Oleh Gustia Nuur Aziizah, mahasiswa Universitas Binawan
Remaja merupakan kelompok usia yang rentan mengalami masalah gizi akibat perubahan pola makan dan aktivitas fisik. Status gizi yang tidak seimbang pada remaja dapat meningkatkan risiko obesitas dan hipertensi, bahkan berdampak hingga masa dewasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan pengetahuan gizi terhadap penyakit hipertensi dan obesitas. Metode yang digunakan adalah studi literatur kualitatif deskriptif melalui pencarian jurnal nasional yang relevan dalam rentang waktu 10 tahun terakhir menggunakan Google Scholar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status gizi yang berlebihan pada remaja memiliki hubungan signifikan dengan peningkatan risiko hipertensi dan obesitas, yang dipengaruhi oleh kurangnya aktivitas fisik dan pola makan yang tinggi gula dan garam. Faktor kurangnya pengetahuan gizi turut berperan dalam pembentukan perilaku konsumsi makanan tidak sehat.
Edukasi gizi menggunakan media audio visual terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku hidup sehat pada remaja. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan edukasi gizi yang tepat dan berkelanjutan dalam jangka panjang merupakan upaya penting dalam pencegahan dini obesitas dan hipertensi pada remaja.
Pertumbuhan yang paling pesat terjadi pada masa remaja, yang dapat mempengaruhi perubahan kondisi tubuh serta mengalami pertumbuhan yang sangat cepat dalam berat badan, masa tulang serta aktivitas fisik yang dilakukan. Status gizi pada remaja adalah hal yang sangat diperhatikan karena akan banyak dampak yang dialami oleh remaja pada saat mengalami malnutrisi. Contohnya, remaja bisa mengalami gizi lebih atau gemuk dan dapat menyebabkan penyakit degeneratif semakin tinggi. Status gizi menjadi masalah yang sedang berkembang di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini. Berdasarkan data, pada tahun 2018 remaja gemuk berusia 16-18 tahun meningkat sebanyak 2,2%, berbeda jauh dengan tahun 2013, pada daerah Jawa Timur remaja usia 16-18 tahun sudah mengalami kegemukan sebanyak 11,3%. (Kisno Saputri et al., n.d.)
Sebesar 14,3% remaja mengalami kegemukan sedangkan obesitas mencapai 6,8%. Status gizi berlebih ini merupakan masalah serius bagi remaja dan tidak boleh diabaikan, karena status gizi berlebih pada remaja terjadi saat mengalami 30% fase perubahan dari masa anak-anak ke remaja, dan bisa berlanjut hingga dewasa. Melakukan aktivitas fisik merupakan kegiatan positif bagi tubuh sebagai pengontrol energi. Konsep ini penting dalam memahami perubahan energi dan aktivitas fisik yang dilakukan setiap individu. Aktivitas fisik akan berkurang seiring berjalannya waktu, terutama ketika fase tersebut telah selesai.
Remaja yang kurang beraktivitas fisik memiliki risiko lebih tinggi terkena hipertensi dibandingkan remaja yang aktif. Status gizi buruk pada remaja meningkatkan risiko terkena hipertensi hingga 4,85 kali dibandingkan remaja dengan status gizi normal. Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami remaja, dan jika terjadi pada masa remaja, kondisi ini cenderung berlanjut ke masa dewasa serta meningkatkan risiko mobilitas dan kematian yang tinggi. Meskipun secara klinis hipertensi lebih jarang terjadi pada anak-anak dan remaja dibandingkan orang dewasa, penelitian menunjukkan bahwa beberapa kasus hipertensi esensial pada dewasa berasal dari masa kanak-kanak hingga remaja. Di Indonesia, angka kejadian hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia, terutama pada usia dewasa meningkat sekitar 15%, usia 65 tahun ke atas meningkat hingga 60%, sedangkan pada usia anak-anak dan remaja, peningkatan angkanya berkisar antara 3,11% hingga 4,6%. (Saing Sari, 2005)
Obesitas dapat terjadi di berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Menurut WHO, obesitas didefinisikan sebagai akumulasi lemak yang berlebihan atau tidak normal yang dapat menimbulkan risiko kesehatan. Di Indonesia, angka prevalensi obesitas mencapai 4,8% berdasarkan hasil RISKESDAS 2018. Pengetahuan remaja tentang gizi masih kurang optimal, sehingga terkadang mereka memilih makanan yang tidak sehat, yang menjadi salah satu faktor penyebab obesitas di kalangan remaja. Obesitas pada usia remaja dapat dicegah jika remaja memiliki pengetahuan gizi yang cukup. (Ramadhanti et al., n.d.)
Obesitas adalah suatu kondisi kompleks yang melibatkan pengaturan nafsu makan dan metabolisme energi dengan mengendalikan beberapa faktor biologis spesifik. Indikator yang digunakan untuk menentukan status gizi adalah Indeks Masa Tubuh (IMT). Obesitas pada anak-anak dan remaja dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes melitus (DM) tipe 2 serta berbagai risiko kesehatan lainnya. Obesitas pada usia dewasa juga memiliki dampak yang serupa. Menurut National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES), pada tahun 2011-2012, prevalensi obesitas di Amerika adalah sebesar 8,4% pada usia 2-5 tahun, 17,7% pada usia 6-11 tahun, dan 20,5% pada usia 12-19 tahun. Beberapa penyebab obesitas pada remaja meliputi konsumsi makanan cepat saji secara sering, kurangnya aktivitas fisik, faktor genetik, status sosial ekonomi, serta program diet yang tidak seimbang dalam asupan gizinya. (Stikes et al., 2021)
Faktor yang mampu memengaruhi peningkatan pengetahuan serta status gizi adalah melalui penggunaan media yang dapat membantu menyampaikan informasi atau pesan. Salah satu contohnya adalah alat bantu yang dapat didengar agar dapat menstimulasikan indera penglihatan serta indera pendengaran dalam proses pemaparan materi, biasanya disebut dengan Audio Visual Aid. Media visual yang digunakan, seperti video motion graphics, merupakan potongan-potongan media berbasis waktu yang menggabungkan film serta desain grafis. Kelebihan yang didapat dengan menggunakan media audio visual untuk edukasi gizi terhadap para remaja adalah adanya peningkatan pengetahuan dan pembentukan sikap positif dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat mengurangi konsumsi makanan cepat saji (fast food). (Ramadhanti et al., n.d.)
METODE PENILITIAN
Penelitian ini menggunakan metode studi literatur (literature review) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Metode ini dilakukan dengan cara membaca, mengumpulkan, mencatat, serta menyortir referensi yang relevan dengan topik pembahasan. Setelah itu, hasil literatur yang diperoleh diolah untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif terhadap konsep, teori, serta temuan penelitian sebelumnya. Metode ini dipilih karena memungkinkan penyajian dan penafsiran data tanpa melakukan pengujian hipotesis secara statistik. Sumber data diperoleh dari beberapa jurnal nasional yang relevan dengan topik penelitian.
Pencarian dilakukan melalui https://scholar.google.com/ . Jurnal yang digunakan sudah terpercaya dan diterbitkan dalam rentang waktu 10 tahun terakhir untuk memastikan data yang diperoleh bersifat mutakhir dan relevan.
Melakukan pengumpulan data dengan menentukan kata kunci agar sesuai dengan topik yang akan dibahas untuk mencari literatur dapat menggunakan google scholar, scopus dan portal jurnal serta menseleksi literatur berdasarkan kesesuaian topik serta tahun terbit, jika sudah menemukan yang sesuai dengan topik peniliatian ini dilakukan analisis data dengan memilih atau menyaring informasi penting dari literatur dalam bentuk narasi dan sistematis setelah itu dapat merangkum atau mensintesis literatur utama yang ditemukan dalam jurnal agar mengetahui tujuan penilitian, analisis data dilakukan secara kritis yang membandingkan berbagai pandangan serta hasil penilitian untuk memperoleh kesimpulan yang objektif dan komprehensif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
Berdasarkan hasil penelitian dari berbagai jurnal selama sepuluh tahun terakhir yang relevan tentang hubungan antara status gizi dan pendidikan pada remaja dengan penyakit hipertensi dan obesitas, terlihat bahwa status gizi berlebih (overweight) pada remaja memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan meningkatnya risiko hipertensi. Remaja dengan Indeks Masa Tubuh (IMT) di atas normal cenderung memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan remaja dengan status gizi normal. Hal ini disebabkan oleh kurangnya aktivitas fisik dan kebiasaan mengkonsumsi makanan tinggi lemak, gula, dan garam.
Kurangnya aktivitas fisik pada remaja dapat berkontribusi terhadap peningkatan kasus obesitas dan hipertensi. Remaja yang jarang berolahraga cenderung mengalami penumpukan lemak berlebih yang dapat memicu gangguan metabolik serta meningkatkan tekanan darah. Minimnya minat terhadap aktivitas fisik merupakan salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko terkena obesitas dan hipertensi. Tingkat pengetahuan gizi yang rendah pada remaja juga berperan dalam memperparah kondisi tersebut, karena kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi kalori serta rendah nilai gizi berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kasus obesitas.
Memberikan edukasi gizi melalui media audio visual seperti video edukasi dan motion graphics telah terbukti mampu meningkatkan pengetahuan dan sikap positif terhadap pola hidup sehat. Berdasarkan beberapa jurnal yang digunakan dalam penelitian ini, terdapat peningkatan pengetahuan tentang gizi serta perubahan perilaku makan setelah diberikan edukasi berbasis media audio visual. Edukasi ini sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman, kemampuan konsumsi, serta kesadaran untuk melakukan aktivitas fisik. Intervensi edukasi gizi yang tepat dan berkelanjutan merupakan upaya pencegahan dini terhadap masalah kesehatan.
PEMBAHASAN
Status gizi merupakan kondisi fisiologis seseorang akibat konsumsi asupan makanan, penyerapan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi seseorang dapat diketahui melalui Indeks Masa Tubuh (IMT). Jika hasilnya terlalu tinggi, bisa disebabkan oleh peningkatan jaringan adiposit atau ketidakseimbangan komposisi tubuh. Aktivitas fisik yang kurang serta kebiasaan makan yang tidak sehat dapat memicu peningkatan tekanan darah, yaitu kondisi yang dikenal sebagai hipertensi. Hipertensi adalah penyakit tidak menular yang merupakan gangguan pada sistem sirkulasi.
Tekanan darah dapat meningkat karena beberapa mekanisme yang terjadi. Pertama, jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah setiap detiknya, sehingga jantung mengalami peningkatan volume cairan. Kedua, dinding arteri menjadi kaku dan tebal karena adanya aterosklerosis, yang umum terjadi pada usia lanjut. Ketiga, terjadi kontraksi pembuluh darah akibat kurangnya respons hormon.
Obesitas terjadi ketika asupan makanan sehari-hari mengandung energi yang melebihi kebutuhan tubuh. Zat gizi makro memainkan peran utama dalam penyebab kegemukan jika dikonsumsi secara berlebihan, karena zat gizi ini akan disimpan dalam bentuk lemak dan menyebabkan peningkatan berat badan secara menyeluruh. Kebiasaan makan yang buruk pada masa kanak-kanak dapat dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman dan pengawasan dari orang tua. Oleh karena itu, orang tua harus memberikan bimbingan dan pengarahan tentang jenis makanan yang sehat dan bergizi agar anak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi secara tepat. Jika pola makan tidak sesuai dengan kebutuhan, maka dapat menyebabkan kekurangan atau kelebihan asupan gizi.
Asupan energi sangat penting bagi remaja untuk mendukung aktivitas fisiknya.
Berdasarkan hasil penelitian, remaja yang memiliki asupan energi melebihi batas kebutuhan gizi (AKG) lebih banyak dibandingkan remaja dengan asupan energi di bawah AKG. Hal ini dipengaruhi oleh pola konsumsi makanan yang kurang sehat, baik karena pemilihan makanan siap saji maupun makanan tradisional yang kurang memperhatikan kualitas gizinya. Faktor lingkungan dan faktor sosial juga memengaruhi remaja untuk lebih memilih makanan cepat saji dibandingkan makanan sehat. Asupan makanan yang tidak seimbang sering kali disebabkan oleh kebiasaan mengonsumsi fast food yang tinggi, yang mengandung lemak sekitar 40-50%. Faktor utama yang menyebabkan obesitas adalah ketidakseimbangan antara asupan energi yang masuk ke dalam tubuh dengan energi yang dikeluarkan oleh tubuh.
KESIMPULAN
Status gizi dan tingkat pengetahuan remaja terhadap hipertensi serta obesitas memiliki hubungan yang sangat erat. Remaja dengan nilai Asupan Kekurangan Gizi (AKG) yang rendah cenderung lebih rentan terkena hipertensi dibandingkan remaja dengan nilai AKG normal. Kondisi ini berdampak pada pola makan yang tidak seimbang, seperti konsumsi makanan atau minuman tinggi gula dan lemak, serta kurangnya aktivitas fisik. Rendahnya pengetahuan gizi pada remaja berpengaruh signifikan terhadap pembentukan perilaku makan yang tidak sehat, sehingga meningkatkan risiko obesitas dan penyakit degeneratif sejak usia dini. Edukasi gizi melalui media audiovisual sudah terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku hidup sehat, termasuk dalam pemilihan makanan dan peningkatan aktivitas fisik. Meski konsumsi makanan cepat saji diperbolehkan, tetapi jangan terlalu sering karena tidak diketahui bahan-bahan dan takarannya. Edukasi gizi yang tepat, menarik, dan berkelanjutan merupakan upaya penting untuk mencegah obesitas dan hipertensi pada remaja. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi risiko penyakit tidak menular di masa depan serta meningkatkan kualitas kesehatan pada generasi mendatang.
