Mengenal Autism Spectrum Disorder (ASD)

oleh
oleh

Penulis: Alya Putri Adinda, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr Hamka

Secara global, WHO memperkirakan 1 dari 100 anak mengalami ASD. ASD lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan perempuan. Di Indonesia, pada tahun 2024 diperkirakan sekitar 2,4 juta anak mengalami gangguan spektrum autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD). Namun, banyak orang tua yang terlambat menyadarinya, bahkan sebagian masih salam paham tentang ASD.

Autism Spectrum Disorder (ASD), menggunakan istilah “Spectrum” karena gejalanya yang beragam, mulai dari yang ringan hingga berat. ASD merupakan gangguan perkembangan neurologis yang ditandai dengan kesulitan dalam berinteraksi dan berkomunikasi secara sosial, baik secara verbal maupun non-verbal, serta juga munculnya pola perilaku, minat, dan aktivitas yang cenderuung terbatas, berulang, dan stereotipik.

Apa Penyebabnya?

ASD disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor. Secara genetik, ratusan gen diketahui berkaitan dengan gangguan ini, dan mutasi pada gen-gen tersebut menjadi salah satu pemicu utama munculnya ASD.

Faktor lingkungan juga berperan, di antaranya adalah paparan polusi udara, kurangnya asupan nutrisi yang memadai, serta paparan merkuri. Ibu yang tidak memperhatikan nutrisinya pada trimester pertama kehamilan memiliki risiko lebih tinggi melahirkan anak dengan ASD, mengingat bahwa pada saat tersebut merupakan fase paling kritis dalam perkembangan janin.

Selain itu juga, gangguan pada sistem imun, khususnya sistem neuroimun yang juga diidentifikasi sebagai salah satu faktor penyebab . ketika sistem neurooimun tidak berfungis normal, kerja sistem saraf ikut terganggu dan memicu terjadinya neuroinflamasi yang berkontribusi pada munculnya ASD.

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

Gejala ASD sering kali muncul pada usia 2-3 tahun. Tetapi, pada beberapa kasus, gejala ASD ini terlihat sejak bayi atau baru terlihat jelas saat anak mulai memasuki usia sekolah.

Beberapa tanda-tanda yang perlu diwaspadai adalah:

Gangguan Interaksi Sosial: Anak dengan ASD cenderung untuk mengalihkan pandangan dari orang lain, tidak ekspresif, dan berusaha untuk menghindari kontak fisik. Mereka juga sulit untuk membangun ikatan emosional, bahkan dengan orang-orang terdekat seperti ibu ataupun pengasuhnya. Kehadiran maupun ketidakhadiran orang tua pun tidak banyak mempengaruhi respons mereka, dan gejala ini akan semakin terlihat jelas seiring bertambahnya usia.

Gangguan Komunikasi: Anak dengan ASD jarang menggunakan komunikasi non-verbal seperti gestur, bahasa tubuh, maupun ekspresi wajah. Secara verbal, mereka cenderung diam, tidak langsung merespons saat diajak bicara, dan sering mengucapkan hal-hal yang sulit dipahami.

Gangguan Perilaku: Perilaku anak dengan ASD cenderung berulang dan kaku, mencakup empat pola utama: obsesi terhadap benda tertentu, imajinasi dan kemampuan meniru yang rendah, fokus berlebihan pada detail warna atau pola tertentu, serta rutinitas yang dilakukan secara kaku sehingga perubahan kecil di lingkungan pun dapat memicu kecemasan.

Gangguan Persepsi dan Gerak: Indera anak dengan ASD mengalami disfungsi dalam memproses sensoris karena ketidakmampuan meregulasi input yang masuk. Hal ini terwujud dalam dua bentuk: Oversensitivity, yang di mana anak bereaksi berlebihan terhadap rangsangan biasa seperti menutup telinga saat mendengar suara tertentu.

Dan Undersensitivity, di mana anak tidak responsif terhadap lingkungan sekitar dan cenderung mengulang gerakan tertentu seperti memukul atau berputar-putar.

Gangguan Emosi: Anak dengan ASD kesulitan untuk menyalurkan dan mengendalikan emosinya, yang kerap berujung pada tempertantrum atau perilaku yang membahayakan diri sendiri ketika keinginannya tidak terpennuhi, serta munculnya rasa takut yang tidak proporsional terhadap situasi tertentu.

Tidak semua gejala di atas harus ada pada setiap anak dengan ASD.. diagnosis yang tepat tetap memerlukan pendekatan psikologis maupun neurologis yang komprehensif.

Pilihan Terapi

ASD tidak bisa “disembuhkan”, tetapi intervensi yang tepat sejak dini dapat membantu anak berkembang secara optimal. Penanganan ASD bertujuan untuk mengurangi gejala yang menghambat fungsi sehari-hari dan kualitas hidup penderita.

Beberapa intervensi yang dapat diterapkan:

Pendekatan Perilaku (ABA): Pendekatan yang melatih keterampilan sosial dan komunikasi melalui sistem penguatan terstruktur, sekaligus mengurangi perilaku yang tidak diinginkan.

Terapi Wicara: Melatih kemampuan komunikasi verbal dan non-verbal, membantu anak memahami dan menggunakan bahasa, baik melalui ucapan, gestur, maupun alat bantu komunikasi.

Terapi Okupasi: Membantu anak mengelola kepekaan sensori dan melatih kemandirian dalam aktivitas sehari-hari.
Pendekatan Pendidikan (TEACCH): Memanfaatkan rutinitas yang konsisten dan pembelajaran visual agar anak dapat berfungsi optimal di lingkungan belajar, termasuk dukungan remedial yang disesuaikan dengan kebutuhan belajar anak.

Pendekatan Sosial-Relasional: Berfokus pada peningkatan keterampilan sosial dan kemampuan membangun ikatan emosional, misalnya melalui social skills group atau Social Stories.

Pendekatan Psikologis (CBT): Membantu individu dengan ASD mengelola kecemasan, depresi, atau masalah kesehatan mental.

Pendekatan Farmakologis: Tidak ditujukan untuk mengatasi gejala ASD, melainkan untuk mengelola gejala penyerta seperti, hiperaktivitas, kecemasan, atau gangguan tidur dan selalu dengan pengawasan dokter.
Anak dengan Autism Spectrum Disorder Bisa Tumbuh dan Berkembang
Anak dengan ASD bukanlah anak yang “bermasalah” tetapi, mereka memproses dunia dengan cara yang berbeda.

Dengan dukungan keluarga, pendidikan inklusif, dan intervensi dini yang tepat, banyak penyandang ASD yang tumbuh menjadi individu mandiri bahkan menonjol di bidang tertentu.
Yang dibutuhkan bukanlah simpati, melainkan pemahaman dan akses layanan yang merata, termasuk di kota-kota kecil Indonesia yang fasilitasnya masih sangat terbatas.