Oleh Ayu Rizki Ananda, Aulia Raihanah, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA
Istilah keluarga Sakinah merupakan penjelasan dari QS al-Rum (30):21. Dalam ayat ini, Allah mengungkapkan bahwa alasan penciptaan seorang istri adalah memungkinkan suami membangun sebuah keluarga sakinah, yaitu keluarga yang hidup selaras, Bahagia secara lahir dan batin, serta damai, tenang, dan penuh kasih sayang. Konsep “Sakinah” dalam al-qur’an dipakai untuk menggambarkan suasana nyaman dalam keluarga. Kata ini berasal dari akar kata yang serupa dengan “sakanun” yang berarti tempat tinggal. Oleh karena itu, adalah hal yang wajar jika istilah tersebut digunakan al-qur’an untuk merujuk pada tempat singgah dimana setiap anggota keluarga dapat singgah dalam kondisi yang nyaman dan tentram, menjadikannya tempat untuk mengembangkan kasih sayang (mawaddah warrahmah) diantara anggotanya. Dengan demikian, istilah Sakinah yang digunakan untuk menggambarkan “keluarga” adalah nilai yang seharusnya menjadi motivasi dalam membangun tantangan keluarga yang mampu memberikan kenyamanan di dunia dan juga menjamin keselamatan di akhirat. (Chadijah, 2018)
Keluarga adalah tokoh utama dari Masyarakat yang kokoh, dan kestabilan dalam keluarga menjadi dasar untuk keberlangsungan suatu bangsa. Di dalam islam, gagasan mengenai keluarga yang kenal harmonis dan penuh kedamaian dikenal dengan istilah “Sakinah”, yang berarti tenang dan damai. Sakinah dalam konteks keluarga adalah kondisi yang dicirikan dengan ketentraman, kesejahteraan, dan keseimbangan diantara anggota keluarga saat menjalani aktivitas sehari-hari. Dalam sudut pandang hukum islam, ide Sakinah dalam rumah tangga berakar pada psinsip-prinsip yang terdapat dalam agama Islam yang mengatur interaksi antara suami, istri, dan anggota keluarga lainnya. Agama islam menawarkan arahan yang yang tegas mengenai hak dan tanggung jawab masing-masing orang dalam keluarga dan juga memberi petunjuk untuk menyelesaikan perselisihan yang mungkin muncul dengan cara yang baik dan adil. Di sisi lain, psikologi memberikan wawasan yang mendalam tentang interaksi psikologis dalam keluarga yang berpengaruh pada pembentukan konsep Sakinah. Psikologi melihat keluarga sebagai suatu sistem yang rumit, dimana hubungan antar anggota keluarga, cara berkomunikasi, dan metode pengasuhan memiliki peranan vital dalam menciptakan hubungan emosional dan kebahagiaan dalam keluarga. Artikel ini membahas dua elemen utama: Komunikasi dan keteladanan, yang menjadi dasar dalam membangun keluarga harmonis. Penulisan ini difokuskan pada cara kedua elemen ini berkolaborasi dalam menciptakan mutu hubungan dilingkungan keluarga.
Keluarga Sakinah mengacu pada sebuah unit kehidupan yang berkisar pada keseimbangan dan ketenangan, yang berasal dari dua komponen utama: “keluarga” dan “sakinah”. Kata “keluarga” berasal dari perpaduan antara “kawula” dan “waga”, menunjukan kewajiban yang diemban oleh individu untuk mengurus keluarganya, sedangkan sebagai “warga”, individu tersebut memiliki hak serta kewajiban dalam konteks keluarga.(Faizah, 2024) Komunikasi dalam suatu keluarga memiliki peran yang sangat krusial, karena keharmonisan didalam keluarga ditentukan oleh sejauh mana komunikasi berjalan dengan efektif. Dalam ajaran islam, terdapat anjuran bagi umatnya untuk melakukan komunikasi yang baik. Dalam surah an-nisa ayat 148, Allah menyatakan bahwa dia tidak menyukai ucapan yang buruk, yang menjadi pedoman bagi umat-Nya untuk menciptakan komunikasi yang positif dalam unit terkecil Masyarakat, yaitu keluarga. Selain itu, Allah juga mendorong umatnya untuk merendahkan suara saat berinteraksi. Hal ini sejalan dengan firman-Nya dalam surat Luqman ayat 19.(Komunikasi et al., 2023) Komunikasi menurut islam bukan sekedar penyampaian informasi, tetapi juga merupakan sebuah ibadah yang bisa dilaksanakan dengan adab dan niat baik. Dalam lingkup keluarga, komunikasi yang sesuai dengan ajaran islam terlihat melalui penggunaan Bahasa yang santun (qaulan layyinan), jujur (qaulan sadidan), serta mendidik (qaulan ma’rufan). Orang tua yang menerapkan prinsip komunikasi islam seringkali lebih berhasil dalam membangun ikatan emosional dengan anak anak mereka, serta menumbuhkan rasa aman dan Tingkat kepercayaan yang tinggi dalam hubungan tersebut. Dengan anak berhadapan dengan masalah atau godaan yang muncul dari dunia digital, komunikasi yang terbuka dan penuh kasih sayang menjadi sangat penting. Anak yang merasa yang dihargai lebih cenderung untuk berbagi dan mendiskusikan masalah yang mereka alami, berbeda dengan anak yang tumbu dalam lingkungan yang cenderung otoriter dan penuh tekanan.(Kamila et al., 2025) Pendidikan islam dalam keluarga adalah proses pembentukan karakter islam pada anak-anak. Peran serta tanggung jawab orang tua sebagai pendidik utama sangat dibutuhkan untuk mendidik anak secara efektif. Selain itu, keteladanan dari pendidik menjadi salah satu metode yang berpengaruh pada perkembangan anak. Orang tua adalah pendidik pertama bagi generasi mendatang, namun hal ini belum sepenuhnya dirasakan oleh banyak keluarga muslim saat ini. Oleh karena itu, sangat penting untuk menguatkan kembali peran orang tua di dalam rumah tangga agar tidak terjadi krisis dalam keteladanan. Artikel ini membahas tentang keteladanan dalam keluarga yang telah dicontohkkan oleh Rasulullah SAW saat melakukan dakwah kepada kaum kerabat. Pada akhirnnya, keteladanan dalam Pendidikan merupakan metode yang efektif dalam mempersiapkan anak dari aspek, akhlak, mental, dan sosial. Keteladanan yang diajarka mencakup aspek ibadah, syariat, dan akhlak. Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh dalam mendidik. Pertama, pendidik menunjukkan sikap jujur. Kedua, pendidik harus memperlihatkan keadilan kepada anak sebagai contoh yang baik. Ketiga, pendidik harus menunjukkan kasih sayang pada anak. Keempat, pendidik harus bersikap lembut dan mematuhi ajaran islam dalam etika sehari-hari. Orang tua sebagai pendidik pertama wajib memberikan keteladanan dengan menyampaikan dan mengamalkan ajaran Rasulullah SAW serta kesalehan para sahabat sebagai panutan yang terbaik sepanjang zaman.
Komunikasi dan keteladanan adalah dua pilar fundamental untuk menciptakan keluarga yang damai. Komunikasi yang baik memungkinkan pasangan untuk menciptakan kedekatan, meyelesaikan permasalahan, dan menghasilkan suasana keluarga yang seimbang. Sementara itu, contoh perilaku memberikan pedoman moral dan etika yang kuat bagi semua anggota keluarga, sehingga prinsip prinsip islam dapat diinternalisasi dengan konsisten. Keduanya saling terkait dan memiliki peran krusial dalam membangun keluarga yang damai, penuh cinta, serta berada dalam naungan Allah SWT.
