Perilaku Coping Gen Z: Kajian Psikologis Mengenai Efektivitas dan Kecenderungan Menghindar

oleh
oleh

Oleh Nabila Zahra Siti Syahrani

DEPOKPOS – Stress adalah kondisi mental dalam diri seseorang yang muncul akibat tekanan dari internal maupun eksternal, kondisi mental ini dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental bahkan fisik individu. Salah satu dampak negatif dari kondisi mental yang stress adalah menjadikan seseorang cenderung menghindar, yang dalam psikologi dapat disebut sebagai Avoidant Personality Disorder (APD).

Ciri dari gangguan mental ini adalah rasa takut yang berlebihan ketika dikritik atau ditolak, merasa rendah diri, dan keinginan kuat untuk menjauhi interaksi social. Generasi Z (Gen Z) termasuk sebagai kelompok yang gampang terkena masalah kesehatan jiwa, termasuk APD.

Penelitian ini tujuannya agar pembaca lebih menyadari dan memahami APD serta dampaknya, terkhusus untuk orang yang mengalami nya. Cara yang dipakai adalah melihat berbagai literatur dan menganalisis contoh kasus secara deskriptif. Hasilnya memperlihatkan bahwa APD dipengaruhi oleh banyak hal, seperti genetic, traumatis masa lalu, dan kurangnya support keluarga.

Akibat APD antara lain susah bergaul, cemas saat bersosialisasi, serta kesulitan menjalin relasi dengan orang lain. Karena itu, dibutuhkan bantuan ahli dan peningkatan kesadaran masyarakat terkait kesehatan mental.

Istilah coping umumnya digunakan bersamaan dengan konsep stres. Para ahli memaknai stres sebagai kondisi atau situasi yang bersifat menekan sehingga individu merasa kehilangan kendali, yang pada akhirnya berpotensi menimbulkan berbagai konsekuensi negatif terhadap kesehatan psikologis maupun fisik.

Dampak tersebut dapat muncul dalam bentuk keluhan somatik dan perilaku, seperti sakit kepala, peningkatan tekanan darah, mudah tersinggung, perasaan sedih, gangguan konsentrasi, perubahan pola makan, kesulitan tidur, hingga munculnya kebiasaan merokok secara berlebihan (Lubis, 2024)

Generasi Z merupakan kelompok demografi penerus generasi milenial. Generasi yang termasuk pada generasi Z ini lahir antara 1996 hingga 2010, di mana mereka sangat terlibat dalam teknologi informasi seperti media sosial dan aplikasi lainnya dalam kehidupan sehari-hari.

Generasi ini juga dinamakan dengan istilah Gen Z. Berdasarkan penelitian American Psychological Association (APA) pada tahun 2018 yang berjudul “Stress in America:Generation Z” bahwa generasi muda yang berusia 15 hingga 21 tahun merupakan kelompok dengan masalah kesehatan mental yang paling parah dibandingkan generasi lainnya. (Lubis, 2024)

Avoidant Personality Disorder dikarakteristikkan dengan kecemasan atau ketakutan dan perilaku yang bertujuan menyingkirkan suatu situasi yang tidak menyenangkan. Seorang APD atau pemilik gangguan mental kecenderungan menghindar memiliki beberapa ciri, yaitu sensitif terhadap kritik maupun penolakan dari orang lain, kurang memiliki keinginan untuk berinteraksi atau berhubungan dengan orang lain, dan enggan mengambil resiko atau mencoba hal baru karena takut merasa malu atau bahkan dipermalukan (2023, 2021)

Faktor-faktor dari penyebab terjadinya kecenderungan untuk menghindar atau gangguan mental Avoidant Personality Disorder (APD) seperti faktor genetik, pengalaman masa lalu yang negatif pun mempengaruhi munculnya gangguan kepribadian menghindar, dan keterlibatan orangtua juga bisa menjadi penyebab munculnya gangguan kepribadian menghindar. Perilaku ini dapat berdampak pada orang sekitar, lingkungan sekitar dapat mengalami rasa cemas hingga menjadi rasa stress, rasa sedih yang cukup mendalam, serta rasa kebingungan akan kejelasan (Shabrina & Kurniawan, 2024).

Contoh dari sikap Avoidant Personality Disorder (APD) seperti semisal, saat seorang perempuan sedang menanyakan terkait kejelasan dari suatu permasalahan yang ada pada hubungannya namun, pasangannya lebih memilih untuk menjauh hingga menghilang agar dapat terhindar dari pembahasan masalah tersebut. Setelah permasalahannya tidak lagi dibahas, individu yang memiliki sifat avoidant tersebut (pasangan perempuan) mulai berkomunikasi lagi terhadap perempuannya tanpa membicarakan topik permasalahan yang belum sempat dibahas bersama.

Oleh sebab itu, sikap avoidant dapat berdampak buruk pada orang sekitar yang merasakannya, terlebih pada pasangannya sendiri. Dampak buruk yang dapat dirasakan oleh pasangannya adalah rasa kebingungan yang memicu rasa stress, kecemasan berlebih, bahkan terjadi self blaming atau menyalahkan diri sendiri, serta rasa lelah karena harus menunggu tanpa mengetahui kepastian waktu pasangannya akan kembali berkomunikasi lagi. Dengan demikian, tujuan penelitian ini untuk menambahkan pengetahuan serta meningkatkan kesadaran masyarakat pada pengendalian sikap saat sedang mengalami permasalahan yang terjadi.

Salah satu dampak buruk pada diri sendiri ketika memiliki gangguan mental cenderung menghindar ini adalah kesulitan bersosialisasi dengan baik. Maka, akan terjadilah keterbatasan dalam membangun hubungan komunikasi dengan lingkungan dalam sehari-harinya, seperti di lingkungan pekerjaan, sekolah, hingga aktivasi sosial, termasuk juga saat menghadapi stress hingga depresi.

Penyebab terjadinya Avoidant Personality Disorder (APD)

Ada beberapa penyebab gangguan mental Avoidant Personality Disorder (APD), seperti kontribusi dari genetik dan kepribadian, pengaruh dari pengalaman masa lalu yang negatif, serta kurangnya partisipasi atau afeksi dari keluarga terutama orang tua selama dalam masa anak-anak dan remaja,

Seperti contoh, sejak masih kanak-kanak, MRP kerap menerima perlakuan tidak menyenangkan dan penilaian negative dari orang orang sekitar. waktu itu saat MRP duduk di sekolah dasar, ia sering disuruh pergi ke suatu tempat sendirian padahal tidak melakukan kesalahan apapun, dan ia juga kerap di pukuli oleh teman-temannya tanpa ada seorangpun yang menolong. MRP Cuma bisa diam saja dan ta sanggup membela diri dari perlakuan buruk itu. Keadaan seperti ini terus terjadi sampai ia masuk sekolah menengah atas. MRP tidak hanya diperlakukan buruk oleh teman-temannya, tetapi juga oleh para pengajarnya di sekolah. MRP merasa seolah-olah mereka meremehkan dirinyadan seakan mengatakan bahwa MRP ‘tidak cerdas’. Hal inilah yang membuat MRP yakin bahwa dirinya memang bodoh.

Akhirnya, MRP memutuskan untuk tidak masuk sekolah selama sebulan penuh. Setelah itu, pihak sekolah mengambil keputusan untuk mengeluarkan MRP dari sekolah. Mulai sejak itu MRP menjadi seseorang yang hanya berdiam diri dan lebih banyak tidur dari pagi hingga larut malam (menghindari pembicaraan bersama orang lain). Selain itu dukungan dari keluarga juga tidak ada, orang tuanya hanya mampu menangis.

Akibat yang dirasakan oleh pengidap penyakit gangguan mental cenderung menghindar atau Avoidant Personality Disorder (APD)

Penderita gangguan mental Avoidant Personality Disorder (APD) ini dapat mengalami permasalahan pada sosialisasinya dengan lingkungan. Mereka akan memiliki kecemasan yang berlebih ketika orang lain mengkritik dirinya. Jika berada pada situasi sosial, individu ini lebih memilih untuk menghindari bercakap-cakap dengan orang lain. Mereka takut dipermalukan, ada pikiran bahwa orang lain akan melihat mereka menangis, ataupun terlihat gugup (Afriyenti, 2025)

Seperti yang sudah terjadi, seorang gadis yang dapat disebut R. R adalah perempuan 18 tahun dengan kondisi fisik normal, namun dia sedikit lebih lambat menanggap, sifatnya tertutup, dan sering menarik diri saat bersosialisasi. Dia juga tampak tidak antusias saat bertemu orang baru. Latar belakang hidupnya yang berat, seperti ditinggal orang tua sejak bayi dan pernah bernyanyi secara keliling demi mendapatkan uang, sangat membentuk cara pandangnya terhadap diri sendiri. R cenderung agresif, menjauhi orang lain, punya sedikit kawan, dan sangat cemas memikirkan masa lalu serta masa depan. Dia merasa tidak becus, punya rasa minder, bersikap pasif, dan malas mencoba hal baru. Ia sangat takut ditolak dan dikritik. Menurut teori perkembangan Erikson, karena dulu sewaktu bayi gagal melewati tahap percaya lawan tidak percaya sebab tidak ada sosok ibu, timbullah rasa tidak aman dan tidak percaya, yang kemudian memengaruhi perkembangan emosi, pergaulan, moral, serta pandangan diri R sampai remaja.

Pengobatan atau terapi pada pengidap penyakit gangguan mental cenderung menghindar atau Avoidant Personality Disorder (APD)

Pengobatan pada gangguan mental Avoidant Personality Disorder (APD) dapat digunakan menggunakan terapi dan obat-obatan atau hanya salah satunya saja. Terapi yang dimaksud adalah Cognitive Behavior Therapy (CBT) yang telah terbukti efektif dalam menangani kasus Avoidant Personality Disorder (APD), terapinya seperti memaparkan klien ke dalam lingkungan sosial, pelatihan kemampuan sosial, dan melawan pikiran negatif terhadap dirinya (2023, 2021). Obat-obatan yang digunakan bernama selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) dan juga serotonin-neropinephrine reuptake inhibitors (SNRIs). Namun, nyatanya ketika pengobatan gangguan mental ini menggunakan 2 metode tersebut lebih efektif dibandingkan hanya menggunakan salah staunya. (Fadilah et al., 1854)

Pengobatan-pengobatan tersebut dapat dilakukan juga didalam sebuah tempat rehabilitas, dimana memasuki sebuah tempat rehabilitas memerlukan setidaknya empat karakteritsik yang terpenuhi dari 7 karakteristik yang ada. Karakteristik tersebut amtara lain:

1. Menghindari pekerjaan yang berhubungan langsung dengan orang lain (bertemu tatap muka), sebab takut dikritik, ditolak, atau tidak disetujui

2. Enggan berhubungan dengan orang lain kecuali sudah yakin akan diterima baik

3. Merasa takut menjalin hubungan yang lebih akrab karena khawatir akan timbul rasa malu atau jadi bahan tertawaan

4. Selalui dihantui rasa cemas akan adanya teguran atau kritik saat berada di tengah keramaian

5. Jadi kurang leluasa saat ada di lingkungan sosial baru lantaran merasa kurang yakin pada diri sendiri

6. Menganggap diri lebih buruk dari orang lain, merasa tidak becus dalam pergaulan, atau tidak punya daya tarik pribadi

7. Sungkan sekali untuk mencoba hal baru atau mengambil keputusan karena takut hasilnya akan buruk

Ketika menjalani pengobatan, para terapis harus sangat berhati-hati agar tidak berperilaku dengan cara yang bisa dianggap sebagai penjelasan atau ketidaksetujuan. Karena individu dengan APD sangat peka terhadap kritikan ringan, pasien dengan APD bias menganggap terapi tersebut bersifat kritik meskipun tidak ada alasan yang sah untuk perasaan tersebut. Disamping itu, pasien APD cenderung lebih memperhatikan keaslian terapis mereka, yang meningkatkan kemungkinan penghentian perawatan lebih awal

Kesimpulan

Berdasarkan kajian yang sudah diuraikan, dapat kita simpulkan bahwa Gangguan Kepribadian Menghindar atau APD merupakan masalah kejiwaan yang erat kaitannya dengan stres, rasa cemas, dan kebiasaan tidak mampu menangani kesulitan, khususnya pada Gen Z yang memang rentan terhadap masalah kesehatan jiwa. Tanda khas APD mencakup rasa takut yang amat sangat terhadap penolakan dan kritik, kurangnya rasa percaya diri, serta hasrat besar untuk menghindar dari interaksi dengan orang lain dan kondisi yang dianggap mengancam perasaan.

Akar masalah APD ini rumit dan melibatkan berbagai unsur, seperti faktor keturunan, pengalaman buruk di masa lalu misalnya penolakan, diintimidasi, atau kekerasan, serta kurangnya dukungan dan perhatian dari orang tua sewaktu tumbuh kembang. Efek dari kondisi ini tidak hanya dirasakan orang terdekat, tetapi lebih mendalam dirasakan oleh penderitanya, yang bisa mengakibatkan susah bergaul, kecemasan sosial yang tinggi, rasa minder, cenderung menyendiri, dan kesulitan menciptakan jalinan relasi yang baik. Kajian kasus R dan MRP menegaskan bahwa pengalaman menyakitkan sejak kecil sangat berpengaruh pada pembentukan karakter menghindar yang terbawa hingga masa remaja. Dengan demikian, meningkatkan pengertian dan pengetahuan umum tentang APD jadi krusial guna mendorong perilaku yang lebih baik dan menyalurkan bantuan kejiwaan yang tepat bagi mereka yang mengidapnya.

Saran

Dari sebuah pernyataan diatas, terdapat saran-saran yang baiknya dilakukan oleh pengidap gangguan mental APD, yaitu memperoleh pendampingan professional seperti psikolog atau psikiater untuk membantu mengatasi gangguan mental tersebut, sebab mengelola kecemasan diri, kepercayaan diri sendiri bukanlah hal yang mudah dilakukan bagi pengidap gangguan mental ini. Diharapkan juga pada para masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap mental-health atau kesehetan mental, khususnya pada Gen-Z, agar stigma terhadap individu gangguan mental dapat diminimalkan. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan untuk meneliti lebih lanjut atau lebih dalam tentang perilaku coping Gen-Z yang menyangkut pengidap gangguan mental Avoidant Personality Disorder (APD).