Pola Pengasuhan Anak dalam Membentuk Keluarga Sakinah

oleh
oleh

DEPOKPOS – Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam proses pembentukan kepribadian anak. Kualitas pola pengasuhan yang diterapkan orang tua berpengaruh terhadap perkembangan moral, emosional, sosial, dan spiritual anak. Dalam perspektif Islam, pengasuhan anak tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga bertujuan membentuk generasi yang beriman, berakhlak mulia, serta mampu menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi.

Artikel ini bertujuan menganalisis peran pola pengasuhan dalam membentuk generasi sakinah melalui pendekatan kajian pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa pola pengasuhan yang mengedepankan kasih sayang, keteladanan, komunikasi yang baik, serta pendidikan agama sejak dini berkontribusi terhadap terbentuknya keluarga yang harmonis dan generasi yang berkualitas. Selain itu, keterlibatan ayah dan ibu secara seimbang dalam pengasuhan menjadi faktor penting dalam mendukung perkembangan anak.

Oleh karena itu, pengasuhan yang berlandaskan nilai-nilai Islam dapat menjadi fondasi dalam mewujudkan generasi sakinah yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Dalam keluarga, anak pertama kali belajar mengenai nilai, norma, dan perilaku yang akan menjadi bekal dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, kualitas pengasuhan yang diberikan oleh orang tua memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan anak, baik dari aspek psikologis, sosial, maupun spiritual.

Dalam Islam, keluarga dipandang sebagai sarana untuk mewujudkan kehidupan yang sakinah, mawaddah, dan rahmah sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ar-Rum ayat 21. Keluarga sakinah tidak hanya ditandai oleh terpenuhinya kebutuhan material, tetapi juga oleh terciptanya ketenangan, kasih sayang, serta hubungan yang harmonis antaranggota keluarga. Upaya membangun keluarga sakinah memerlukan proses yang berkelanjutan, salah satunya melalui pola pengasuhan yang tepat (Randani & Krismono, 2024).

Keluarga yang harmonis tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses pendidikan dan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung tumbuh kembang anak, baik dari aspek fisik, psikologis, sosial, maupun spiritual. Dalam konteks tersebut, pola pengasuhan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pembentukan karakter dan kepribadian anak. Pengasuhan yang dilandasi nilai-nilai keislaman, seperti kasih sayang, tanggung jawab, keteladanan, dan komunikasi yang baik, dapat membantu anak mengembangkan sikap positif serta kemampuan untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Selain itu, keseimbangan peran antara ayah dan ibu dalam mendidik dan membimbing anak juga berkontribusi terhadap terciptanya suasana keluarga yang penuh ketenangan dan saling menghargai. Dengan demikian, penerapan pola pengasuhan yang tepat tidak hanya berpengaruh terhadap perkembangan individu anak, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam mewujudkan keluarga sakinah yang mampu melahirkan generasi berakhlak mulia dan berkualitas.

Perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat menghadirkan tantangan baru bagi orang tua dalam mengasuh anak. Anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan digital yang memberikan berbagai peluang sekaligus risiko terhadap perkembangan mereka. Oleh sebab itu, orang tua dituntut untuk mampu menyesuaikan pola pengasuhan dengan kebutuhan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai agama dan moral yang menjadi fondasi utama kehidupan keluarga (Mastarokhah, 2025).

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pola pengasuhan anak berperan dalam membentuk generasi sakinah berdasarkan perspektif psikologi dan nilai-nilai Islam.

Konsep Generasi Sakinah dalam Perspektif Islam

Konsep sakinah berasal dari kata sakana yang berarti tenang, tenteram, dan damai. Dalam konteks keluarga, sakinah merujuk pada kondisi kehidupan keluarga yang harmonis, penuh kasih sayang, serta dilandasi oleh keimanan kepada Allah SWT. Keluarga sakinah dibangun melalui hubungan yang saling menghormati, memenuhi hak dan kewajiban masing-masing, serta berupaya meningkatkan kualitas spiritual anggota keluarga (Sainul, 2018).

Menurut konsep keluarga sakinah yang dikembangkan Kementerian Agama, keluarga yang harmonis ditandai oleh terpenuhinya kebutuhan spiritual, sosial, psikologis, dan material secara seimbang. Selain itu, pendidikan anak yang baik dan pertumbuhan nilai-nilai keagamaan menjadi indikator penting dalam mewujudkan keluarga sakinah (Randani & Krismono, 2024).

Keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan keluarga menjadi aspek penting dalam mewujudkan keluarga sakinah. Kebutuhan tersebut tidak hanya mencakup aspek ekonomi atau material, tetapi juga kebutuhan emosional, sosial, psikologis, dan spiritual setiap anggota keluarga. Dalam keluarga yang harmonis, orang tua berupaya menciptakan suasana yang mendukung perkembangan anak melalui pemberian kasih sayang, perhatian, rasa aman, serta pendidikan yang memadai. Selain itu, penanaman nilai-nilai agama sejak dini berperan sebagai pedoman dalam membentuk perilaku dan karakter anak agar sesuai dengan ajaran Islam. Pendidikan agama yang diterapkan secara konsisten dalam lingkungan keluarga dapat membantu anak memahami tanggung jawabnya sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat. Oleh karena itu, keberhasilan membangun keluarga sakinah tidak hanya diukur dari terpenuhinya kebutuhan hidup sehari-hari, tetapi juga dari kemampuan keluarga dalam menumbuhkan kualitas keimanan, hubungan sosial yang sehat, serta perkembangan psikologis yang positif pada setiap anggotanya

Generasi sakinah dapat dipahami sebagai generasi yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sehat secara psikologis dan spiritual. Generasi ini memiliki karakter yang kuat, berakhlak mulia, mampu mengendalikan diri, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Pola Pengasuhan Anak dan Perkembangannya

Pola pengasuhan merupakan cara orang tua membimbing, mendidik, mengarahkan, dan mengawasi anak selama proses pertumbuhan dan perkembangan. Dalam psikologi, pola pengasuhan yang efektif adalah pola yang mampu menyeimbangkan antara kontrol dan kasih sayang. Anak memerlukan batasan yang jelas, tetapi juga membutuhkan dukungan emosional agar dapat berkembang secara optimal.

Kajian psikologi menunjukkan bahwa pola pengasuhan yang hangat dan responsif mampu meningkatkan kepercayaan diri, kemandirian, serta kemampuan sosial anak. Sebaliknya, pola pengasuhan yang terlalu otoriter atau terlalu permisif dapat menimbulkan berbagai permasalahan perkembangan, seperti rendahnya kemampuan regulasi diri dan kesulitan dalam berinteraksi sosial (Baumrind, 1991).

Temuan dalam bidang psikologi perkembangan menunjukkan bahwa cara orang tua berinteraksi dengan anak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan kepribadian dan kemampuan sosial mereka. Pola pengasuhan yang ditandai dengan kehangatan, perhatian, serta respons yang positif terhadap kebutuhan anak dapat membantu anak mengembangkan rasa percaya diri, kemampuan mengambil keputusan, dan keterampilan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, pola pengasuhan yang terlalu menekankan kontrol tanpa memberikan ruang bagi anak untuk berpendapat, maupun pola pengasuhan yang terlalu membebaskan tanpa adanya batasan yang jelas, berpotensi menghambat perkembangan anak. Kondisi tersebut dapat menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi, kurang bertanggung jawab terhadap perilakunya, serta menghadapi hambatan dalam menjalin hubungan sosial yang sehat. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara pemberian kasih sayang dan penerapan aturan agar anak dapat tumbuh menjadi individu yang mandiri, bertanggung jawab, dan mampu beradaptasi dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat (Baumrind, 1991).

Dalam perspektif Islam, pengasuhan anak merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Orang tua tidak hanya bertugas memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga membimbing perkembangan akhlak, keimanan, dan karakter mereka. Sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Tahrim ayat 6, setiap orang tua memiliki kewajiban menjaga diri dan keluarganya dari berbagai bentuk keburukan. Tanggung jawab tersebut mencakup upaya menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini agar anak memiliki landasan moral yang kuat dalam menjalani kehidupan. Melalui pendidikan agama yang konsisten serta keteladanan dari orang tua, anak diharapkan mampu tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan memiliki kesadaran untuk menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Peran Ayah dan Ibu dalam Membentuk Generasi Sakinah

Pengasuhan anak sering kali identik dengan peran ibu. Namun, penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah juga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan anak. Dalam perspektif Islam, pengasuhan merupakan tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu (Randani & Krismono, 2024). Kedua orang tua memiliki peran yang saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan fisik, emosional, sosial, dan spiritual anak. Kehadiran ayah dan ibu yang aktif dalam proses pengasuhan dapat menciptakan lingkungan keluarga yang lebih stabil dan mendukung perkembangan anak secara optimal. Selain itu, kerja sama yang baik antara kedua orang tua juga membantu anak memperoleh teladan positif dalam membangun hubungan yang sehat dan harmonis dengan orang lain.

Ayah berperan sebagai penyedia kebutuhan keluarga, pelindung, pengambil keputusan, pendidik, sekaligus teladan bagi anak-anaknya. Sementara itu, ibu berperan dalam memberikan dukungan emosional, pengasuhan sehari-hari, serta pembentukan kelekatan yang kuat dengan anak. Kolaborasi antara ayah dan ibu akan menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif bagi perkembangan anak.

Keterlibatan ayah dan ibu dalam pengasuhan memberikan kontribusi yang berbeda tetapi saling melengkapi dalam proses tumbuh kembang anak. Ayah tidak hanya bertanggung jawab memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi juga berperan dalam memberikan perlindungan, arahan, serta menjadi figur teladan yang dapat dicontoh oleh anak dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, ibu umumnya memiliki peran yang lebih dekat dalam memberikan perhatian, kasih sayang, dan pendampingan pada aktivitas anak sehingga tercipta ikatan emosional yang kuat. Sinergi antara kedua orang tua tersebut memungkinkan anak memperoleh dukungan yang utuh, baik dari aspek fisik, emosional, sosial, maupun moral. Melalui kerja sama yang baik dalam menjalankan fungsi pengasuhan, orang tua dapat menciptakan suasana keluarga yang hangat, aman, dan nyaman sehingga mendukung pembentukan karakter serta perkembangan psikologis anak secara optimal

Penelitian Randani dan Krismono (2024) menemukan bahwa keterlibatan ayah dalam pendidikan, perlindungan, dan pembinaan karakter anak berkontribusi terhadap terciptanya keluarga yang lebih harmonis. Anak yang mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik, kemampuan sosial yang lebih tinggi, dan tingkat kepercayaan diri yang lebih kuat.

Pengasuhan Islami sebagai Fondasi Generasi Sakinah

Pengasuhan Islami menempatkan nilai-nilai agama sebagai dasar dalam proses pendidikan anak. Nilai tersebut diwujudkan melalui keteladanan, pembiasaan ibadah, komunikasi yang baik, serta penguatan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Melalui penerapan nilai-nilai tersebut, anak tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang ajaran agama, tetapi juga belajar mengaplikasikannya dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Keteladanan yang diberikan orang tua menjadi faktor penting karena anak cenderung meniru perilaku yang mereka lihat dalam lingkungan keluarga. Dengan demikian, pengasuhan Islami berperan dalam membentuk karakter anak yang beriman, berakhlak mulia, serta memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Selain itu, pengasuhan Islami juga relevan dalam menghadapi tantangan era digital. Orang tua perlu mendampingi anak dalam menggunakan teknologi secara bijaksana agar terhindar dari dampak negatif seperti kecanduan gawai, paparan konten yang tidak sesuai, maupun menurunnya kualitas interaksi sosial. Pendampingan yang dilakukan tidak hanya berupa pengawasan teknis, tetapi juga pemberian pemahaman moral dan spiritual mengenai penggunaan teknologi secara bertanggung jawab (Mastarokhah, 2025).

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, orang tua dituntut untuk menyesuaikan pola pengasuhan dengan dinamika kehidupan modern tanpa mengabaikan nilai-nilai agama. Penggunaan internet, media sosial, dan berbagai perangkat digital telah menjadi bagian dari kehidupan anak sehari-hari sehingga memerlukan pendampingan yang tepat dari keluarga. Dalam pengasuhan Islami, orang tua tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga sebagai pembimbing yang membantu anak memahami batasan antara penggunaan teknologi yang bermanfaat dan yang berpotensi memberikan dampak negatif. Melalui komunikasi yang terbuka serta penanaman nilai-nilai moral dan keagamaan, anak dapat dibekali kemampuan untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Dengan demikian, pengasuhan Islami menjadi pendekatan yang relevan dalam membantu anak menghadapi tantangan era digital sekaligus menjaga perkembangan karakter, kesehatan mental, dan kualitas hubungan sosial mereka

Dengan demikian, pengasuhan Islami tidak hanya berorientasi pada pembentukan perilaku yang baik, tetapi juga membangun kesadaran spiritual yang akan menjadi pedoman hidup anak hingga dewasa.

Kesimpulan

Pola pengasuhan anak merupakan faktor fundamental dalam membentuk generasi sakinah yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai agama, moral, dan karakter yang akan menjadi bekal anak dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, keberhasilan pembentukan generasi sakinah tidak hanya ditentukan oleh pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga oleh kualitas hubungan antara orang tua dan anak melalui komunikasi yang positif, keteladanan, kasih sayang, serta pendampingan yang berkelanjutan.

Dalam perspektif Islam, pengasuhan anak merupakan amanah yang harus dilaksanakan oleh kedua orang tua secara bersama-sama. Keterlibatan ayah dan ibu dalam proses pendidikan, pembinaan karakter, serta penguatan nilai-nilai keagamaan terbukti berkontribusi terhadap terciptanya keluarga yang harmonis dan lingkungan yang mendukung perkembangan anak. Di tengah perkembangan teknologi dan tantangan era digital, orang tua juga dituntut untuk menerapkan pola pengasuhan yang adaptif tanpa mengabaikan prinsip-prinsip Islam sebagai landasan utama. Dengan menerapkan pola pengasuhan yang seimbang antara aspek psikologis dan spiritual, diharapkan lahir generasi sakinah yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, memiliki ketahanan diri yang baik, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Azalea Syifa Aulia (2508015058)
Fawazah Khairun Niswah (2508015067)
Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka