Peran Vitamin C Saat Covid-19

oleh
oleh

Oleh Umi Koiriyah, Mahasiswa Program Studi Gizi Universitas Binawan

DEPOKPOS – Pandemi COVID-19 menuntut penguatan sistem imun, salah satunya melalui asupan Vitamin C. Studi literatur ini menganalisis mekanisme Vitamin C sebagai agen imunomodulator dalam melawan SARS-CoV-2. Temuan menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 menginfeksi melalui reseptor ACE 2 dan memicu inflamasi hebat. Vitamin C bekerja dengan meningkatkan aktivitas sel imun, memicu respons antivirus melalui ekspresi IRF3, serta menghambat mediator inflamasi NFkB. Sebagai antioksidan, Vitamin C melindungi jaringan paru dan meregulasi peradangan. Disimpulkan bahwa Vitamin C berperan vital dalam memperkuat daya tahan tubuh, meringankan gejala, dan mempercepat pemulihan pasien COVID-19.

Virus covid-19 yang pertama kali muncul pada akhir bulan Desember 2019 di wilayah Wuhan, Tiongkok. Penyakit yang dikenal sebagai Corona Virus Disease 2019 atau disingkat COVID-19 ini adalah infeksi yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, salah satu jenis dari keluarga koronavirus. Mereka yang terinfeksi COVID-19 dapat merasakan gejala seperti demam, batuk kering, serta kesulitan bernapas (Rahayu, Kurniawan and Asril, 2022).

Vitamin C memiliki fungsi klinis dalam melawan virus, berperan sebagai imunomodulator yang mampu merangsang perpindahan neutrofil, mempercepat proses apoptosis dan fagositosis neutrofil serta pemulihan oleh makrofag, sambil mengurangi nekrosis pada neutrofil, dan membentuk antioksidan untuk menghilangkan radikal bebas serta mengembalikan fungsi antioksidan seluler lainnya (Dzakirah, 2021).

Pemberian vitamin C secara signifikan dapat mencegah pneumonia yang disebabkan oleh Coronavirus dengan meningkatkan ekspresi IFR 3 (Interferon regulatory factor 3) yang berfungsi menimbulkan respon antivirus bawaan, menghambat nuclear factor kappa-B (NFkB), dan berperan penting dalam kekebalan tubuh dengan meregulasi chemokines, cytokine, adhesion molecules, mediator inflamasi dan menghambat apoptosis. Vitamin C dapat mempengaruhi respon Granulocyte macrophage colony stimulating factor (GM-CSF) yang berfungsi sebagai pertahanan dan mengontrol respons inflamasi pada paru-paru.

Metode penilitan yang digunakan adalaha Literature Review. Metode ini memiliki teknik mengidentifikasi, mengumpulkan, dan menganalisis berbagai sumber literatur yang relavan dengan topik pembahasan.

Virus Covid-19 yang berhasil disebarkan langsung akan mengikat kepada reseptor Angiotensin-converting enzyme 2 untuk masuk ke dalam membran. Selanjutnya, genom RNA virus yang telah berhasil menembus sel akan dikeluarkan ke dalam sitoplasma. Kemudian, virus akan bereplikasi pertama kali di epitel dari mukosa saluran pernapasan atas (rongga hidung dan faring) dan selanjutnya melakukan replikasi di area pernapasan bawah serta saluran pencernaan. Glikoprotein yang terbentuk akan dipindahkan ke dalam retikulum endoplasma, berkembang menjadi komponen virus baru yang siap dikeluarkan.

Pada fase pelepasan virus, gejala pernapasan maupun gejala non-pernapasan mungkin muncul, karena ACE 2 ditemukan di berbagai mukosa hidung, bronkus, paru-paru, jantung, esofagus, ginjal, lambung, kandung kemih, dan ileum, yang membuatnya rentan terhadap infeksi Covid-19. Sistem tubuh akan melawan Covid-19 melalui respons imun adaptif untuk mencegah penyakit berkembang ke tahap parah. Jika proses imun tidak berjalan dengan baik, virus dapat menyebar dan menginfeksi organ yang memiliki banyak reseptor ACE-2, menyebabkan paru-paru mengalami inflamasi dan peradangan yang dimediasi oleh makrofag serta granulosit yang bersifat proinflamasi.

Vitamin C diperoleh dengan baik melalui sistem pencernaan, didistribusikan utama ke kelenjar, dan dikeluarkan melalui transportasi aktif melalui SVCT1 yang berperan dalam penyerapan vitamin C di ginjal dan SVCT2 yang berfungsi mendistribusikannya ke jaringan. Vitamin C dalam sirkulasi darah dapat dengan mudah teroksidasi menjadi satu molekul dehidroaskorbat dan satu molekul askorbat. Vitamin C telah terbukti menghalangi dan mengurangi infeksi yang disebabkan oleh virus dan bakteri. Dalam sejumlah besar percobaan terkontrol plasebo pada manusia, vitamin C terbukti memperpendek infeksi akibat virus yang menyerang saluran pernapasan, mengindikasikan bahwa vitamin ini juga memiliki dampak terhadap infeksi virus pada manusia.

Vitamin C berfungsi dalam meningkatkan kekebalan tubuh terhadap infeksi COVID19. Kontribusi vitamin C ditunjukkan melalui kemampuannya dalam meningkatkan aktivitas sel imun, mengurangi mediator inflamasi, dan mendukung sistem pertahanan tubuh dalam menghadapi infeksi virus. Meskipun vitamin C bukanlah pengobatan utama untuk COVID19, asupan vitamin C bisa membantu mengurangi gejala penyakit dan mempercepat proses penyembuhan.