Oleh: Dr. H. Bambang Sutopo, S.E.I., M.M, Anggota DPRD Kota Depok Fraksi PKS
“Cinta kepada Rasulullah bukan hanya tentang seberapa sering kita bershalawat, tetapi seberapa jauh akhlak dan perjuangannya hadir dalam kehidupan kita.”
Maulid Nabi Muhammad SAW selalu menghadirkan kerinduan. Kerinduan kepada sosok manusia mulia yang tidak pernah kita jumpai, tetapi ajaran dan keteladanannya terus hidup hingga hari ini.
Ya Rasulullah…
Aku tak pernah berjumpa denganmu.
Aku tak pernah melihat wajahmu.
Aku masih jauh dari sempurna dalam menjalankan sunnahmu.
Namun aku tetap mencintaimu dan berharap kelak mendapatkan syafaatmu di hadapan Allah SWT, di Mahkamah-Nya yang Maha Benar dan Maha Adil.
Tetapi tahun ini, Maulid Nabi terasa memiliki pesan yang semakin relevan.
Karena kita hidup di tengah masyarakat yang sedang tidak baik-baik saja secara ekonomi. Banyak keluarga harus semakin cermat mengatur pengeluaran.
Sebagian masyarakat menghadapi tekanan biaya kebutuhan hidup.
Lapangan pekerjaan menjadi sesuatu yang sangat berharga. Anak-anak muda membutuhkan kesempatan.
Pelaku UMKM membutuhkan pasar.
Pedagang kecil membutuhkan daya beli masyarakat.
Petani, buruh, pekerja informal dan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah membutuhkan perlindungan dan keberpihakan.
Di tengah kondisi seperti ini, pertanyaan pentingnya adalah Apa yang dapat kita pelajari dari Rasulullah SAW?
RASULULLAH MEMBANGUN MASYARAKAT, BUKAN HANYA MENGAJARKAN IBADAH
Rasulullah SAW datang bukan hanya untuk mengajarkan hubungan manusia dengan Allah. Beliau juga membangun hubungan manusia dengan manusia. Membangun masyarakat yang saling menolong.
Beliau membangun perdagangan yang jujur. Mendorong kerja keras. Menjaga hak kaum dhuafa. Menguatkan solidaritas sosial.
Beliau menghapus praktik ekonomi yang menzalimi. Dan membangun kehidupan masyarakat berdasarkan keadilan dan kemaslahatan.
Ketika membangun masyarakat Madinah, Rasulullah SAW tidak membiarkan persoalan ekonomi menjadi urusan masing-masing individu semata. Beliau membangun ukhuwah antara Muhajirin dan Anshar. Kaum Muhajirin yang datang tanpa banyak harta dipersaudarakan dengan kaum Anshar.
Yang memiliki membantu yang membutuhkan. Yang kuat menopang yang lemah. Yang memiliki kesempatan membuka jalan bagi saudaranya yang belum memiliki kesempatan.
Inilah ekonomi yang memiliki ruh kemanusiaan. Bukan sekadar mengejar pertumbuhan. Tetapi memastikan pertumbuhan itu dirasakan oleh masyarakat.
SHIDIQ: EKONOMI HARUS DIBANGUN DENGAN KEJUJURAN
Rasulullah SAW adalah pedagang yang dikenal jujur. Beliau tidak menipu. Tidak mengurangi timbangan. Tidak menyembunyikan cacat barang. Tidak memanipulasi informasi untuk memperoleh keuntungan. Hari ini, nilai Shidiq menjadi sangat penting.
Ketika harga menjadi perhatian masyarakat, jangan ada pihak yang mengambil keuntungan dengan menimbun.
Ketika masyarakat membutuhkan barang, jangan ada manipulasi pasokan.
Ketika masyarakat mencari pekerjaan, jangan ada praktik yang merugikan pencari kerja.
Ketika pemerintah menyusun kebijakan ekonomi, data harus disampaikan secara jujur. Karena kebijakan yang baik harus dibangun dari data yang benar dan kondisi masyarakat yang sesungguhnya.
Jangan sampai angka-angka ekonomi terlihat baik di atas kertas, tetapi masyarakat di lapangan masih merasa:
“Mengapa hidup semakin berat?”
Di sinilah Shidiq harus hadir. Jujur melihat masalah sebelum mencari solusi.
AMANAH: ANGGARAN DAN KEKUASAAN HARUS KEMBALI KEPADA RAKYAT
Ketika kondisi ekonomi masyarakat berat, maka amanah pemerintah dan para pemegang kekuasaan menjadi semakin besar.
APBN dan APBD bukan sekadar angka. Di dalamnya terdapat uang rakyat. Setiap rupiah anggaran seharusnya ditanyakan:
Apakah benar-benar bermanfaat bagi masyarakat?
Apakah membuka lapangan pekerjaan?
Apakah meningkatkan kualitas pendidikan?
Apakah membantu kesehatan masyarakat?
Apakah memperkuat UMKM?
Apakah memperbaiki infrastruktur?
Apakah mengurangi beban masyarakat miskin?
Ataukah hanya habis untuk kegiatan yang manfaatnya tidak dirasakan langsung oleh masyarakat?
Inilah makna Amanah dalam kepemimpinan. Jabatan bukan fasilitas untuk menikmati kekuasaan. Jabatan adalah titipan untuk menyelesaikan persoalan rakyat.
TABLIGH: PEMIMPIN HARUS BERANI MENGATAKAN KONDISI YANG SEBENARNYA
Keteladanan Rasulullah SAW berikutnya adalah Tabligh. Menyampaikan kebenaran.
Dalam konteks pemerintahan, Tabligh berarti keberanian untuk menyampaikan kondisi masyarakat secara terbuka.
Kalau ekonomi sedang menghadapi tekanan, katakan apa adanya. Kalau ada pengangguran, jangan ditutupi. Kalau UMKM sedang kesulitan, dengarkan. Kalau daya beli masyarakat melemah, carikan solusi. Kalau ada program yang tidak efektif, evaluasi.
Jangan sampai masyarakat hanya mendengar kabar baik dari pemerintah, sementara keluhan mereka tidak pernah benar-benar didengar.
Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk mendengar dan menyampaikan kebenaran dengan hikmah.
Karena pemimpin yang baik bukan hanya pandai berbicara kepada rakyat, tetapi juga mau mendengarkan suara rakyat.
FATHONAH: KEBIJAKAN EKONOMI HARUS CERDAS DAN BERPIHAK
Kemudian ada Fathonah. Kecerdasan dan kebijaksanaan.
Dalam menghadapi ekonomi yang penuh tantangan, pemerintah tidak cukup hanya mengeluarkan program bantuan.
Bantuan memang penting untuk masyarakat yang membutuhkan. Tetapi masyarakat juga harus diberdayakan agar mampu berdiri sendiri.
Kita perlu membangun lapangan pekerjaan, kewirausahaan, UMKM yang naik kelas, akses permodalan yang sehat, pendidikan dan keterampilan, ekonomi kreatif, ekonomi digital, serta ekosistem usaha yang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk tumbuh.
Inilah semangat Fathonah. Bukan sekadar menyelesaikan masalah hari ini, tetapi memikirkan: “Bagaimana agar generasi berikutnya hidup lebih baik?”
JANGAN BIARKAN ORANG MISKIN BERJUANG SENDIRIAN
Ada pesan besar dari kehidupan Rasulullah SAW Orang miskin bukan objek belas kasihan, tetapi manusia yang harus dihormati martabatnya dan dibantu agar memiliki kesempatan hidup yang lebih baik.
Islam tidak mengajarkan kita untuk hanya berkata “Sabar ya…kepada orang yang kesulitan ekonomi. Tetapi kita harus bertanya Apa yang bisa kita lakukan?
Kalau tetangga kehilangan pekerjaan, apakah kita bisa membantu mencarikan pekerjaan?
Kalau ada anak yang kesulitan sekolah, apakah kita bisa membantu?
Kalau ada pedagang kecil kesulitan modal, apakah kita bisa menjadi bagian dari solusi?
Kalau ada UMKM yang produknya bagus tetapi tidak punya pasar, apakah kita bisa membantu mempromosikannya?
Inilah ukhuwah yang nyata.
PEMERINTAH HARUS HADIR, MASYARAKAT JUGA HARUS PEDULI
Kita tidak boleh menyerahkan seluruh persoalan ekonomi kepada pemerintah.
Tetapi pemerintah juga tidak boleh menyerahkan seluruh persoalan masyarakat kepada masyarakat.
Keduanya harus berjalan bersama.
Pemerintah menghadirkan kebijakan yang adil.
Dunia usaha membuka kesempatan.
Masyarakat membangun solidaritas.
Lembaga pendidikan menyiapkan manusia yang kompeten. Tokoh agama membangun moral dan etika. Dan kita semua mengambil bagian sesuai kemampuan.
Inilah semangat masyarakat Madinah yang dibangun Rasulullah SAW..
MAULID HARUS MELAHIRKAN GERAKAN KEBAIKAN
Maka, menurut saya, Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti pada seremoni.
Setelah Maulid, mari kita bertanya:
Apakah ada satu keluarga yang ekonominya menjadi lebih ringan karena kehadiran kita?
Apakah ada satu anak muda yang mendapatkan pekerjaan karena bantuan kita?
Apakah ada satu UMKM yang naik kelas karena kita dukung?
Apakah ada satu anak yang tetap sekolah karena kita bantu?
Apakah ada satu pedagang kecil yang dagangannya menjadi lebih laris karena kita promosikan?
Kalau jawabannya iya, maka sesungguhnya kita sedang berusaha menghadirkan semangat Rasulullah SAW dalam kehidupan nyata.
CINTA RASUL HARUS MENJADI KEBERPIHAKAN KEPADA SESAMA
Rasulullah SAW adalah Rahmatan lil ‘Alamin.
Maka cinta kepada Rasulullah harus melahirkan rahmat.
Rahmat kepada keluarga.
Rahmat kepada tetangga.
Rahmat kepada kaum dhuafa.
Rahmat kepada pekerja.
Rahmat kepada pedagang kecil.
Rahmat kepada anak-anak muda.
Rahmat kepada lingkungan.
Dan rahmat dalam menjalankan kekuasaan.
Karena itu saya ingin mengajak diri saya sendiri dan kita seemua selalu mencintai Rasulullah bukan hanya dengan ucapan, tetapi dengan tindakan.
Mari menjadi manusia yang Shidiq dalam ucapan. Amanah dalam tanggung jawab. Tabligh dalam menyampaikan kebenaran. Dan Fathonah dalam mengambil keputusan.
Terutama bagi siapa pun yang diberi amanah memimpin masyarakat.
Karena ketika rakyat sedang menghadapi kesulitan, amanah seorang pemimpin justru semakin besar.
SEMOGA KITA MENJADI UMAT YANG DIRINDUKAN RASULULLAH
Ya Rasulullah…
Aku tidak pernah bertemu denganmu.
Aku tidak pernah melihat wajahmu.
Aku masih jauh dari sempurna mengikuti sunnahmu.
Namun aku ingin terus belajar mencintaimu.
Aku ingin belajar dari kejujuranmu.
Dari amanahmu.
Dari keberanianmu menyampaikan kebenaran.
Dari kecerdasan dan kebijaksanaanmu.
Dan terutama dari kasih sayangmu kepada umat manusia.
Semoga cinta itu tidak berhenti di bibir.
Semoga cinta itu hadir dalam keluarga kita.
Dalam pekerjaan kita.
Dalam pendidikan kita.
Dalam pelayanan kepada masyarakat.
Dalam kebijakan pemerintah.
Dan dalam setiap keputusan yang kita ambil.
Karena mencintai Rasulullah adalah kerinduan, tetapi meneladaninya adalah pembuktian.
Mari jadikan Maulid Nabi sebagai momentum untuk menghadirkan kembali ekonomi yang berkeadilan, kepemimpinan yang amanah, masyarakat yang saling peduli, dan pembangunan yang benar-benar menghadirkan kemaslahatan.
Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal 1448 H / 25 Agustus 2026
Shidiq dalam perkataan.
Amanah dalam pengabdian.
Tabligh dalam kebenaran.
Fathonah dalam kebijakan.
Semoga kita menjadi umat yang bukan hanya mencintai Rasulullah SAW, tetapi juga berusaha hidup dengan akhlaknya dan memperjuangkan kemaslahatan umat. HBS
Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.

