Haji dan Perubahan

oleh
oleh

Oleh: Ayyuhanna Widowati. S.E.I., Guru di Depok

Di bulan Dzulhijjah, jutaan jemaah haji dari berbagai penjuru dunia tiba di tanah suci. Meski ibadah haji memerlukan kesiapan fisik dan dana yang besar, minat umat Islam termasuk di tanah air untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci tidak pernah surut dan selalu berharap bisa berangkat ke baitullah.

Kita menyaksikan betapa para calon jemaah haji menyambut bulan haji dengan penuh semangat dan gembira. Begitu pun dengan sanak keluarga dan saudara yang ditinggalkan memberikan dorongan semangat. Dengan senang hati, ikhlas, dan gembira melepas keberangkatan para jemaah haji.

Sejatinya ibadah haji telah mengajarkan kita spirit melaksanakan salah satu syariah Allah ini dengan penuh keikhlasan, semangat, merasa ringan, dan riang gembira. Dan Rasul SAW telah meneladani praktik ibadah haji yang wajib diikutii oleh semua kaum Muslim yang berhaji, sesuai dengan hadits Rasul SAW yang diriwayatkan al-Baihaqi yang artinya ‘’Ambillah dariku manasik (tata cara) ibadah haji kalian.’’Sesungguhnya ibadah haji mengajarkan kita ketaatan secara total kepada Allah SWT. Mencium hajar aswad misalnya, dilakukan tidak lain semata-mata sebagai bukti ketaatan dan ketundukan kita dalam memenuhi seruan Allah sekaligus meneladani Rasulullah. Kita masih ingat bagaimana ucapan saat Umar bin al Khathab hendak mencium Hajar Aswad saat menunaikan ibadah haji, “Sungguh, aku tahu, engkau hanya sebongkah batu hitam, yang tidak bisa mendatangkan manfaat atau mudharat. Andai saja aku tidak melihat Rasulullah menciummu, pasti aku tidak akan sudi menciummu.’’

Begitulah sikap Umar, sebagaimana sikap jemaah haji lainnya. Mereka taat, patuh, dan tunduk menjalankan semua rangkaian kegiatan dalam ibadah haji. Mereka tidak pernah mempertanyakan apalagi memprotes, mengapa dalam ibadah haji begini atau harus begitu. Yang ada dalam pikiran mereka hanya satu, bagaimana menjalani semua ketetapan Allah SWT dan Rasul-Nya dalam ibadah haji dengan sebaik-baiknya dengan penuh keikhlasan, ketundukan, kepasrahan, dan kehati-hatian karena khawatir ibadah hajinya tidak mabrur (diterima), tanpa pernah merasakan lelah atau terbebani.

Tidak sekadar dalam ritual ibadah haji saja, Allah SWT telah memerintahkan hamba-hamba-Nya mentaati Rasul SAW dalam segala hal. Allah berfirman dalam surat al Hasyr ayat 7 yang artinya “Apa saja yang Rasul perintahkan kepada kalian, terimalah, apa saja yang ia larang atas kalian, tinggalkanlah.’’

Allah SWT juga menjelaskan, mengikuti Rasul menjadi bukti kebenaran cinta seorang hamba kepada Allah, dalam firman-Nya surat Ali Imran ayat 31 yang artinya, “Katakanlah, ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian’, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Untuk itu haji mengajarkan, bahwa Islam bukan sekadar ibadah ritual, tetapi juga sistem kehidupan yang mengatur manusia dengan seluruh syariat Allah SWT (aturan-aturan yang berasal dari Allah SWT). Suasana haji juga memperlihatkan pentingnya kepemimpinan dan aturan yang satu demi kemaslahatan umat. Jutaan manusia dapat melaksanakan ibadah dengan tertib karena adanya pengaturan yang jelas. Sehingga kehidupan manusia akan menjadi lebih baik dan berkah jika diatur dengan aturan yang bersumber dari Allah, bukan dari hawa nafsu manusia. Jika aturan Allah mampu menertibkan jutaan jemaah haji, lalu mengapa manusia masih ragu menjadikan syariat-Nya sebagai pedoman hidup?

Karena itu, semangat haji seharusnya melahirkan perubahan, bukan hanya pada diri individu, tetapi juga cara pandang umat terhadap kehidupan untuk segera menerapkan syariat-Nya dalam segala aspek kehidupan, tentunya yang akan membawa ketakwaan dan rahmat bagi manusia.[]