Oleh: Michael Sepdio, Program Studi Kesejahteraan Sosial
Pendahuluan
Transportasi umum merupakan salah satu fasilitas publik yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Kehadirannya membantu masyarakat untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan lebih mudah, cepat, dan terjangkau. Namun, di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, masih terdapat persoalan yang sering dijumpai dalam penggunaan transportasi umum, yaitu kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sikap inklusif dan kepedulian sosial.
Tidakjarangkitamelihatkursiprioritasyangseharusnyadiperuntukkanbagilansia,ibu hamil, ibu yang membawa balita, dan penyandang disabilitas justru digunakan oleh orang yang tidak membutuhkan. Bahkan, ketika ada penumpang yang membutuhkan
bantuan,masihbanyakorangyangmemilihuntukbersikapacuhtakacuh.Fenomena ini menunjukkan bahwa pembangunan transportasi umum tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur dan teknologi, tetapi juga menyangkut nilai kemanusiaan dan kesadaran sosial.
Sebagai mahasiswa Kesejahteraan Sosial, isu ini menjadi hal yang penting untuk dibahaskarenaberkaitaneratdenganupayamenciptakanlingkunganyangadil,setara, dan menghargai hak setiap individu.
PengertianTransportasiUmumyangInklusif
Transportasi umum yang inklusif adalah sistem transportasi yang dapat diakses, digunakan,danmemberikanrasaamansertanyamanbagiseluruhlapisanmasyarakat tanpa memandang usia, kondisi fisik, jenis kelamin, maupun latar belakang sosial.
Inklusivitasbukanhanyaberbicaratentangtersedianyafasilitassepertikursiprioritas, jalur landai, atau petunjuk suara bagi penyandang disabilitas, tetapi juga tentang bagaimanamasyarakatmemilikikepeduliandanmenghormatihakpenggunalainnya.
Dengankatalain,transportasiyanginklusiftidakhanyadibangunmelaluisaranadan prasarana, tetapi juga melalui perilaku masyarakat yang saling menghargai dan membantu satu sama lain.
Kurangnya Kesadaran Masyarakat dalam PenggunaanKursiPrioritas
Salah satu permasalahan yang masih sering ditemui adalah rendahnya kesadaran masyarakatdalammenggunakankursiprioritas.Banyakpenumpangyangsebenarnya dalam kondisi sehat dan mampu berdiri, tetapi tetap memilih duduk di kursi prioritas tanpa memberikan kesempatan kepada mereka yang lebih membutuhkan.
Padahal,bagiseoranglansia,berdiridalamwaktuyanglamadapatmeningkatkanrisiko jatuh dan menimbulkan kelelahan. Bagi ibu hamil, menjaga keseimbangan tubuh di
kendaraan yang bergerak bukanlah hal yang mudah. Begitu pula dengan ibu yang membawabalitadanpenyandangdisabilitasyangmembutuhkankenyamananserta keamanan selama perjalanan.
Kurangnyakesadaraninimenunjukkanbahwamasihadasebagianmasyarakatyang memandang kursi prioritas hanya sebagai fasilitas biasa, bukan sebagai bentuk perlindungan dan penghormatan terhadap kelompok yang membutuhkan perhatian khusus.
Pentingnya Sikap Saling Membantu di Transportasi Umum
Selain persoalan kursi prioritas, sikap saling membantu juga menjadi aspek penting dalam mewujudkan transportasi umum yang inklusif. Membantu orang lain sebenarnya tidakharusdilakukandenganhalyangbesar.Tindakansederhanasepertimenawarkan tempat duduk, membantu penyandang disabilitas menemukan pintu keluar, membimbingtunanetramenujutempatyangdituju,ataumembantuibuyangmembawa banyak barang dapat memberikan dampak yang sangat berarti.
Sayangnya, perkembangan teknologi dan gaya hidup yang semakin individualistis membuat sebagian orang lebih fokus pada dirinya sendiri. Tidak sedikit penumpang yangmemilihbermaintelepongenggamataumenggunakanearphonesehinggakurang peka terhadap kondisi di sekitarnya.
Padahal, kepedulian sosial merupakan salah satu nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat.Ketikaseseorangmembantuoranglaindiruangpublik,makaiaturut menciptakan lingkungan yang lebih aman, nyaman, dan manusiawi.
Peran Kesejahteraan Sosial dalam Mendorong Inklusivitas
DalamperspektifKesejahteraanSosial,setiapindividumemilikihakyangsamauntuk memperoleh akses terhadap pelayanan publik, termasuk transportasi umum. Oleh karena itu, menciptakan transportasi yang inklusif merupakan bagian dari upaya mewujudkan keadilan sosial dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Mahasiswa dan praktisi Kesejahteraan Sosial memiliki peran penting dalam memberikanedukasikepadamasyarakatmengenaipentingnyamenghargaihak kelompok rentan. Edukasi tersebut dapat dilakukan melalui kampanye sosial, penyuluhan, media sosial, maupun kegiatan pengabdian masyarakat.
Selainitu,pemerintahdanpenyedialayanantransportasijugaperluterusmeningkatkan fasilitas yang ramah bagi semua pengguna, seperti menyediakan informasi dalam bentuk suara dan huruf braille, memperbanyak jalur akses bagi pengguna kursi roda, serta melakukan sosialisasi secara berkala mengenai etika menggunakan transportasi umum.
Membangun Budaya Inklusif Dimulai dari Diri Sendiri
Mewujudkanduniayanginklusiftidakharusmenungguperubahanbesar.Semuadapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan setiap hari. Memberikan kursi kepada orang yang membutuhkan, menawarkan bantuan tanpa diminta, serta menghargai perbedaan merupakan langkah kecil yang dapat membawa perubahan besar bagi kehidupan sosial.
Budayainklusifjugaperluditanamkansejakdini,baikdilingkungankeluarga,sekolah, maupun masyarakat. Ketika nilai-nilai kepedulian dan empati terus diajarkan, maka akan tumbuh generasi yang lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan mampu menciptakan ruang publik yang ramah bagi semua.
Penutup
Transportasiumumbukanhanyasekadarsaranauntukberpindahtempat,tetapijuga menjadi cerminan karakter dan kepedulian masyarakat. Masih adanya penumpang yang mengabaikan kursi prioritas dan kurangnya kesadaran untuk saling membantu menunjukkan bahwa upaya mewujudkan transportasi yang inklusif masih perlu terus dilakukan.
Sebagai bagian dari masyarakat, kita memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkunganyangmenghargaisetiapindividutanpaterkecuali.Inklusivitastidakhanya diwujudkan melalui fasilitas yang memadai, tetapi juga melalui sikap saling menghormati, peduli, dan membantu sesama.
Apabila setiap orang memiliki kesadaran bahwa ruang publik adalah milik bersama, maka transportasi umum akan menjadi tempat yang lebih aman, nyaman, dan manusiawi bagi semua orang. Dengan demikian, cita-cita untuk mewujudkan dunia yanginklusifbukanlahhalyangmustahil,melainkantujuanyangdapatdicapaimelalui kepedulian dan kerja sama seluruh elemen masyarakat.
