Saat Lima Menit Terasa Terlalu Lama

oleh
oleh

Oleh Fanya Alsya Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi.

Pernah tidak merasa gelisah ketika chat yang kita kirim belum dibalas selama beberapa menit? Atau merasa sedikit kesal ketika video yang sedang ditonton tiba-tiba buffering? Hal-hal kecil seperti ini sekarang terasa cukup mengganggu, padahal dulu mungkin tidak terlalu dipikirkan. Di era digital, lima menit saja kadang bisa terasa lama. Kita terbiasa dengan segala sesuatu yang serba cepat, dari mencari informasi, memesan makanan, hingga berkomunikasi. Akibatnya, proses menunggu perlahan menjadi sesuatu yang tidak nyaman.

Kalau kita lihat ke belakang, cara kita beraktivitas memang berubah cukup jauh. Dulu, mencari informasi perlu membuka buku atau bertanya kepada orang lain. Sekarang, hampir semua jawaban bisa ditemukan dalam hitungan detik lewat ponsel. Begitu juga dengan aktivitas lain seperti belanja, transportasi, hingga hiburan yang semuanya bisa diakses dengan cepat. Menurut DataReportal (2025), pengguna internet di Indonesia sudah mencapai lebih dari 212 juta orang atau sekitar 74,6 persen dari total populasi. Ini menunjukkan bahwa teknologi digital sudah menjadi bagian besar dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Perubahan ini memang membawa banyak kemudahan. Namun tanpa disadari, kita jadi terbiasa dengan kecepatan. Hal-hal yang dulu terasa wajar untuk ditunggu, sekarang sering terasa terlalu lama. Misalnya dalam komunikasi sehari-hari, banyak orang mulai merasa tidak tenang ketika pesan yang dikirim belum dibalas dalam waktu singkat. Bahkan, sebagian orang mulai mengecek ponselnya berkali-kali hanya untuk memastikan tidak ada pesan yang terlewat.

Kebiasaan ini perlahan memengaruhi cara kita menilai komunikasi. Kecepatan membalas pesan sering dianggap sebagai tanda perhatian, padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Setiap orang punya kesibukan masing-masing, ada yang sedang bekerja, belajar, atau beristirahat sehingga tidak selalu bisa merespons dengan cepat. Di titik ini, kita sering lupa bahwa tidak semua hal harus terjadi secara instan.

Hal yang sama juga terlihat dari berbagai layanan digital yang kita gunakan sehari-hari. Sekarang makanan bisa datang dalam waktu singkat, kendaraan bisa dipesan hanya lewat aplikasi, dan hiburan selalu tersedia kapan saja. Semua ini membuat kita semakin terbiasa dengan kecepatan. Akibatnya, sedikit keterlambatan saja sering terasa mengganggu atau membuat tidak sabar.

Dalam psikologi, kondisi ini sering dikaitkan dengan konsep instant gratification atau kepuasan instan, yaitu kecenderungan untuk menginginkan hasil yang cepat dibandingkan menunggu sesuatu yang lebih bernilai. Penelitian oleh Schulz van Endert dan Mohr (2020) dalam jurnal PLOS ONE menunjukkan bahwa penggunaan smartphone yang lebih tinggi berkaitan dengan kecenderungan memilih kepuasan yang diperoleh secara langsung. Artinya, semakin sering kita terbiasa dengan hal yang instan, semakin besar kecenderungan kita untuk sulit menunda keinginan.

Penelitian lain oleh Schutten, Stokes, dan Arnell (2017) dalam Cognitive Research: Principles and Implications juga menunjukkan bahwa orang yang sering melakukan media multitasking cenderung lebih sulit menunda kepuasan. Kebiasaan berpindah cepat dari satu informasi ke informasi lain membuat kita terbiasa dengan stimulasi instan, sehingga proses yang membutuhkan waktu terasa lebih berat.

Dampaknya tidak hanya terlihat dalam cara kita menggunakan teknologi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang sekarang ingin semuanya serba cepat, termasuk dalam belajar, bekerja, atau mencapai tujuan pribadi. Ketika hasil tidak segera terlihat, rasa tidak sabar atau frustrasi sering muncul lebih cepat dibandingkan dulu. Padahal, sebagian hal dalam hidup memang membutuhkan proses yang tidak singkat.

Di sisi lain, tidak sepenuhnya tepat jika semua ini disalahkan pada teknologi. Teknologi sebenarnya membantu banyak hal menjadi lebih efisien, mulai dari pekerjaan, pendidikan, hingga komunikasi. Masalahnya muncul ketika kecepatan menjadi standar dalam hampir semua hal, sehingga kita jadi kurang terbiasa dengan proses yang berjalan pelan.

Menariknya, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa menunggu bukan hal yang sepenuhnya negatif. Dalam banyak kasus, proses menunggu justru bisa membuat seseorang lebih menghargai hasil yang didapat. Ada waktu untuk berharap, mempersiapkan diri, dan akhirnya merasakan kepuasan yang lebih besar ketika sesuatu tercapai.

Pada akhirnya, di tengah dunia yang semakin cepat ini, kemampuan untuk menunggu justru menjadi sesuatu yang semakin langka. Menunggu bukan sekadar menahan waktu, tetapi juga belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa didapatkan secara instan. Mungkin tantangan kita saat ini bukan hanya mengikuti kecepatan zaman, tetapi juga menjaga kemampuan untuk tetap sabar di dalamnya.