DEPOKPOS – Liburan bagi Generasi Z bukan sekadar soal berpindah tempat, melainkan tentang pengalaman, memori, dan tentu saja dokumentasi.
Di era media sosial, momen liburan nyaris tak pernah lepas dari kamera. Foto bukan hanya kenangan pribadi, tetapi juga “bukti eksistensi” yang dibagikan di Instagram,
TikTok, atau X. Namun, di balik euforia liburan, ada satu hal yang kerap membuat Gen Z mengernyitkan dahi: harga fotografer di lokasi wisata yang dinilai terlalu mahal dan tidak transparan.
Fenomena ini bukan cerita baru. Hampir di setiap destinasi wisata populer mulai dari pantai, kawasan pegunungan, hingga objek wisata buatan pengunjung akan menemui jasa fotografer dadakan yang menawarkan foto instan.
Bagi sebagian orang, ini solusi praktis. Namun bagi Gen Z yang terbiasa menghitung anggaran liburan dengan ketat, tarif yang “selangit” justru terasa seperti jebakan di tengah liburan.
Gen Z, Liburan, dan Budaya Visual
Sebagai generasi yang tumbuh bersama media sosial, Gen Z sangat lekat dengan budaya visual. Foto liburan bukan sekadar estetika, melainkan bagian dari storytelling diri.
Unggahan foto menjadi cara berbagi pengalaman, membangun identitas digital, hingga sekadar arsip personal. Karena itu, dokumentasi liburan punya nilai penting.
Namun, berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z cenderung lebih sadar biaya dan nilai guna. Mereka terbiasa mencari promo, membandingkan harga, dan merencanakan liburan dengan anggaran terbatas.
Ketika dihadapkan pada jasa fotografer dengan tarif ratusan ribu rupiah untuk beberapa lembar foto tanpa penjelasan jelas di awal, rasa tidak adil pun muncul. Di titik inilah fotografer lokasi wisata sering dicap sebagai “musuh liburan” oleh Gen Z.
Harga Selangit dan Minim Transparansi
Masalah utama yang kerap dikeluhkan bukan semata mahalnya harga, melainkan ketidakjelasan informasi sejak awal. Banyak wisatawan mengaku baru mengetahui tarif setelah sesi foto selesai.
Situasi ini membuat pengunjung berada di posisi sulit: menolak membayar terasa tidak enak, sementara menerima berarti anggaran liburan membengkak.
Harga wisata yang murah namun harga foto yang mahal masih jadi masalah bagi para wisatawan (Sumber: TikTok)
Bagi Gen Z yang menjunjung transparansi dan kejujuran, praktik semacam ini dianggap tidak sejalan dengan etika layanan.
Harga jasa seharusnya disampaikan di awal secara terbuka, bukan “kejutan” di akhir. Apalagi, kualitas foto yang diterima terkadang tidak sebanding dengan harga yang dipatok. Inilah yang memicu kemarahan dan keluhan di media sosial, menjadikan isu ini viral berulang kali setiap musim liburan.
Di Antara Menghargai Profesi dan Hak Konsumen
Di sisi lain, penting untuk diakui bahwa fotografer juga sedang mencari nafkah. Banyak dari mereka bukan fotografer profesional dengan studio dan peralatan lengkap, melainkan warga lokal yang memanfaatkan peluang ekonomi di kawasan wisata.
Dalam konteks ini, jasa fotografi menjadi sumber penghasilan tambahan yang penting.
Namun, menghargai profesi tidak berarti menutup mata terhadap praktik yang merugikan konsumen. Gen Z bukan generasi yang anti membayar jasa, tetapi mereka ingin kejelasan nilai: apa yang dibayar, apa yang didapat.
Jika harga dianggap tidak masuk akal atau tidak sebanding dengan hasil, kritik pun tak terhindarkan.
Konflik ini menunjukkan adanya jarak antara cara lama menawarkan jasa dengan ekspektasi konsumen muda yang lebih kritis.
Kamera Pribadi, Tripod, dan Self-Timer: Bentuk Perlawanan Gen Z
Menariknya, respons Gen Z terhadap mahalnya fotografer di lokasi wisata sering kali bersifat adaptif. Banyak dari mereka memilih membawa tripod sendiri, menggunakan self-timer, atau bahkan memanfaatkan ponsel dengan kamera canggih yang kini semakin terjangkau.
Beberapa destinasi wisata pun dipenuhi Gen Z yang bergantian memotret temannya, membuktikan bahwa dokumentasi tidak selalu harus bergantung pada jasa profesional di lokasi.
Fenomena ini bisa dibaca sebagai bentuk “perlawanan halus” terhadap sistem harga yang dianggap tidak ramah. Alih-alih memicu konflik langsung, Gen Z memilih jalan alternatif yang lebih efisien dan sesuai dengan prinsip hemat ala mereka.
Namun, langkah ini juga secara tidak langsung menggerus peluang fotografer lokal jika tidak ada penyesuaian model layanan.
Media Sosial dan Viralitas Keluha
Media sosial berperan besar dalam memperbesar isu ini. Keluhan tentang tarif fotografer yang mahal kerap viral, disertai tangkapan layar chat, cerita pengalaman, hingga video reaksi. Dalam hitungan jam, satu unggahan bisa menjangkau ribuan orang dan membentuk opini publik.
Bagi Gen Z, media sosial bukan hanya tempat mengeluh, tetapi ruang diskusi kolektif. Mereka saling berbagi tips menghindari “jebakan” fotografer wisata, merekomendasikan destinasi yang lebih ramah, atau sekadar menertawakan pengalaman pahit bersama.
Namun, viralitas ini juga menjadi peringatan bagi pengelola wisata dan penyedia jasa bahwa praktik lama tak lagi relevan di era keterbukaan digital.
Tantangan bagi Pengelola Wisata dan Fotografer
Isu mahalnya fotografer wisata sejatinya tidak berdiri sendiri. Ini berkaitan dengan tata kelola destinasi, regulasi harga, dan kualitas layanan.
Pengelola wisata memiliki peran penting untuk memastikan adanya standar harga atau minimal papan informasi yang jelas.
Dengan begitu, wisatawan bisa mengambil keputusan secara sadar, tanpa tekanan sosial atau rasa tidak enak.
Bagi fotografer, ini menjadi momentum untuk beradaptasi. Paket harga yang jelas, contoh hasil foto, hingga opsi digital delivery bisa menjadi nilai tambah. Gen Z bukan anti jasa fotografi, tetapi mereka selektif.
Transparansi dan profesionalisme justru bisa membuat mereka bersedia membayar, bahkan merekomendasikan jasa tersebut secara sukarela di media sosial.
Pada akhirnya, liburan seharusnya menjadi ruang istirahat dari tekanan sehari-hari, bukan sumber stres baru. Bagi Gen Z, pengalaman liburan yang menyenangkan mencakup rasa aman, nyaman, dan adil sebagai konsumen.
Ketika aspek ini terganggu oleh praktik harga yang tidak jelas, wajar jika muncul resistensi dan label “musuh liburan”.
Namun, solusi tidak harus saling menyalahkan. Dialog, transparansi, dan penyesuaian dengan karakter wisatawan muda menjadi kunci.
Dengan komunikasi yang jujur, fotografer tetap bisa mendapatkan penghasilan, sementara Gen Z bisa menikmati liburan tanpa rasa terjebak.
Mahal Boleh, Asal Jelas
Harga jasa fotografer di lokasi wisata boleh saja tinggi, selama disertai kejelasan, kualitas, dan rasa saling menghargai.
Gen Z bukan generasi yang pelit, melainkan generasi yang sadar nilai. Mereka ingin tahu apa yang mereka bayar dan mengapa harus membayar sebanyak itu.
Jika praktik ini tidak berubah, label “musuh Gen Z” akan terus melekat pada fotografer wisata. Namun, jika ada adaptasi dan transparansi, bukan tidak mungkin fotografer justru menjadi bagian dari pengalaman liburan yang menyenangkan dan berkesan.
Di era Gen Z, mahal bukan masalah utama ketidakjelasanlah musuh sebenarnya.
Cici Marliani
