Oleh: Gustin Nearlin Pradinda, program Studi Psikologi-Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Perceraian orang tua merupakan salah satu peristiwa dalam keluarga yang dapat memengaruhi kondisi psikologis anak, terutama pada masa remaja. Remaja yang mengalami perceraian orang tua sering menghadapi perubahan emosional, kehilangan rasa aman, serta kurangnya perhatian dan dukungan keluarga. Kondisi tersebut dapat menimbulkan kesepian psikologis yang ditandai dengan perasaan sendiri, tidak dipahami, dan kurang memiliki kedekatan emosional dengan orang lain.
Artikel ini bertujuan untuk membahas dampak perceraian orang tua terhadap kesepian psikologis remaja dalam perspektif Islam. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji berbagai jurnal, buku, dan sumber ilmiah terkait perceraian, psikologi remaja, dan pandangan Islam mengenai keluarga. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa perceraian dapat memengaruhi kesehatan mental remaja apabila tidak diimbangi dengan perhatian dan komunikasi yang baik dari orang tua. Dalam perspektif Islam, orang tua tetap memiliki tanggung jawab untuk memberikan kasih sayang, perlindungan, dan pendidikan kepada anak meskipun telah bercerai. Oleh karena itu, dukungan keluarga, lingkungan sosial, dan nilai-nilai agama sangat penting untuk membantu remaja mengatasi kesepian psikologis.
Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak dalam memperoleh kasih sayang, pendidikan, dan pembentukan karakter. Keharmonisan keluarga memiliki peran penting dalam perkembangan emosional dan psikologis anak, terutama pada masa remaja. Namun, tidak semua keluarga dapat mempertahankan hubungan rumah tangga dengan baik. Perceraian menjadi salah satu masalah keluarga yang dapat memberikan dampak besar terhadap kehidupan anak.
Masa remaja merupakan tahap perkembangan yang penuh dengan perubahan fisik, emosional, dan sosial. Pada masa ini, remaja membutuhkan dukungan dan perhatian dari keluarga untuk membentuk identitas diri dan kestabilan emosi. Ketika perceraian terjadi, sebagian remaja mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi keluarga. Akibatnya, muncul berbagai masalah psikologis seperti sedih, cemas, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga kesepian psikologis.
Dalam perspektif Islam, keluarga dibangun untuk menciptakan ketenteraman, kasih sayang, dan perlindungan bagi seluruh anggota keluarga. Oleh karena itu, perceraian yang terjadi tanpa pengelolaan yang baik dapat memengaruhi kondisi emosional anak. Artikel ini membahas dampak perceraian orang tua terhadap kesepian psikologis remaja serta tinjauannya dalam perspektif Islam.
Perceraian orang tua dapat memengaruhi kondisi psikologis remaja karena adanya perubahan hubungan dalam keluarga. Sebagian remaja merasa kehilangan perhatian dan kedekatan emosional dengan orang tua setelah perceraian terjadi. Selain itu, konflik yang berlangsung dalam keluarga juga dapat membuat remaja merasa tidak nyaman dan kehilangan rasa aman.
Kesepian psikologis atau loneliness merupakan kondisi ketika seseorang merasa kurang memiliki hubungan emosional yang dekat dan bermakna. Pada remaja korban perceraian, kesepian psikologis dapat muncul akibat kurangnya komunikasi, perhatian, dan dukungan emosional dari keluarga. Remaja yang mengalami kesepian biasanya menunjukkan perilaku seperti menarik diri, merasa sedih, sulit mempercayai orang lain, dan merasa berbeda dari teman sebayanya.
Dalam perspektif Islam, perceraian diperbolehkan apabila rumah tangga sudah tidak dapat dipertahankan. Namun, Islam tetap menekankan tanggung jawab orang tua terhadap anak meskipun telah berpisah. Orang tua tetap wajib memberikan kasih sayang, pendidikan, perhatian, dan perlindungan kepada anak. Hal ini sesuai dengan tujuan keluarga dalam Islam, yaitu menciptakan ketenteraman dan kasih sayang sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ar-Rum ayat 21.
Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga kesehatan mental dan hubungan sosial yang baik. Oleh karena itu, remaja korban perceraian memerlukan dukungan keluarga, lingkungan, dan pendidikan agama agar mampu menghadapi kondisi psikologis yang dialaminya secara lebih positif. Dukungan emosional dan komunikasi yang baik dapat membantu mengurangi rasa kesepian dan meningkatkan kesejahteraan psikologis remaja.
Perceraian orang tua dapat memberikan dampak psikologis terhadap remaja, salah satunya berupa kesepian psikologis. Perasaan kehilangan perhatian, kurangnya dukungan emosional, dan perubahan hubungan keluarga menjadi faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Dalam perspektif Islam, orang tua tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga kesejahteraan anak meskipun telah bercerai. Oleh karena itu, komunikasi yang baik, perhatian emosional, serta penanaman nilai agama sangat penting untuk membantu remaja menghadapi dampak perceraian secara lebih sehat dan positif.
