Oleh Eliza Safag Pratiwi. Mahasiswi Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Sibling Rivalry Dalam Keluarga
Persaingan antar saudara atau dikenal dengan sebutan sibling rivalry adalah dinamika yang hampir selalu muncul dalam setiap keluarga, baik dalam bentuk halus maupun melalui konflik yang lebih tampak.
Persaingan ini dapat terjadi dalam berbagai bentuk seperti berebut mainan, perhatian ataupun dalam hal prestasi akademik. Sibling rivalry ini tidak muncul secara tiba-tiba, namun berkembang melalui interaksi sehari-hari dengan keluarga.
Cara orangtua memberikan perhatian ataupun pola asuh yang tidak konsisten, membandingkan antar anak tanpa sadar dapat memperkuat perasaan cemburu dan ketidakadilan pada anak.
Sibling rivalry sering muncul pada rentang usia anak antara 1-3 tahun, dan muncul kembali pada usia 3-5 tahun dan pada usia 8–12 tahun (Desiningrum, 2012).
Pada usia 3-5 tahun masa ini anak mengalami kecemburuan yang tinggi jika orang tua mereka memberikan perbedaan perhatian pada saudara nya. Kejadian ini timbul akibat perasaan cemburu, sikap kompetitif ataupun terkadang orang tua yang kerap tidak adil dalam memberi perhatian dan kasih sayang sehingga terkesan memihak pada satu anak saja.
Pertengkaran kecil hingga kompetensi yang kerap dianggap sebagai bagian yang wajar dalam proses perkembangan anak.
Ketika kehadiran seorang saudara dalam keluarga dapat berpengaruh bagi perkembangan sosial dan emosional seorang anak. Khusus nya terjadi oleh anak pertama.
Anak yang pada awalnya menjadi anak satu-satunya pusat perhatian, kemudian harus menghadapi bawa orangtua harus membagi perhatian dengan saudara lain.
Perubahan ini dapat mendorong munculnya sifat kemandirian ataupun anak pertama yang mengembangkan peran sebagai “orangtua semu” bagi adiknya.
Pada dasarnya, anak yang tumbuh dengan memiliki saudara kandung diharapkan dapat membangun hubungan yang positif. Tetapi disisi lain, jika orang tua tidak bisa membagi kasih sayang secara adil, kondisi tersebut dapat memicu munculnya rasa cemburu pada diri mereka.
Menurut Alfred Adler, urutan kelahiran berpengaruh pada tahap perkembangan dan kehidupan seorang anak. Tidak hanya itu, pola pengasuhan yang diterima oleh anak sulung, anak tengah dan anak bungsu relatif berbeda.
Hal itu menjadi penyebab masing-masing anak tumbuh dalam persepsi sendiri untuk orangtua dan saudara kandungnya. Perbedaan pengalaman dapat memperkuat dinamika persaingan,terutama pada anak yang sama jenis kelamin dan memiliki jarak usia yang dekat.
Kecemburuan juga dapat terjadi akibat pola asuh yang diajarkan oleh orangtua dalam kehidupan sehari-hari, hal itu mempengaruhi kecenderungan anak terhadap persaingan antar saudara kandung ( sibling rivalry). Adel mengatakan bahwa urutan kelahiran berpengaruh pada tahap perkembangan dan kehidupan seorang anak dimasa depan, karena anak pertama, ataupun anak bungsu dibesarkan oleh pola pengasuhan yang berbeda.
Pola pengasuhan inilah yang menyebabkan anak memiliki persepsi sendiri terhadap orang tua dan saudara nya.
Secara umum, pola asuh orang tua dapat diklasifikasikan menjadi menjadi tiga jenis, yaitu:
Pola asuh otoriter, menempatkan orang tua sebagai pihak yang menentukan hampir seluruh keputusan, sementara anak hanya dituntut untuk patuh.
Pola asuh demokratis, yang memberi ruang dialog dan kebebasan berpendapat kepada anak.
Pola asuh permisif, memberikan kebebasan penuh kepada anak dalam menentukan pilihan, namun tanpa pengawasan yang memadai, kebebasan tersebut dapat mengarah pada perilaku yang kurang positif.
Peran Keluarga Dalam Resolusi Konflik Sibling Rivalry
Dalam menghadapi konflik sibling rivalry, keluarga memegang peranan yang sangat penting sebagai lingkungan pertama anak belajar bersosialisasi dan menyelesaikan konflik. Peran orang tua tidak hanya sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai mediator dalam membantu anak memahami perasaan, kebutuhan, ataupun sudut pandang saudara kandungnya. Peranan ini bisa menjadi krusial, karena respon orang tua untuk konflik antar anak akan membentuk pola penyelesaian masalah hingga anak menjadi dewasa.
Resolusi konflik dalam keluarga dapat dilakukan melalui komunikasi yang terbuka dan adil. Orang tua pun perlu mengajarkan anak untuk bagaimana mengatasi konflik tersebut. Mulai dari pendekatan yang tepat, maka anak dapat belajar bagaimana cara menghadapi dan menyelesaikan konflik tersebut dengan cara yang positif.
Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya sibling rivalry
Menjaga pendekatan yang sederhana dan konsisten (keep things simple)
Orangtua dapat menyampaikan nilai-nilai keluarga secara sederhana dan konsiten kepada anak. Contoh nya dengan menegaskan bahwa saudara kandung merupakan bagan dari keluarga yang harus saling menjaga, melindungi satu sama lain dan harus menghargai.
Mengajarkan empati pada anak dan pengendalian emosi pada anak.
Dengan bimbingan orang tua untuk mengenali emosi yang muncul saat konflik, seperti marah atau cemburu dan juga cara mengekspresikan secara tepat. Hal ini dapat membantu anak belajar bahwa perbedaan ataupun konflik merupakan hal yang wajar namun dapat diselesaikan dengan cara yang baik dan tetap saling menghormati.
Bersikap adil, bukan sama rata
Anak memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, dan hal ini penting bagi orangtua untuk memenuhi kebutuhan tersebut tanpa menimbulkan kesan pilih kasih.
Menhindari perbandingan antar anak
Perbandingan antara satu anak dengan anak yang lain dapat memicu rasa cemburu, dan persaingan yang tidak sehat. Orangtua hanya perlu menghargai keunikan yang dimiliki pada anak tanpa membandingkan satu sama lain, orang tua dapat membantu anak merasa diterima dan di hal ini dapat mengurangi potensi terjadinya sibling rivalry
Dampak Jangka Panjang Sibling Rivalry
Apabila konflik sibling rivalry tidak ditangani atau dikelola dengan baik, kondisi ini dapat menimbulkan berbagai dampak jangka panjang bagi perkembangan emosional anak dan juga sosial nya. Berikut adalah dampak yang bisa terjadi:
Penurunan rasa percaya diri
Anak yang mengalami persaingan dengan saudara kandung nya bisa mengalami penurunan rasa percaya diri, terutama jika merasa selalu kalah atau merasa tidak dihargai.
Hal ini dapat mempengaruhi cara mereka melihat diri mereka sendiri dan dapat membentuk pandangan negatif terhadap kemampuan mereka.
Gangguan pada perkembangan emosional anak
Anak-anak yang terus menerus terlibat persaingan yang tidak sehat dengan saudaranya berpotensi mengalami tekanan emosional, seperti perasaan cemas dan kurang dihargai. Rasa cemburu serta persepsi ketidakadilan yang dapat menghambat perkembangan emosional anak, sehingga mereka menjadi lebih sulit untuk mengendalikan emosi negatif, seperti marah atau frustasi
Hubungan antar saudara yang kurang sehat
Sibling rivalry yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak pada hubungan antar saudara. Konflik yang terjadi berulang dapat berpotensi mengurangi kedekatan emosional yang sehat dan juga dapat melemahkan ikatan antara saudara hingga masa dewasa.
Berdampak pada hubungan sosial dan profesional
Konflik antara saudara yang dialami sejak kecil dapat mempengaruhi cara anak menjalin hubungan sosial dan profesional di masa depan. Anak mungkin cenderung mengalami kesulitan dalam berinteraksi, bekerjasama serta menunjukan emosi dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
Kesimpulan
Sibling rivalry merupakan hal yang wajar dalam kehidupan keluarga, namun hal tersebut perlu dikelola dengan bijak agar tidak berkembang menjadi konflik yang merusak hubungan antar saudara. Persaingan antar saudara dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pola asuh orang tua,pembagian perhatian, urutan kelahiran serta cara orangtua merespon konflik yang terjadi. Maka dari itu, peran keluarga khusus nya pada orang tua menjadi sangat penting dalam membentuk cara memahami, menghadapi dan menyelesaikan konflik.
Melalui pola asuh yang adil, komunikasi yang terbuka serta pengajaran empati dan juga pengendalian emosi. Sibling rivalry tidak hanya dapat diminimalkan, tetapi juga diarahkan menjadi sarana pembelajaran bagi anak dalam membangun hubungan yang sehat. Dengan resolusi konflik yang tepat sejak dalam keluarga, anak diharapkan mampu tumbuh dengan perkembangan emosional yang baik serta menjalin hubungan positif hingga dewasa.
