jadi primadona  namun sekarang mulai terasa lesu, terutama dimata generasi muda?

Daya Beli Yang Tidak Sebanding dengan Harga Masalah utama tentu saja soal angka. Kenaikan gaji rata-rata karyawan dikota besar rasanya seperti sedang balapan lari melawan kenaikan harga rumah dan kita tahu siapa pemenangnya. Properti dilokasi strategis sudah menyentuh angka miliaran, sementara yang harganya “masuk akal” lokasinya sudah hampir menyentuh ujung kabupaten. Bagi Milenial dan Gen Z, mencicik rumah selama 20 tahun dilokasi yang jauh dari tempat kerja bukan lagi sebuah pencapaian, melainkan beban mental.

Pergeseran Mindset Investasi Anak muda zaman sekarang lebih melek literasi keuangan dibanding generasi sebelumnya. Mereka mulai sadar bahwa properti adalah aset yang tidak likuid alias susah dijual cepat. Di saat mereka butuh uang darurat, rumah tidak bisa dijual dalam waktu semalam. Bandingkan dengan saham, reksa dana, atau emas yang hanya butuh beberapa klik di ponsel untuk dicairkan. Bagi mereka, fleksibilitas adalah segalanya.

Fenomena Apartemen yang Tak Lagi Seksi Dulu, apartemen di tengah kota digadang-gadang sebagai gaya hidup masa depan. Namun, biaya service charge yang tinggi, aturan yang ketat, serta status kepemilikan yang bukan hak milik tanah membuat banyak orang mulai berpikir dua kali. Investasi apartemen yang dulunya diharapkan menghasilkan passive income dari sewa, kini justru sering kali “nombok” karena biaya perawatan lebih besar daripada uang sewa yang didapat.

Gaya Hidup vs Cicilan Kita juga tidak bisa menutup mata bahwa ada pergeseran prioritas. Generasi sekarang lebih menghargai pengalaman atau experience. Uang yang seharusnya digunakan untuk DP rumah sering kali dialokasikan untuk pendidikan, traveling, atau pengembangan diri. Mereka tidak mau terjebak dalam cicilan puluhan tahun yang membuat mereka tidak bisa bergerak bebas mengejar karier di tempat lain.

Industri properti memang tidak akan mati, karena semua orang butuh tempat tinggal. Namun, sebagai instrumen investasi, pesonanya jelas memudar. Investor tidak lagi bisa asal beli lalu berharap harga naik dua kali lipat dalam sekejap.

Di titik ini, para pemain industri properti terutama developer harus mulai sadar. Jika tidak ada inovasi harga atau kemudahan akses yang nyata, jangan kaget jika ke depannya rumah hanya akan menjadi kebutuhan pokok yang sulit terbeli, bukan lagi ladang investasi yang dicari-cari.

Yorita Amilia