Anak Gaza Membisu karena Trauma, di Mana Pelindung Umat?

oleh
oleh

Oleh: Alin Aldini, S.S., Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Kesedihan akan kehilangan orang-orang tersayang, khususnya orang tua memang meninggalkan luka dan trauma. Banyak kisah fiksi yang terasa sangat nyata, hingga kenyataan pula terasa jauh lebih kejam dari sekadar kisah fiksi atau igauan/racauan semata, bahkan bukan hanya sekadar luka dan trauma tapi juga kehilangan suara, empati, dan keadilan.

Dalam novel A Man Called Ove yang ditulis oleh Fredrik Backman, kehilangan orang-orang yang dicintainya membuat Ove memilih untuk “bersedih” selamanya. Kesedihan membuat Ove menutup diri dari lingkungan sekitar bahkan berprasangka buruk pada siapa saja yang ia temui. Namun, sesulit apa pun hidup yang dijalani Ove, ia masih memiliki rumah, lingkungan yang aman, dan kesempatan untuk melanjutkan hidup meski dalam trauma yang amat mendalam.

Kondisi itu jauh berbeda dengan kesediaan yang dialami anak-anak Gaza hari ini. Mereka tidak hanya kehilangan orang-orang yang dicintai, tetapi juga kehilangan rasa aman, rumah, sekolah, dan masa depan yang seharusnya menjadi hak mereka. Kehilangan yang mereka alami bukan sekadar kesedihan, melainkan luka mendalam yang terus diproduksi oleh kekerasan dan peperangan yang tak kunjung berhenti.

Psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, menyampaikan, setiap anak di Gaza mengalami trauma. Lebih dari satu juta anak menderita trauma parah. Yang lebih memilukan, sebagian anak bahkan kehilangan kemampuan berbicara akibat tekanan psikologis yang mereka alami (bbc.com, 29/05/2026). Fakta ini menunjukkan penderitaan di Gaza tidak hanya menghancurkan bangunan dan infrastruktur, tetapi juga menghancurkan jiwa generasi masa depan Palestina.

Anak-anak semestinya tumbuh dalam lingkungan yang aman dan nyaman. Namun, anak-anak Gaza justru tumbuh dalam bayang-bayang bau besi dan reruntuhan, kehilangan anggota keluarga, pengungsian, dan ketidakpastian hidup. Trauma yang mereka alami bukanlah trauma “kehilangan” biasa. Ketika seorang anak sudah tak mampu berbicara karena penderitaan yang dialaminya, hal itu menunjukkan betapa dahsyat tekanan yang harus mereka tanggung.

Kondisi ini tidak dapat dipisahkan dari agresi dan kekerasan yang terus berlangsung di Gaza. Serangan yang menyebabkan jatuhnya korban sipil, termasuk anak-anak, telah melahirkan penderitaan fisik sekaligus mental. Luka yang tampak mungkin dapat dihitung, tetapi luka batin yang tersimpan dalam diri anak-anak jauh lebih sulit diukur.

Karena itu, tragedi Gaza tidak cukup dipahami sebagai krisis kemanusiaan semata. Dampaknya telah menjangkau aspek psikologis, sosial, dan peradaban. Sebuah generasi sedang menghadapi ancaman kehilangan masa kecilnya yang seharusnya bahagia. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka yang terancam bukan hanya masyarakat Palestina, tetapi juga masa depan kaum Muslim secara keseluruhan.

Yang juga memprihatinkan adalah ketidakmampuan dunia menghentikan penderitaan tersebut. Berbagai bantuan kemanusiaan memang diberikan, meski harus dicegat dan dijegal, tetapi bantuan itu belum mampu mengakhiri akar persoalan yang menyebabkan tragedi ini terus berulang. Setiap hari, dunia menyaksikan berita tentang jatuhnya korban baru, sementara solusi yang benar-benar menghentikan penderitaan rakyat Gaza belum terwujud.

Islam memandang persoalan Palestina tidak cukup diselesaikan melalui bantuan kemanusiaan atau diplomasi semata. Pembebasan Palestina membutuhkan kekuatan politik umat yang mampu memberikan perlindungan nyata bagi kaum Muslim. Bagaikan seorang ayah yang melindungi dan bertanggung jawab atas anaknya, Khilafah sebagai institusi atau sistem politik dunia yang dapat mempersatukan umat Islam dan menjadi pelindung bagi negeri-negeri Muslim yang mengalami penjajahan.

Pandangan ini lahir dari keyakinan bahwa umat Islam membutuhkan kepemimpinan satu yang mampu menjaga kehormatan, keamanan, dan kepentingan kaum Muslim secara menyeluruh. Karena itu, kesadaran politik umat untuk memperjuangkan persatuan dan kepemimpinan Islam inilah sebagai bagian penting dalam upaya mewujudkan pembebasan Palestina, bukan sibuk memikirkan “kiamat sudah dekat, jika Palestina merdeka”.

Terapi atau menyembuhkan (healing) dari trauma memang penting, selain mendapatkan terapi untuk memulihkan trauma, anak-anak Gaza juga membutuhkan jaminan bahwa tragedi yang melukai mereka tidak akan terus berulang. Anak-anak Gaza berhak hidup aman, berhak kembali bersekolah, berhak bermain, dan berhak berbicara tanpa rasa takut.

Dunia mungkin mendengar suara para pemimpin, diplomat, dan organisasi internasional marah dan mengecam perbuatan zionis penjajah. Namun yang sering terlupakan adalah suara anak-anak Gaza yang perlahan menghilang karena trauma. Ketika seorang anak tak lagi mampu berbicara akibat penderitaan yang dialaminya, sesungguhnya itu bukan hanya kegagalan bagi Gaza, melainkan kegagalan seluruh dunia (khususnya para pemimpin negeri-negeri Muslim) bahwa bukan hanya kemanusiaan yang harus menjadi perhatian seluruh dunia, namun kemampuan berpikir Islam yang melahirkan peraturan hidup termasuk hukum dan politik internasional.[]