Ditulis Oleh : Ahmad Wildan Shahid Al-Qudri, mahasiswa Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Mengenal Alexithymia
Pernahkah seseorang bertanya, “Kamu lagi kenapa?”, “Lagi banyak pikiran ya? ” Lalu kamu hanya bisa menjawab, “Nggak tahu, lagi capek banget aja nih.” Padahal sebenarnya ada banyak hal yang sedang terjadi di dalam diri. Mungkin ada rasa sedih, kecewa, cemas, atau marah yang bercampur menjadi satu. Namun, saat mencoba menjelaskannya, kamu justru bingung karena tidak benar-benar tahu apa yang sedang dirasakan.
Pengalaman seperti ini ternyata tidak jarang terjadi. Bagi sebagian orang, kesulitan memahami dan memberi nama pada emosi bukan sekadar kebiasaan, melainkan sebuah kondisi psikologis yang dikenal sebagai alexithymia.
Saat Perasaan Ada, Tetapi Sulit Dipahami
Banyak orang mengira bahwa seseorang yang sulit mengungkapkan perasaan berarti tidak peduli, terlalu tertutup, atau sengaja menyembunyikan emosinya. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Alexithymia menggambarkan kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan mengenali, memahami, dan mengungkapkan apa yang sedang dirasakan. Emosi sebenarnya tetap muncul, tetapi individu tersebut kesulitan menerjemahkannya ke dalam kata-kata atau bahkan menyadarinya secara utuh.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh psikiater Peter Sifneos pada awal tahun 1970-an. Ia menemukan bahwa beberapa pasien mampu menjelaskan berbagai kejadian yang mereka alami secara rinci, tetapi mengalami kesulitan ketika diminta menjelaskan bagaimana perasaan mereka terhadap kejadian tersebut.
Penting untuk dipahami bahwa alexithymia bukanlah gangguan mental yang berdiri sendiri. Kondisi ini lebih sering dipandang sebagai karakteristik psikologis yang dapat muncul pada tingkat yang berbeda pada setiap individu.
Mengapa Banyak Dialami pada Masa Dewasa Awal?
Masa dewasa awal merupakan periode kehidupan yang penuh perubahan. Seseorang mulai menghadapi tanggung jawab yang lebih besar, membangun hubungan yang lebih serius, mengambil keputusan penting, hingga berusaha menemukan arah hidup yang sesuai dengan dirinya, serta juga ada yang mencari kebermaknaan dalam hidupnya.
Perubahan-perubahan tersebut menuntut kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi dengan baik. Ketika kemampuan ini kurang berkembang, seseorang dapat merasa kebingungan menghadapi berbagai tekanan yang muncul.
Di sisi lain, banyak orang tumbuh dalam lingkungan yang kurang memberi ruang untuk membicarakan perasaan. Kalimat seperti “jangan cengeng,” “gak usah baper,” atau “harus kuat ya” sering kali membuat seseorang belajar mengabaikan emosinya sendiri daripada memahaminya.
Akibatnya, saat dewasa mereka mungkin mampu menjalani aktivitas sehari-hari secara normal, tetapi kesulitan mengenali apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam dunia emosional mereka.
Tanda-Tanda yang Sering Tidak Disadari
Alexithymia tidak selalu terlihat jelas. Banyak individu tetap berfungsi dengan baik dalam pekerjaan, pendidikan, maupun hubungan sosial.
Beberapa tanda berikut dapat menjadi petunjuk konsep alexithymia yang dikemukakan oleh Peter Emanuel Sifneos dan kemudian dikembangkan oleh Graeme J. Taylor, R. Michael Bagby, dan koleganya. Karakteristik inti alexithymia meliputi:
- Sulit menjelaskan apa yang sedang dirasakan ketika ditanya tentang perasaan.
- Lebih mudah menceritakan kejadian daripada membahas emosi yang muncul dari kejadian tersebut.
- Bingung membedakan antara emosi dan sensasi fisik, seperti tidak tahu apakah dirinya sedang cemas, lelah, atau sedih.
- Merasa kosong atau datar secara emosional.
- Kesulitan memahami perasaan orang lain dalam situasi tertentu.
Cenderung berpikir sangat logis dan faktual, tetapi kurang nyaman membahas hal-hal yang bersifat emosional.
Karena gejalanya tidak selalu tampak mencolok, banyak orang baru menyadari kondisi ini ketika menghadapi masalah dalam hubungan interpersonal atau kesehatan mental.
Dari Mana Alexithymia Berasal?
Belum ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan munculnya alexithymia. Para ahli meyakini bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor.
Faktor biologis dapat berperan melalui perbedaan cara otak memproses informasi emosional. Selain itu, pengalaman masa kecil juga memiliki pengaruh yang penting.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang jarang membicarakan perasaan atau sering mendapatkan respons negatif terhadap ekspresi emosi dapat belajar mengabaikan sinyal emosionalnya sendiri, dan itu sesuatu yang negatif.
Trauma psikologis juga dapat menjadi faktor yang berkontribusi. Dalam situasi yang penuh tekanan atau ancaman, menekan emosi dapat menjadi strategi untuk bertahan hidup. Namun, jika berlangsung dalam waktu lama, kemampuan untuk mengenali emosi dapat terganggu.
Alexithymia juga sering ditemukan bersamaan dengan kondisi lain seperti depresi, gangguan kecemasan, ADHD, gangguan spektrum autisme, maupun PTSD.
Dampaknya terhadap Kehidupan Sehari-Hari
Kesulitan memahami emosi bukan hanya memengaruhi hubungan seseorang dengan dirinya sendiri, tetapi juga memengaruhi hubungan dengan orang lain.
Bayangkan ketika pasangan, keluarga, atau teman dekat sedang membutuhkan dukungan emosional. Seseorang dengan alexithymia mungkin ingin membantu, tetapi tidak tahu bagaimana merespons situasi tersebut. Akibatnya, ia dapat dianggap tidak peka atau kurang peduli, meskipun sebenarnya tidak demikian.
Selain itu, individu yang sulit mengenali emosinya sendiri juga lebih rentan mengalami berbagai masalah psikologis. Ketika kesedihan, kecemasan, atau kemarahan tidak dikenali dan diproses dengan baik, tekanan emosional tersebut dapat muncul dalam bentuk lain, seperti gangguan tidur, kelelahan berkepanjangan, keluhan fisik, hingga gejala depresi dan kecemasan.
Apakah Alexithymia Bisa Diatasi?
Kabar baiknya, kemampuan mengenali dan memahami emosi dapat dilatih.
Salah satu langkah sederhana adalah mulai memperhatikan sensasi yang muncul di tubuh. Ketika merasa tidak nyaman, cobalah bertanya pada diri sendiri: Apa yang sedang saya rasakan saat ini? Apa yang mungkin menyebabkan perasaan tersebut muncul?
Memperkaya kosakata emosi juga dapat membantu. Banyak orang hanya mengenal beberapa label dasar seperti senang, sedih, atau marah. Padahal emosi manusia jauh lebih beragam, mulai dari kecewa, malu, khawatir, bersalah, jijik, hingga lega.
Melakukan hal-hal yang disukai, menulis jurnal harian, berlatih mindfulness, serta berbicara dengan orang yang dipercaya juga dapat meningkatkan kesadaran emosional. Dalam beberapa kasus, bantuan profesional melalui konseling atau psikoterapi dapat menjadi cara yang efektif untuk memahami pola emosi yang selama ini sulit dikenali.
Belajar Mendengarkan Diri Sendiri
Kesulitan memahami emosi bukan berarti seseorang tidak memiliki perasaan. Emosi tetap ada pada setiap individu dan tetap memengaruhi kehidupannya, hanya saja sering kali tidak dikenali dengan jelas emosi apa yang dia rasakan.
Mengenali bahwa diri sendiri mengalami kesulitan memahami perasaan justru merupakan langkah awal yang penting. Dari sana, seseorang dapat mulai belajar mendengarkan dirinya dengan lebih baik, lebih terarah, dan lebih jelas perasaan apa yang sedang dirasakan.
Mungkin selama ini kata “capek” digunakan untuk kita menggambarkan berbagai hal yang sebenarnya lebih kompleks. Bisa jadi di balik rasa capek tersebut terdapat kesedihan yang belum diproses, rasa kecewa yang selalu diabaikan, kecemasan yang tidak disadari, atau kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.
Memahami emosi memang membutuhkan waktu. Namun, semakin seseorang mampu mengenali apa yang ia rasakan, semakin besar pula kesempatan untuk menjaga kesehatan mental dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan dirinya sendiri, keluarga, pasangan, maupun orang lain.
