DEPOKPOS – Anak-anak dengan disabilitas sering mengalami keterbatasan kemampuan bergerak yang dapat memengaruhi kemandirian dalam melakukan aktivitas fungsional serta kualitas hidupnya. Perkembangan kemampuan gerak anak dengan disabilitas tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh peran lingkungan terdekat, khususnya keluarga, serta latihan dan intervensi fisioterapi yang tepat. Artikel ini bertujuan untuk membahas peran keluarga, latihan, dan fisioterapi dalam mendukung perkembangan kemampuan bergerak, khususnya kemampuan motorik kasar, pada anak dengan disabilitas. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menganalisis beberapa artikel ilmiah yang membahas intervensi fisioterapi dan keterlibatan keluarga pada anak dengan disabilitas. Hasil kajian menunjukkan bahwa dukungan keluarga yang optimal, latihan yang dilakukan secara teratur dan terarah, serta intervensi fisioterapi yang tepat dapat meningkatkan kemampuan gerak anak, terutama pada aspek motorik kasar. Kerja sama antara keluarga dan tenaga kesehatan, khususnya fisioterapis, memiliki peran penting dalam keberhasilan program intervensi. Kesimpulannya, dukungan keluarga dan fisioterapi saling melengkapi dalam mendukung perkembangan kemampuan gerak anak dengan disabilitas dan perlu diterapkan secara berkelanjutan.
Sebagian besar anak dengan keterbelakangan mental sangat tergantung pada situasi di sekitarnya, terutama dukungan dari keluarga. Oleh karena itu, pendekatan untuk anak-anak ini dalam mengurangi ketergantungan pada aktivitas sehari-hari memerlukan pelatihan yang sesuai, memberikan pembelajaran, serta penguatan keterampilan dalam menjalankan aktivitas mereka. Untuk meningkatkan kemampuan dalam melakukan aktivitas fungsional, dukungan dalam pengembangan motorik kasar anak menjadi faktor penting dalam proses tumbuh kembangnya.(Afriza & Syaputri 2022)
Anak-anak yang mengalami disabilitas intelektual ditandai oleh kemampuan intelektual yang tidak mencapai tingkat kecerdasan rata-rata, dapat berpengaruh terhadap kemampuan mereka dalam merawat diri secara mandiri. Kondisi tersebut membuat individu lebih berisiko mengalami isolasi autisme, yang dipengaruhi oleh keterbatasan dalam menjaga kebersihan diri serta tingginya ketergantungan pada dukungan keluarga.(Purnamasari, N., Afifah, N., & Hardianto 2021)
Kemampuan gerak kasar anak juga dipengaruhi oleh peran keluarga dalam melakukan kegiatan rekreasi dan bermain anak. Anak akan merasa senang dan tertawa saat bermain dengan teman-temannya. Bermain sangat penting bagi anak karena dapat membantu pertumbuhan dan perkembangannya. Setiap jenis kegiatan bermain memiliki manfaat positif bagi pertumbuhan psikomotorik anak, sehingga anak mampu menggerakkan anggota tubuhnya secara terkoordinasi untuk meningkatkan kekuatan, kerja sama, serta kelincahan, meskipun setiap anak menunjukkan pola perkembangan yang berbeda.(Purnamasari, N., Afifah, N., & Hardianto 2021)
Perkembangan fungsi motorik sangat penting bagi anak agar kemampuannya dalam berpartisipasi pada kegiatan di sekolah dapat mengalami peningkatan selama aktivitas bermain. Pada anak usia sekolah, perkembangan motorik diharapkan berlangsung secara menyeluruh dan seimbang, sehingga bisa membantu mempersiapkan masa depan mereka. Perkembangan motorik yang baik melibatkan kemampuan koordinasi dan kekuatan otot dalam diri seseorang.(Purnamasari, N., Afifah, N., & Hardianto 2021)
Pelayanan autisme dan fisioterapi rehabilitasi medis merupakan dua elemen utama dalam mendukung pertumbuhan anak yang mengalami cerebral palsy (CP). Pelayanan autisme meliputi bantuan psikososial, untuk orang tua, pengaturan akses ke layanan, serta perlindungan dan pemenuhan hak anak dengan disabilitas. Di sisi lain, fisioterapi rehabilitasi medis bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik melalui program fisik yang terencana dan konsisten. Penggabungan kedua pendekatan ini dinilai dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan motorik kasar anak dengan CP. (Sidabutar, S., Yunardi, Y., Erlina, S. H., Fadhillah, L., Siburian, A. H., & Fajar 2025)
Artikel ini bertujuan untuk meneliti kontribusi dukungan dari keluarga, program yang terarah, serta rehabilitasi fisioterapi dalam membantu perkembangan kemampuan motorik kasar pada anak dengan disabilitas. Di samping itu, artikel ini juga membahas cara keterlibatan keluarga serta lingkungan sekitar, sekaligus penerapan layanan autisme, yang dapat berperan dalam meningkatkan kemampuan fungsional dan kemandirian anak dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, diharapkan artikel ini dapat memberikan wawasan yang menyeluruh tentang strategi intervensi yang efektif sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan dan kualitas hidup anak dengan kebutuhan khusus.(Sidabutar, S., Yunardi, Y., Erlina, S. H., Fadhillah, L., Siburian, A. H., & Fajar 2025)
Anak disabilitas dan perkembangan motorik
Anak-anak dengan disabilitas intelektual atau keterbelakangan mental memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah dan mengalami hambatan dalam menjalani aktivitas sehari-hari, kondisi ini sudah terjadi sejak mereka berada dalam tahap tumbuh kembang. Tingginya ketergantungan anak dalam menjalani aktivitas sehari-hari menjadi tanggungan yang berat bagi orang tua, pengasuh, dan penyedia layanan .(Purnamasari, N., Afifah, N., & Hardianto 2021)
Ketidakmampuan untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari seperti menjaga kebersihan diri, makan, dan sadar akan risiko merupakan salah satu tantangan terbesar di dunia. Pada anak dengan disabilitas intelektual, umumnya kemampuan yang dimiliki masih belum optimal. Situasi ini membuat beberapa anak dengan disabilitas intelektual harus bergantung pada orang lain dan memerlukan bimbingan saat menjalani kegiatan baik di rumah maupun di sekolah.(Purnamasari, N., Afifah, N., & Hardianto 2021)
Peran Fisioterapi dalam Perkembangan Motorik kasar
Fisioterapi adalah Ilmu yang memusatkan perhatian pada penyembuhan, perawatan, dan peningkatan kemampuan fisik individu melalui terapeutik, perawatan tubuh, dan pemanfaatan alat medis. Sasaran utama dari fisioterapi adalah untuk mengurangi rasa sakit, meningkatkan kemampuan bergerak, memperbaiki posisi tubuh, dan mengembalikan fungsi fisik yang terhambat akibat cedera, gangguan saraf, atau penyakit lainnya. (Murtono, T., Hidayanti, I., Purwanto, D. 2025)
Dalam konteks Cerebral palsy, fisioterapi memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung anak-anak yang mengalami kondisi tersebut. Cerebral palsy diketahui sebagai suatu gangguan perkembangan yang memengaruhi kemampuan gerak dan koordinasi tubuh karena kerusakan pada otak yang terjadi sebelum, selama, atau setelah proses kelahiran. Fisioterapi bisa memberikan bantuan kepada individu dengan cerebral palsy dengan berbagai cara. Salah satu cara tersebut adalah dengan meningkatkan motorik kasar serta koordinasi. Melalui fisioterapi, otot-otot yang lemah dapat dikuatkan, fleksibilitas dapat ditingkatkan, dan kemampuan motorik seperti berjalan, merangkak, atau menggunakan tangan dapat diperbaiki. (Murtono, T., Hidayanti, I., Purwanto, D. 2025)
Anak-anak dengan disabilitas intelektual sering menghadapi tantangan dalam hal koordinasi tubuh, kekuatan otot, dan kecakapan melakukan perubahan arah atau posisi dengan cepat, sehingga dibutuhkan aktivitas untuk menggerakkan tubuh secara aktif, pendekatan yang menyenangkan, dan memiliki makna. Dengan intervensi serta yang sesuai, kapasitas motorik kasar anak disabilitas intelektual dapat diperbaiki. Salah satu metode intervensi yang penting adalah dengan menggunakan seni tari tradisional. Tari tradisional menyatukan beberapa elemen utama, yaitu autis, irama, dan tubuh, yang dapat mendukung pengembangan keseimbangan serta koordinasi motorik kasar pada anak secara alami.(Imtihanah, W., Kismawiyati, R. 2025)
Kegiatan senam ceria berperan dalam menciptakan suasana yang menyenangkan bagi anak-anak dan bersifat interaktif. Kegiatan senam ceria memiliki dampak positif terhadap perkembangan motorik kasar anak melalui beberapa cara yang efisien, yaitu meningkatkan keseimbangan dan koordinasi. Aktivitas senam ceria sangat, mencakup berbagai macam, seperti berlari, melompat, dan berjinjit. Hal ini berkontribusi dalam memperbaiki keseimbangan serta koordinasi motorik kasar anak, serta membantu meningkatkan kekuatan dan kebugaran tubuh. Aktivitas fisik dalam senam ceria mencakup yang cukup intens, seperti berlari dan melompat, yang dapat memperkuat otot dan meningkatkan kebugaran tubuh.(Gustian, A. R. M., Handayani, S. L., Setyaningsih, M. n.d.)
Latihan sebagai Bagian dari Intervensi Fisioterapi
Pelayanan autism dan fisioterapi rehabilitasi medis berkontribusi secara signifikan terhadap perkembangan motorik kasar pada anak dengan CP. Layanan autisme menawarkan dukungan emosional, , dan motivasi bagi anak serta keluarganya, yang merupakan elemen krusial dalam proses rehabilitasi. Bantuan autisme yang teruji dapat meningkatkan kepatuhan terhadap terapi serta mempercepat pencapaian sasaran perkembangan. Fisioterapi rehabilitasi medis berfungsi secara langsung untuk merangsang anak melalui yang terencana. Kegiatan seperti peregangan, penguatan, dan keseimbangan terbukti mampu meningkatkan kemampuan motorik kasar, seperti duduk, berdiri, dan berjalan.(Sidabutar, S., Yunardi, Y., Erlina, S. H., Fadhillah, L., Siburian, A. H., & Fajar 2025)
Melalui pengajaran tarian tradisional, anak-anak dengan gangguan intelektual dapat mengembangkan keterampilan motorik kasar mereka. Setelah menjalani program selama delapan minggu, terjadi perubahan yang cukup berarti dalam kemampuan motorik kasar anak-anak dengan disabilitas intelektual. Kegiatan fisik yang berlangsung selama pengajaran tarian tradisional terbukti mampu merangsang perkembangan otot-otot besar, meningkatkan koordinasi, serta memperkuat keseimbangan tubuh anak dengan disabilitas intelektual. Anak-anak mulai mampu melakukan dasar, seperti melompat, membungkuk, memutar badan, dan berjalan sesuai dengan irama. Perpindahan posisi tubuh pada anak-anak juga tampak lebih terkoordinasi dengan baik.(Imtihanah, W., Kismawiyati, R. 2025)
Kegiatan senam ceria dalam enam sesi berlangsung, terlihat adanya kemajuan dalam keterampilan motorik mereka, seperti kemampuan koordinasi, bersosialisasi, dan kemandirian. Anak-anak memperlihatkan perkembangan dalam mengoordinasikan saat melompat dan berlari, menjadi lebih berani untuk berinteraksi satu sama lain dalam permainan kelompok, dan beberapa mulai menunjukkan kemandirian dalam mengikuti tanpa bantuan orang dewasa. Meskipun kegiatan senam ceria berjalan dengan lancar, ada beberapa tantangan yang dihadapi, yaitu keterbatasan fisik. Beberapa anak memiliki keterbatasan kemampuan dalam mengikuti, dan anak-anak dengan kebutuhan khusus sering memiliki tingkat konsentrasi yang bervariasi, sehingga perlu pendekatan yang lebih inovatif agar dapat menarik perhatian mereka.(Gustian, A. R. M., Handayani, S. L., Setyaningsih, M. n.d.)
Dukungan Keluarga dalam Proses Fisioterapi
Pada anak dengan autisme, peran orang tua sangat krusial dalam mendukung perkembangan perilaku dan konsentrasi anak. Salah satu bentuk penanganan nonfarmakologis yang dapat diterapkan adalah terapi diet bebas gluten, yang bertujuan membantu meningkatkan fokus dan perilaku anak.(Afriza & Syaputri 2022)
Sementara itu, pada anak dengan kebutuhan khusus, khususnya anak dengan disabilitas intelektual, pemilihan pola asuh serta dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam menunjang perkembangan kemandirian dan kemampuan fungsional anak dalam aktivitas kehidupan sehari-hariPerilaku anak autis dipengaruhi oleh dukungan sosial dari keluarga, khususnya orangtua. Sebagian besar dukungan emosional yang diberikan keluarga tergolong rendah. Terdapat pengaruh dari sentuhan, pelukan, dan perhatian orangtua terhadap anak; orangtua yang jarang memberikan pelukan atau kurang perhatian cenderung memiliki anak yang berperilaku hiperaktif. Sementara itu, dukungan berupa apresiasi dari keluarga, seperti pujian dan pemberian hadiah, paling signifikan terhadap perilaku positif anak. Orangtua yang acuh dan jarang memuji anak ketika mereka berhasil melakukan hal-hal positif memiliki dampak besar terhadap anaknya, dan kebanyakan anak menunjukkan perilaku hiperaktif. Mengingat dukungan dari keluarga dalam merawat anak yang mengidap autisme sangat krusial, maka penting untuk menganalisis dukungan keluarga yang diberikan kepada anak dengan autisme(Afriza & Syaputri 2022)
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi literatur. Data diperoleh dari jurnal ilmiah berbahasa Indonesia yang diakses melalui Google Scholar dan relevan dengan topik dukungan keluarga, latihan fisioterapi, serta perkembangan motorik anak. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menelusuri jurnal menggunakan kata kunci terkait topik penelitian. Selanjutnya, teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, yaitu menyajikan dan menjelaskan temuan dari jurnal secara sistematis dalam bentuk uraian yang jelas dan terstruktur.
Hasil kajian dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa perkembangan motorik kasar pada anak berkebutuhan khusus dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, baik dari aspek biologis, lingkungan, maupun intervensi yang diberikan. Enam jurnal yang dikaji dalam artikel ini menegaskan bahwa dukungan keluarga, pelayanan sosial, serta intervensi fisioterapi memiliki peranan penting dalam menunjang kemampuan motorik kasar dan kemandirian anak.
Penelitian oleh (Purnamasari, N., Afifah, N., & Hardianto 2021) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara peran keluarga dengan kemampuan motorik kasar anak disabilitas intelektual. Keterlibatan keluarga dalam mendampingi anak melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berjalan, bermain, dan aktivitas perawatan diri, berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan motorik kasar. Anak dengan disabilitas intelektual cenderung memiliki keterbatasan dalam fungsi adaptif sehingga membutuhkan stimulasi yang konsisten dari lingkungan terdekat, khususnya keluarga.
Temuan tersebut sejalan dengan jurnal pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh (Gustian, A. R. M., Handayani, S. L., Setyaningsih, M. n.d.) mengenai penerapan senam ceria pada anak berkebutuhan khusus. Aktivitas fisik yang dilakukan secara terstruktur dan menyenangkan terbukti mampu meningkatkan koordinasi, keseimbangan, serta kekuatan otot anak. Selain itu, suasana yang inklusif dan dukungan dari pendamping turut meningkatkan motivasi anak untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan, yang pada akhirnya berdampak positif pada perkembangan motorik kasar dan kepercayaan diri anak.
Sementara itu, pada anak dengan kondisi neurologis seperti cerebral palsy, peran fisioterapi rehabilitasi medik menjadi sangat dominan. Penelitian oleh (Sidabutar, S., Yunardi, Y., Erlina, S. H., Fadhillah, L., Siburian, A. H., & Fajar 2025) membuktikan bahwa fisioterapi rehabilitasi medik memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan motorik kasar anak dengan cerebral palsy. Latihan fisioterapi yang meliputi peregangan, penguatan otot, serta latihan keseimbangan mampu merangsang sistem neuromuskular sehingga meningkatkan kemampuan fungsional anak, seperti duduk, berdiri, dan berjalan. Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kombinasi antara pelayanan sosial dan fisioterapi memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan intervensi tunggal.
Aspek pelayanan sosial juga memiliki peranan penting dalam mendukung keberhasilan intervensi fisioterapi. Dukungan emosional, edukasi kepada orang tua, serta fasilitasi akses layanan kesehatan membantu meningkatkan kepatuhan terhadap program terapi. Hal ini terlihat dalam penelitian (Sidabutar, S., Yunardi, Y., Erlina, S. H., Fadhillah, L., Siburian, A. H., & Fajar 2025) di mana dukungan sosial yang baik mempercepat pencapaian target perkembangan motorik kasar anak. Dengan adanya dukungan keluarga dan lingkungan sosial, anak menjadi lebih termotivasi dan konsisten dalam mengikuti program rehabilitasi.
Pada anak dengan autisme, keterlibatan orang tua juga menjadi faktor krusial dalam mendukung perkembangan perilaku dan konsentrasi anak. Penelitian oleh (Afriza 2022) menekankan pentingnya peran orang tua dalam menerapkan penanganan nonfarmakologis, seperti terapi diet bebas gluten, yang bertujuan untuk menunjang konsentrasi dan perilaku anak. Dukungan keluarga yang optimal, baik dalam aspek emosional maupun pengelolaan pola hidup anak, berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup dan kemampuan fungsional anak dengan autisme.
Secara keseluruhan, keenam jurnal yang dikaji menunjukkan bahwa perkembangan motorik kasar anak berkebutuhan khusus tidak dapat dipisahkan dari pendekatan yang holistik. Intervensi fisioterapi yang terstruktur perlu didukung oleh peran keluarga, pelayanan sosial, serta lingkungan yang inklusif. Pendekatan bio-psiko-sosial menjadi kerangka yang tepat dalam menangani anak berkebutuhan khusus, karena tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga memperhatikan faktor psikologis dan sosial. Dengan intervensi yang berkelanjutan dan kolaboratif, perkembangan motorik kasar serta kemandirian anak berkebutuhan khusus dapat ditingkatkan secara optimal.
Berdasarkan analisis literatur, dapat disimpulkan bahwa dukungan keluarga, latihan yang terstruktur, dan fisioterapi memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung perkembangan motorik kasar anak penyandang disabilitas. Dukungan keluarga berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang kondusif, memberikan motivasi, serta mendorong kemandirian anak dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Latihan fisik yang dilakukan secara rutin dan disesuaikan dengan kemampuan anak terbukti efektif dalam meningkatkan kekuatan otot, koordinasi, serta kontrol gerak. Sementara itu, fisioterapi berfungsi sebagai intervensi profesional yang membantu merancang program latihan sesuai dengan kebutuhan spesifik anak guna meningkatkan kemampuan fungsional dan kualitas hidup. Oleh karena itu, penerapan ketiga elemen tersebut secara terpadu dan berkelanjutan sangat penting untuk memperoleh hasil yang optimal.
Oleh Hanifah Azzahra
Program Studi Fisioterapi, Fakultas FIKT Universitas Binawan
Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu: Apriani Riyanti
