DEPOKPOS – Latar belakang: COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang menyerang sistem pernapasan dan melemahkan sistem imun, termasuk menurunkan fungsi sel T dan sel B serta memicu badai sitokin. Tujuan: Untuk meneliti peran vitamin C dan vitamin D dalam mendukung sistem imun selama infeksi COVID-19. Metode: Penelitian menggunakan metode literatur naratif, dengan menganalisis jurnal-jurnal relevan yang diakses melalui Google Scholar. Hasil: Vitamin C memiliki fungsi dalam memperkuat daya tahan tubuh dengan cara meningkatkan produksi kolagen, melindungi sel, merangsang aktivitas fagositosis, dan menjaga kesehatan jaringan paru. Vitamin D berperan dalam mendukung sistem imun bawaan dan adaptif dengan menjaga keutuhan lapisan epitel, meningkatkan sintesis peptida antimikroba, memodulasi sel T, serta mengurangi peradangan yang berlebihan. Kedua jenis vitamin ini berfungsi secara bersamaan untuk meningkatkan pertahanan tubuh terhadap infeksi SARS-CoV-2. Kesimpulan: Asupan vitamin C dan D yang cukup melalui makanan, suplemen, dan paparan sinar matahari penting untuk memperkuat sistem imun dan menurunkan risiko komplikasi COVID-19.
Di akhir tahun 2019, muncul wabah virus penyakit yang dikenal dengan Covid-19. Covid-19 merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Virus ini bisa menular dengan cepat ke berbagai negara, sehingga membuat setiap individu berusaha menemukan cara untuk melindungi diri dari penyebaran virus ini. Covid-19 menyerang pada saluran pernapasan, dengan gejala yang berbeda-beda mulai dari yang ringan seperti demam, batuk, dan rasa lelah, sedangkan yang berat seperti kesulitan bernapas, pneumonia, dan kerusakan organ.
Menurut KEMENKES, pada akhir Desember 2020, jumlah kasus yang terkonfirmasi mencapai sekitar 714.000, dengan sekitar 531.995 pasien telah sembuh pada pertengahan Desember dan jumlah kematian mencapai 19.514. Tingkat kesembuhan diperkirakan sekitar 84% pada bulan November, yang lebih baik dibandingkan rata-rata dunia. Tingkat kematian kasus (CFR) berada di sekitar 3,15% pada November, yang juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 2,2%.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah penyebaran virus COVID-19, seperti melakukan pembatasan kegiatan di luar rumah yang berlebihan. Upaya pencegahan ini sangat penting karena belum menemukan pengobatan khusus untuk COVID-19, sehingga proses penyembuhan setiap individu yang terinfeksi sangat bergantung pada sistem imun. Oleh karena itu, dibutuhkan nutrisi yang memiliki peran penting dalam meningkatkan sistem imun, seperti vitamin C dan vitamin D.
Vitamin C atau asam askorbat adalah zat gizi yang larut dalam air, yang berperan penting dalam mendukung sistem imun. Vitamin C juga berfungsi sebagai antioksidan dalam melawan radikal bebas dan melindungi sel-sel dari kerusakan oksidatif. Selain itu, vitamin C salah satu alternatif pengobatan untuk COVID-19. Dalam penelitian bahwa mengonsumsi vitamin C kurang dari atau sama dengan 1 gr/hari dapat mengurai risiko kematian hingga 35% dari flu biasa. Kebutuhan harian vitamin C dianjurkan 60 mg/hari, namun dalam kondisi tertentu dapat ditingkatkan antara 500-1000 mg.
Sedangkan, vitamin D merupakan jenis vitamin yang dapat larut dalam lemak. Vitamin D terdapat dua jenis yaitu kolekalsiferol (vitamin D3) yang berasal dari sumber hewani dan ergokalsiferol (vitamin D2) yang bersumber dari tanaman, keduanya memiliki proses metabolisme yang sama. Vitamin D memiliki peran dalam meningkatkan sistem imun, tidak hanya untuk menjaga kesehatan tulang. Mengonsumsi vitamin D memungkin menurunkan risiko terjadinya infeksi dengan cara mengaktifkan cathelicidin dan defisiensi yang dapat memperlambat reproduksi virus serta mengurangi kadar sitokin proinflamasi.
Dengan demikian, vitamin C dan Vitamin D memiliki peran penting dalam mendukung sistem imun, terutama dalam melawan virus COVID-19. Vitamin C memperkuat sistem imun sedangkan vitamin D berperan dalam mengatur respon imun. Kemudian, diperlukannya untuk mengoptimalkan gaya hidup sehat untuk mejadi strategi memperkuat daya tahan tubuh. Oleh karena itu, studi literature ini bertujuan untuk melihat pengaruh vitamin C dan vitamin D terhadap sistem imun COVID-19 berdasarkan ringkasan jurnal penelitian.
Penelitian ini menggunakan metode literatur narrative, yang bertujuan untuk menyajikan, menganalisis, dan merangkum data dari berbagai artikel guna memberikan pemahaman mengenai peran vitamin C dan vitamin D dalam mendukung sistem imun di masa pandemi COVID-19. Referensi ini diambil dari jurnal yang terpercaya melalui google scholar, sehingga menghasilkan ulasan yang relevan.
SARS-CoV-2 atau Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus adalah virus RNA dengan untai tunggal positif dari famili Coronaviridae, genus Betacoronavirus. Virus ini pertama kali dikenal pada akhir tahun 2019 di Wuhan, Tiongkok, sebagai pemicu pandemi COVID-19. Virus ini berbentuk bulat hingga pleomorfik dengan diameter 80-160nm dan memiliki genom RNA yang panjangnya 26-32 kb, ukuran ini lebih besar dibandingkan dengan virus lain. Virus ini terdiri dari empat protein struktural utama yaitu spike (S), envelope (E), membrane (M), dan nucleocapsid (N). Protein spike, yang berbentuk menyerupai mahkota, melindungi inti virus dan memungkinkan terjadinya ikatan spesifik dengan reseptor ACE2 pada sel manusia melalui domain pengikat reseptor (RBD) di subunit S1. Sementara itu, subunit S2 berperan dalam proses fusi membrane agar virus dapat masuk ke dalam sel. Virus ini dilapisi oleh amplop lipid yang rentan terhadap sabun dan disinfektan berbasis alkohol, membuatnya mudah hancur akibat zat kimia tersebut.
Selain itu, virus ini dapat bertahan di permukaan objek selama beberapa sesuai kondisi lingkungan. Setelah memasuki sel inang, SARS-CoV-2 memperbanyak genomnya dan menciptakan partikel baru, sekaligus menghambat respons dari sistem imun bawaan. Virus ini dapat menghambat produksi interferon tipe I, sehingga replikasi virus tidak dapat segera diatasi. Infeksi yang luas dapat memicu badai sitokin, yaitu pelepasan sitoksin proinflamasi yang berlebihan yang merusak jaringan paru-paru dan organ lainnya. Disamping itu, SARS-CoV-2 juga memengaruhi sistem imun adaptif dengan mengurangi jumlah dan kinerja sel T dan sel B, sehingga tubuh kesulitan untuk menghasilkan respons imun spesifik yang efektif. Akibatnya, infeksi dapat berlanjut menjadi pneumonia, kegagalan pernapasan, dan komplikasi sistemik dalam kasus yang parah, menunjukkan bahwa virus tidak hanya menyerang sel secara langsung tetapi juga melemahkan pertahanan imun tubuh.
Vitamin C adalah nutrisi yang sangat penting untuk memperkuat sistem imun melalui berbagai cara. Salah satu cara adalah dengan meningkatkan produksi kolagen, yang berfungsi tidak hanya untuk memperkuat jaringan ikat tetapi juga menjaga keutuhan struktur kulit dan mukosa, sehingga menciptakan lapisan pertahanan terhadap infeksi. Selain itu, vitamin C berperan sebagai antioksidan yang efektif dalam menetralisir radikal bebas, yang biasanya meningkatkan selama infeksi virus seperti COVID-19 dan dapat merusak jaringan. Dengan menurunkan kadar ROS, vitamin C membantu mencegah kerusakan pada sel dan jarigan. Vitamin C juga meningkatkan kemampuan sel imun untuk membunuh mikroorganisme dengan merangsang produksi sitokin dan kemokin, yang mengatur respon imun terhadap patogen.
Pemberian vitamin C dalam dosis tinggi memiliki dua efek, yaitu berperan sebagai pro-oksidan pada sel imun yang meningkatkan kemampuan fagosit dan melawan pathogen, serta berfungsi sebagai antioksidan pada sel epitel alveolar tipe II, yang penting untuk produksi surfakatan dan perlindungan paru-paru. Oleh karena itu, vitamin C tidak hanya memperkuat sistem kekebalan tubuh, tetapi juga menjaga keutuhan jaringan paru-paru selama infeksi COVID-19.
Vitamin D berperan penting dalam memperkuat sistem imun bawaan maupun adaptif. Nutrisi ini mendukung pemeliharaan integritas penghalang epitel paru-paru, termasuk tight junction, adherens junction, dan gap junction, yang bisa rusak akibat paparan mikroba seperti virus, sehingga mengurangi peluang infeksi. Vitamin D juga berfungsi mengaktifkan VDR pada sel-sel target, termasuk sel imun untuk meningkatkan produksi peptida antimikroba seperti katelisidin dan β-defensin yang dapat melawan berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri, jamur, dan virus. Suplementasi vitamin D meningkatkan kadar katelisidin yang berfungsi mengarahkan neutrofil, monosit, dan sel T ke lokasi infeksi, meredakan aktivitas patogen, dan mendorong penghapusan virus melalui apoptosis sel epitel yang terinfeksi. Selain itu vitamin D memodulasi respon Sel T-helper (Th) mengubah th 1 menjadi Th2, serta meningkatkan jumlah sel T regulator untuk menyeimbangkan respon imun dan menurunkan produksi sitoksin yang bersifat proinflamasi.
Vitamin D juga mengurangi kadar protein proinflamasi yang berlebihan dan meningkatkan sintesis protein antimikroba, membantu mengontrol inflamasi dan memperkuat pertahanan tubuh terhadap patogen. Proses konversi vitamin D menjadi bentuk aktif 1,25(OH)₂D₃ dalam jaringan lebih lanjut memperkuat sistem imun bawaan. Dengan cara, vitamin D tidak hanya menyerang patogen secara langsung tetapi juga menjaga keseimbangan respons imun agar tubuh dapat merespons infeksi lebih efektif.
Berdasarkan penelitian, SARS-CoV-2 menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dengan cara menghambat respons interferon tipe I, memicu reaksi berlebihan dari sitokin, serta mengganggu fungsi sel T dan sel B. Hal ini menyebabkan tubuh mengalami kesulitan dalam memberikan respons imun yang spesifik dan meningkatkan kemungkinan terjadi komplikasi serius. Vitamin C dan vitamin D sangat berperan dalam memperkuat sistem imun selama terkena COVID-19. Vitamin C membantu meningkatkan pertahanan tubuh dengan cara memperbanyak produksi kolagen, memberikan aktivitas antioksidan, dan merangsang fungsi sel imun, termasuk peran fagosit dan menjaga kesehatan jaringan paru-paru. Di sisi lain, vitamin D meningkatkan fungsi sistem imun bawaan dan adaptif dengan memastikan integritas sel epitel, merangsang produksi peptida anti mikroba, memodulasi sel T, serta mengurangi inflamasi yang berlebihan.
Oleh karena itu, memastikan asupan vitamin C dan D yang cukup, baik melalui makanan, suplemen, maupun paparan sinar matahari, merupakan langkah penting untuk mendukung sistem imun dan menurunkan paparan sinar matahari, merupakan langkah penting untuk mendukung sistem imun dan menurunkan risiko terjadinya infeksi COVID-19.
Ditulis oleh Chelsy Cahya Putri
Mahasiswa Program Studi Gizi Universitas Binawan
Dosen Pengampu: Apriani Riyanti, S.Pd., M.Pd
