Oleh: Murodi al-Batawi
Indonesia kekurangan pemimpin, tapi kelebihan sarjana. Setiap tahun kampus meluluskan jutaan orang pintar. Tapi berapa yang siap jadi nahkoda?. Jadi pemimpin?. Di ruang-ruang rapat, di balai desa, di masjid, kita masih sering dengar keluhan: “sulit cari pemimpin yang amanah, tegas, sekaligus berempati”.
Ternyata jawabannya sudah ada sejak lama, di ujung jalan kampung: _*pesantren_*. Pesantren bukan hanya pabrik hafidz dan kyai. Ia adalah _*academi leadership_* paling otentik di negeri ini. Tanpa PowerPoint, tanpa sertifikat, tapi lulusannya terbukti memimpin jamaah, organisasi, bahkan bangsa.
Paling tidak, Leadership pesantren punya 3 ciri yang kini dicari dunia: kepemimpinan adab, kepemimpinan teladan, kepemimpinan pengabdian.
_*Pertama_*, kepemimpinan adab: memimpin diri sebelum memimpin orang. Di pesantren, santri bangun pukul 03.00. Bukan karena ada absen. Tapi karena adab kepada Allah. Ia antre makan, antre kamar mandi, antre cium tangan kyai. Bukan karena aturan. Tapi karena adab kepada sesama dan guru.
Ini latihan leadership paling dasar: mengendalikan ego. Pemimpin yang tidak bisa antre, tidak akan bisa adil. Pemimpin yang tidak bisa bangun malam untuk Tuhannya, akan sulit bangun pagi untuk rakyatnya.
KH Hasyim Asy’ari mendirikan NU bukan karena ambisi politik. Tapi karena adab: adab menjaga umat dari penjajah, adab menjaga tradisi dari purifikasi liar. Leadership lahir dari adab. Adab lahir dari disiplin pesantren.
_*Kedua_*, kepemimpinan teladan: “sami’na wa atho’na” karena wibawa, bukan karena jabatan. Kyai memimpin tanpa SK. Santri taat tanpa gaji. Apa rahasianya? Teladan. Kyai tidur paling akhir, bangun paling awal. Makan setelah santri kenyang. Marah tapi memaafkan. Tegas tapi menyayang.
Leadership modern menyebutnya _*role model leadership_*. Tapi pesantren sudah mempraktikkan 10 abad lalu. Santri belajar kepemimpinan bukan dari slide, tapi dari melihat kyai membungkuk saat mencuci piring, atau kyai menangis saat doa qunut.
Inilah yang hilang dari banyak pemimpin hari ini: wibawa tanpa arogansi. Tegas tanpa melukai. Pesantren mencetaknya lewat “ngalap berkah”: santri meniru gerak-gerik kyai sampai ke cara minum dan cara tersenyum.
_*Ketiga_*, kepemimpinan pengabdian: “khairunnas anfa’uhum linnas”. Santri diajarkan: ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. Karena itu ada kerja bakti, piket dapur, jaga malam, membantu mengajar ngajar. Tidak ada santri “sultan”. Semua kerja. Gus Dur pernah nyapu ndalem, Buya Hamka pernah jadi guru ngaji keliling.
_*Leadership pesantren anti-star syndrome_*. Ia mengajarkan: kamu boleh jadi ketua, tapi tetap harus angkat galon. Kamu boleh jago orasi, tapi tetap harus bisa nyapu masjid. Inilah antidot dari pemimpin yang hanya bisa pidato tapi tidak bisa kerja nyata.
Hasilnya? Lihat sejarah. Hampir semua tokoh bangsa punya “sanad pesantren”: Soekarno berguru ke KH Hasyim, Natsir dari Masyumi, Gus Dur cucu kyai, Buya Hamka dididik ayahnya. Bahkan pemimpin Muhammadiyah awal banyak yang pernah nyantri dulu sebelum hijrah ke madrasah modern.
_*Tantangannya hari ini: bagaimana pesantren adaptif tanpa kehilangan ruh leadership ini?_*.
1. *Tambah “kurikulum kepemimpinan” eksplisit*: Latihan orasi, manajemen konflik, public speaking, literasi digital. Tapi kemas dengan adab. Orasi tanpa merendahkan. Kritik tanpa menghina.
2. *Regenerasi kepemimpinan santri*: OSIS pesantren jangan jadi seremonial. Beri ruang santri kelola koperasi, kelola radio streaming, kelola kebun. Salah boleh, asal dibimbing. Pemimpin ditempa, bukan ditunjuk.
3. *Alumni jadi jejaring kepemimpinan*: IKA pesantren harus upgrade dari kumpul nostalgia menjadi “inkubator pemimpin”. Alumni DPR, bupati, CEO pulang ngajar. Bukan ceramah, tapi bedah kasus.
Pemerintah dan masyarakat juga punya peran. Jangan hanya minta pesantren cetak penghafal Quran. Minta juga mereka cetak pemimpin desa, pemimpin BUMDes, pemimpin masjid yang melek data. Beri ruang, beri kepercayaan, beri anggaran pembinaan.
Penutup
Indonesia 2045 butuh 4 juta pemimpin muda. Jangan hanya andalkan kampus. Kembalikan pesantren ke “khodam peradaban” seperti dulu. Tempat kyai melahirkan murid, murid melahirkan gerakan, gerakan melahirkan perubahan.
Karena bangsa ini tidak butuh orang yang paling pintar bicara. Bangsa ini butuh orang yang paling berani mengabdi. Dan pesantren, dengan segala keterbatasannya, masih jadi tempat paling jujur untuk menempa itu. Demikian dan terima kasih[odie].
Wallahu a’lam bishshawab.
Pamulang,08 Juni 2026.
Murodi al-Batawi.
