Studi Kesehatan: Pemantauan Digital Bantu Kurangi Beban Rumah Sakit

oleh
oleh

Oleh: Dela Riadi, S.K.M., M.K.M.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

DEPOK POS – Di tengah meningkatnya kasus penyakit pernapasan akut yang kerap disebut masyarakat sebagai super flu, pemanfaatan pemantauan kesehatan berbasis digital dinilai mampu membantu mengurangi beban rumah sakit. Hal ini ditunjukkan melalui hasil studi kesehatan terbaru yang mengkaji efektivitas remote patient monitoring (RPM) atau pemantauan pasien jarak jauh.

Penelitian ini dipimpin oleh Dela Riadi, S.K.M., M.K.M., dosen Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, bersama tim peneliti lintas institusi. Studi tersebut telah dipublikasikan dalam Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, jurnal ilmiah terindeks internasional.

Risiko Rawat Ulang Turun Signifikan

Melalui meta-analisis terhadap lima penelitian internasional yang melibatkan 2.685 pasien COVID-19, studi ini menemukan bahwa pasien yang dipantau secara digital memiliki risiko rawat ulang 44 persen lebih rendah dibandingkan pasien tanpa pemantauan jarak jauh.

“Pemantauan digital memungkinkan tenaga kesehatan mengawasi kondisi pasien dari rumah, sehingga tanda-tanda perburukan dapat terdeteksi lebih cepat. Ini sangat penting untuk mencegah penumpukan pasien di rumah sakit,” ujar Dela Riadi.

RPM memanfaatkan perangkat seperti pulse oximeter, termometer, dan aplikasi ponsel pintar yang terhubung langsung dengan tenaga medis. Data kesehatan pasien dikirim secara berkala dan dievaluasi untuk menentukan apakah pasien memerlukan penanganan lanjutan di fasilitas kesehatan.

Relevan untuk Antisipasi Super Flu

Menurut Dela, temuan penelitian ini sangat relevan dalam konteks meningkatnya kasus penyakit pernapasan saat ini. Pemantauan jarak jauh dapat menjadi strategi efektif untuk mengantisipasi lonjakan pasien akibat super flu.

“Dengan sistem ini, pasien bergejala ringan hingga sedang tetap terpantau dari rumah, sementara rumah sakit dapat memprioritaskan pasien dengan kondisi berat,” jelasnya.

Studi ini juga menunjukkan bahwa pemantauan yang dilakukan lebih dari dua minggu memberikan hasil yang lebih efektif dalam menurunkan risiko rawat ulang dibandingkan pemantauan jangka pendek.

Pasien dengan Diabetes Perlu Perhatian Lebih

Penelitian ini menemukan bahwa pasien dengan penyakit penyerta diabetes mendapatkan manfaat lebih besar dari pemantauan digital. Pasien dalam kelompok ini menunjukkan risiko rawat ulang yang lebih rendah secara signifikan.

“Pasien diabetes cenderung memiliki risiko komplikasi lebih tinggi pada penyakit pernapasan. Karena itu, pemantauan berkelanjutan menjadi sangat penting,” kata Dela.

Solusi Kesiapsiagaan Kesehatan

Lebih lanjut, Dela menilai pemantauan pasien jarak jauh dapat menjadi bagian dari strategi kesiapsiagaan sistem kesehatan, baik untuk menghadapi wabah penyakit pernapasan maupun pengelolaan penyakit kronis.

“Pengalaman pandemi mengajarkan pentingnya inovasi layanan kesehatan. Pemantauan digital bukan hanya solusi saat krisis, tetapi juga dapat diterapkan sebagai layanan rutin,” pungkasnya.