Ketika Media Sosial Memicu Emosi: Akhlak dan Ibadah Sebagai Terapi Mental

oleh
oleh

Oleh Syafira Hayyun Nur Kamelia, Surani. Mahasiswa Program Studi Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah PROF. DR. HAMKA, Jakarta

Media sosial sering kali membuat emosi mudah terpancing, bahkan oleh peristiwa yang sebenarnya sepele. Reaksi spontan yang muncul dan menyebar dengan cepat menunjukkan pentingnya kemampuan mengelola emosi di ruang digital.

Salah satu contohnya terlihat dari kasus hilangnya tumbler Tuku yang sempat ramai di media sosial. Ada warganet yang bersimpati, ada pula yang meluapkan amarah, bahkan saling menyalahkan. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya sarana berbagi informasi, tetapi juga ruang untuk mengekspresikan, bahkan meluapkan emosi.

Masalahnya, emosi yang muncul secara spontan di ruang digital sering kali sulit dikendalikan. Komentar ditulis tanpa jeda berpikir, reaksi datang lebih dulu daripada refleksi. Jika pola ini terus berulang, dampaknya tidak hanya memperkeruh suasana, tetapi juga bisa memengaruhi kesehatan mental dan kualitas hubungan sosial. Di sinilah pentingnya kemampuan mengelola emosi agar media sosial tidak menjadi sumber stres berkepanjangan.

Tantangan Mengelola Emosi di Era Digital

Bagi mahasiswa dan generasi muda, tekanan yang dihadapi tidak sedikit. Tuntutan akademik, relasi pertemanan, pencarian jati diri, hingga paparan media sosial datang bersamaan. Tanpa kemampuan mengelola emosi yang baik, situasi ini membuat emosi mudah naik turun dan pikiran terasa penuh.

Dalam teori regulasi emosi, Gross menjelaskan bahwa regulasi emosi merupakan proses pengelolaan terhadap pengalaman emosional, baik secara sadar maupun tidak sadar, yang memungkinkan individu mengubah pengalaman dan ekspresi afek dari respons alami menjadi respons lain yang lebih adaptif dan efektif.

Artinya, individu tidak serta-merta menekan emosi, tetapi belajar meresponsnya dengan cara yang lebih sehat. Di media sosial, kemampuan ini membantu seseorang menahan dorongan untuk bereaksi impulsif dan mendorong respons yang lebih tenang serta proporsional.

Psikologi Islam dan Makna Pengendalian Diri

Psikologi Islam memandang manusia sebagai kesatuan jasmani dan rohani. Emosi tidak dilepaskan dari dimensi spiritual, melainkan dipahami sebagai bagian dari proses mendekatkan diri kepada Tuhan. Nilai-nilai agama berperan dalam membentuk cara seseorang berpikir, merasakan, dan bersikap dalam menghadapi peristiwa hidup.

Dalam psikologi agama, Allport membedakan dua jenis orientasi religius, yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Orientasi religius intrinsik memandang agama sebagai pedoman hidup yang benar-benar dihayati, sehingga cenderung membentuk kepribadian yang lebih matang secara moral dan emosional.

Sejalan dengan pandangan tersebut, psikologi Qur’ani menekankan konsep-konsep kejiwaan seperti nafs, qalb, ‘aql, dan ruh sebagai dasar pembentukan kepribadian.

Nilai-nilai seperti kesabaran, pengendalian diri, dan keikhlasan menjadi landasan penting dalam pembentukan kepribadian untuk merespons berbagai situasi, termasuk hiruk-pikuk media sosial. Dengan nilai ini, seseorang tidak mudah terseret arus emosi kolektif, tetapi mampu menjaga jarak emosional dan berpikir lebih jernih.

Ibadah sebagai Latihan Regulasi Emosi

Dalam Islam, ibadah tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban spiritual, tetapi juga dapat berfungsi sebagai sarana menenangkan jiwa. Ahmad Zaini menjelaskan bahwa praktik seperti salat, doa, dan zikir memberi ruang jeda dari kesibukan dan tekanan sehari-hari. Di saat seseorang berhenti sejenak untuk beribadah, ia juga sedang belajar mengatur napas, fokus, dan emosi.

Salat, misalnya, dapat dipahami sebagai momen refleksi yang membantu seseorang melepaskan ketegangan batin. Gerakan yang teratur, bacaan yang diulang, dan kesadaran akan kehadiran Tuhan berkontribusi pada rasa tenang dan stabil. Doa memberi ruang untuk mengekspresikan kegelisahan, sementara zikir membantu mengalihkan pikiran dari kecemasan menuju ketenangan spiritual.

Jika dilakukan secara konsisten, ibadah dapat menjadi latihan regulasi emosi yang membentuk ketahanan mental. Bukan berarti masalah hilang begitu saja, tetapi individu menjadi lebih siap dan tenang dalam menghadapinya.

Akhlak, Media Sosial, dan Refleksi Bersama

Media sosial sejatinya adalah ruang interaksi bersama. Namun, derasnya arus informasi menuntut kemampuan menyaring dan menahan diri. Tidak semua hal perlu ditanggapi dengan emosi, dan tidak semua peristiwa layak direspons secara impulsif.

Dalam perspektif Islam, proses penyucian diri atau tazkiyah al-nafs mengajarkan refleksi berkelanjutan: mengurangi sifat negatif, menumbuhkan akhlak terpuji, dan terus mengevaluasi diri. Nilai ini relevan untuk kehidupan digital hari ini. Alih-alih memperkeruh suasana, pengguna media sosial diajak untuk menghadirkan respons yang lebih dewasa dan bertanggung jawab.

Penutup

Fenomena viral seperti kasus tumbler Tuku menunjukkan bagaimana emosi dapat menyebar dengan cepat di media sosial. Situasi ini menegaskan pentingnya kemampuan mengelola emosi agar kesehatan mental dan hubungan sosial tetap terjaga. Psikologi Islam menawarkan sudut pandang yang menempatkan akhlak dan ibadah sebagai sarana terapi mental yang membantu membentuk ketenangan jiwa.

Dengan menjadikan nilai kesabaran, pengendalian diri, dan keikhlasan sebagai pedoman, media sosial dapat dimaknai bukan sekadar tempat bereaksi, tetapi juga ruang belajar tentang kedewasaan emosi. Menjaga ketenangan batin di tengah ramainya dunia digital pada akhirnya menjadi bagian dari ikhtiar merawat kesehatan mental secara utuh dan bermakna.