Empati sebagai Fondasi Perilaku Prososial dalam Perspektif Psikologi dan Islam

oleh
oleh

Oleh Syafira Hayyun Nur Kamelia. Fakultas Psikologi, Prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

DEPOKPOS – Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan interaksi dengan orang lain. Dalam kehidupan bermasyarakat, perilaku prososial menjadi salah satu aspek penting karena dapat menciptakan hubungan sosial yang harmonis dan meningkatkan kesejahteraan bersama. Perilaku prososial mencakup berbagai tindakan yang bertujuan memberikan manfaat kepada orang lain, seperti membantu, berbagi, bekerja sama, dan memberikan dukungan emosional (Batson & Powell, 2003).

Namun, di tengah perkembangan teknologi dan meningkatnya individualisme, kepedulian sosial sering kali mengalami penurunan. Tidak sedikit individu yang lebih fokus pada kepentingan pribadi dibandingkan kebutuhan orang lain. Oleh karena itu, diperlukan faktor yang dapat mendorong munculnya perilaku prososial dalam masyarakat. Salah satu faktor psikologis yang berperan penting adalah empati.

Empati merupakan kemampuan individu untuk memahami dan merasakan keadaan emosional yang dialami orang lain. Individu yang memiliki tingkat empati tinggi cenderung lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan terdorong untuk memberikan bantuan ketika melihat orang lain mengalami kesulitan (Batson, 2022). Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa empati memiliki hubungan positif dengan perilaku prososial (Romiyati et al., 2023; Pamungkas & Wilantika, 2025).

Artikel ini bertujuan untuk membahas hubungan antara empati dan perilaku prososial berdasarkan perspektif psikologi serta nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam.

Empati dalam Perspektif Psikologi

Dalam psikologi, empati diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk memahami dan merasakan pengalaman emosional orang lain. Empati tidak hanya melibatkan kemampuan memahami sudut pandang orang lain (aspek kognitif), tetapi juga kemampuan merasakan emosi yang dialami orang lain (aspek afektif).

Menurut Batson (2022), empati dapat memunculkan motivasi altruistik, yaitu keinginan untuk membantu orang lain demi kesejahteraan mereka tanpa mengharapkan imbalan. Teori Empathy-Altruism menjelaskan bahwa ketika seseorang merasakan empati terhadap individu yang sedang mengalami kesulitan, maka akan muncul dorongan untuk membantu mengurangi penderitaan yang dialami orang tersebut.

Kemampuan berempati memiliki peran penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat. Individu yang mampu memahami perasaan orang lain cenderung lebih mudah menjalin hubungan interpersonal yang positif serta menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.

Perilaku Prososial dalam Kehidupan Bermasyarakat

Perilaku prososial merupakan tindakan sukarela yang dilakukan untuk memberikan manfaat kepada orang lain tanpa mengutamakan kepentingan pribadi (Batson & Powell, 2003). Bentuk perilaku prososial dapat berupa membantu orang yang mengalami kesulitan, berbagi sumber daya, memberikan dukungan emosional, menyumbang kepada yang membutuhkan, serta berpartisipasi dalam kegiatan sosial.

Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku prososial dapat ditemukan dalam berbagai situasi. Misalnya, membantu teman yang kesulitan memahami materi kuliah, memberikan bantuan kepada korban bencana alam, atau ikut serta dalam kegiatan bakti sosial. Tindakan-tindakan tersebut menunjukkan adanya kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain.

Perilaku prososial tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima bantuan, tetapi juga bagi pelakunya. Individu yang sering melakukan perilaku prososial cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih baik dan memperoleh kepuasan psikologis karena merasa bermanfaat bagi orang lain.

Hubungan Empati dengan Perilaku Prososial

Empati dan perilaku prososial memiliki hubungan yang erat. Ketika seseorang mampu memahami dan merasakan kondisi yang dialami orang lain, ia akan lebih terdorong untuk memberikan bantuan. Empati membantu individu mengenali kebutuhan orang lain sehingga meningkatkan kemungkinan munculnya perilaku prososial.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Romiyati et al. (2023) menunjukkan adanya hubungan positif antara empati dan perilaku prososial pada mahasiswa. Temuan serupa juga ditemukan oleh Pamungkas dan Wilantika (2025) yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat empati seseorang, semakin tinggi pula kecenderungannya untuk melakukan perilaku prososial.

Sebagai contoh, ketika seseorang melihat temannya mengalami kesulitan ekonomi, empati memungkinkan individu tersebut memahami kondisi yang sedang dialami temannya. Pemahaman tersebut kemudian dapat mendorong munculnya tindakan nyata, seperti memberikan bantuan atau dukungan sesuai kemampuan yang dimiliki.

Dengan demikian, empati dapat dipandang sebagai salah satu faktor penting yang mendukung terbentuknya perilaku prososial dalam kehidupan bermasyarakat.

Empati dan Perilaku Prososial dalam Perspektif Islam

Konsep empati dan perilaku prososial sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam. Islam menekankan pentingnya kepedulian terhadap sesama, kasih sayang, serta tolong-menolong dalam kebaikan.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk membantu sesama dalam berbagai bentuk kebaikan. Sikap saling membantu merupakan salah satu bentuk perilaku prososial yang dapat memperkuat hubungan sosial dalam masyarakat.

Selain itu, Allah Swt. juga berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 10:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”

Konsep persaudaraan dalam Islam mengajarkan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk peduli terhadap kondisi orang lain. Kepedulian tersebut dapat diwujudkan melalui sikap empati dan perilaku prososial.

Rasulullah saw. juga bersabda:
“Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa memahami dan memperhatikan kebutuhan orang lain merupakan bagian dari nilai keimanan. Oleh karena itu, empati tidak hanya memiliki dasar psikologis, tetapi juga menjadi bagian dari ajaran Islam yang mendorong terwujudnya kehidupan sosial yang harmonis.

Empati merupakan kemampuan untuk memahami dan merasakan keadaan emosional orang lain yang berperan penting dalam mendorong munculnya perilaku prososial. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki tingkat empati tinggi cenderung lebih sering melakukan tindakan menolong, berbagi, dan bekerja sama dengan orang lain.

Dalam perspektif Islam, empati dan perilaku prososial sejalan dengan ajaran tentang kasih sayang, persaudaraan, dan tolong-menolong dalam kebaikan. Oleh karena itu, pengembangan empati menjadi penting dalam upaya membangun masyarakat yang lebih peduli, harmonis, dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan serta keislaman.