Oleh Vainisza Adzania Humaira, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
DEPOKPOS – Manusia diciptakan dengan keberagaman yang luar biasa, termasuk dalam hal kemampuan. Salah satu bentuk keberagaman pada anak-anak dapat dilihat dari kapasitas intelektual dan cara mereka berinteraksi dengan dunia. Perbedaan inilah yang perlu kita pahami bersama agar dapat memberikan pola asuh, pembelajaran, maupun treatment yang tepat demi mendukung pertumbuhan mereka.
Sayangnya, keterbatasan ini sering kali dipandang negatif oleh masyarakat yang kurang mengerti. Anak dengan Disabilitas Intelektual kerap dicap “lambat”, sementara anak dengan Autisme sering dianggap “aneh” atau bahkan “gila” karena perilaku mereka yang tidak biasa.
Lantas, apa sebenarnya Disabilitas Intelektual dan Autisme itu? Mari kita bedah satu per satu.
Disabilitas Intelektual (Intellectual Disability / ID)
Disabilitas Intelektual (dulu dikenal sebagai tunagrahita) adalah sebuah kondisi yang ditandai dengan keterbatasan pada kapasitas intelektual dan fungsi adaptif harian. Kondisi ini menyebabkan skor IQ berada di bawah rata-rata (kurang dari 70) dan gejalanya sudah muncul sebelum anak berusia 18 tahun.
Menurut Panzilion (2021), gangguan perkembangan ini ditandai dengan Intelligence Quotient (IQ) yang lebih rendah dari anak-anak seusianya. Akibatnya, anak dengan ID mengalami hambatan dalam menyelesaikan tugas-tugas kognitif. Ni’matuzahroh juga menambahkan bahwa anak dengan ID cenderung memiliki tingkat belajar yang lambat, pola belajar yang tidak teratur, serta kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan dan memahami konsep-konsep yang abstrak.
Berdasarkan tingkat skor IQ, Disabilitas Intelektual dibagi menjadi 4 kategori:
Mild (Ringan) | IQ 50–70: Anak kesulitan dalam tugas akademik seperti membaca, menulis, dan berhitung. Kemampuan akademiknya umumnya setara dengan anak kelas 6 SD. Mereka cenderung pemalu, pendiam, dan membutuhkan dukungan untuk jangka pendek.
Moderate (Sedang) | IQ 35–49: Perkembangan bahasanya cenderung lambat dan mengalami gangguan bicara. Mereka memerlukan bimbingan yang konsisten dan terarah dalam aktivitas sehari-hari.
Severe (Berat) | IQ 20–34: Hanya mampu memahami tugas akademik yang sangat sederhana (setara anak kelas 1 SD). Mengalami gangguan komunikasi yang berat dan membutuhkan pengawasan serta bimbingan yang konsisten.
Profound (Sangat Berat) | IQ < 20: Tidak dapat memahami tugas akademik, kemampuan bahasanya sangat terbatas, dan membutuhkan pengawasan total serta bantuan penuh sepanjang hidupnya.
Faktor Penyebab Disabilitas Intelektual:
Prenatal (Masa Kehamilan): Kelainan kromosom, gangguan metabolisme bawaan, gangguan perkembangan otak, atau keracunan saat ibu sedang hamil.
Perinatal (Proses Persalinan): Posisi janin yang salah saat lahir, cedera otak (brain injury), kekurangan oksigen saat lahir (anoxia), berat badan lahir rendah (BBLR), atau infeksi menular dari ibu.
Post-Natal (Setelah Kelahiran): Faktor biologis (seperti cedera kepala, penyakit meningitis, malnutrisi) dan faktor psikososial (seperti lingkungan yang buruk, tindakan kekerasan/abuse, atau kurangnya stimulasi ekstrem).
Gangguan Spektrum Autisme (Autism Spectrum Disorder / ASD)
Prevalensi autisme menunjukkan peningkatan yang signifikan. Data WHO menunjukkan lonjakan luar biasa di Indonesia, dari 1 per 1.000 penduduk menjadi 8 per 1.000 penduduk (diperkirakan mencapai 150–200 ribu anak). Secara global, CDC mencatat prevalensinya mencapai 1 dari 44 anak. Angka ini tergolong tinggi, namun apakah masyarakat sudah benar-benar memahaminya?
ASD bukanlah penyakit biasa, melainkan gangguan perkembangan pervasif dan neurologis yang ditandai dengan perbedaan pada struktur serta fungsi otak. Kondisi ini menyebabkan hambatan persisten dalam komunikasi, interaksi sosial, kemampuan kognitif, bahasa, serta adanya pola perilaku yang terbatas dan berulang.
Faktor Risiko Autisme:
Kemiripan dengan ID, faktor genetik memegang peran penting. Namun, ASD juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan biologis lainnya, seperti:
Usia orang tua (ibu atau ayah) yang sudah tua saat kehamilan/persalinan.
Riwayat stres berat atau pendarahan maternal pada ibu selama hamil.
Infeksi saat hamil, paparan asap rokok, atau konsumsi obat antidepresan tertentu.
Jenis kelamin anak (lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki).
Riwayat pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang terlalu dini (sebelum usia 6 bulan).
Gejala dan Karakteristik Utama ASD:
Gejala ASD sangat beragam dan unik pada setiap anak, dengan tingkat kecerdasan yang bervariasi. Secara umum, cirinya dibagi menjadi dua karakteristik utama:
Hambatan Komunikasi dan Interaksi Sosial:
Menghindari kontak mata dan tidak merespons saat dipanggil namanya (mulai terlihat sejak usia 9 bulan).
Minim ekspresi wajah dan jarang menggunakan isyarat tubuh (seperti melambaikan tangan).
Kesulitan memahami perasaan orang lain atau berbagi ketertarikan dengan orang di sekitarnya.
Perilaku Berulang dan Minat Terbatas (Repetitif):
Suka menyusun mainan atau benda secara berjejer dan akan marah jika susunannya diubah.
Mengulang kata atau frasa secara terus-menerus (echolalia / membeo).
Sangat kaku terhadap rutinitas dan memiliki obsesi berlebih pada objek tertentu (misalnya roda yang berputar).
Melakukan gerakan tubuh berulang (seperti mengepalkan tangan, mengayunkan tubuh, atau berputar-putar).
Klasifikasi dan Tipe Autisme:
Autis Disorder: Anak terlihat hidup di “dunianya sendiri” dan kesulitan memahami emosi orang lain, namun terkadang memiliki kemampuan memori, seni, atau berhitung yang sangat tinggi (savant syndrome).
Asperger Syndrome: Tidak mengalami keterlambatan bahasa secara formal dan komunikasi fisiknya normal, namun sangat kaku dalam memberikan respons emosional atau menunjukkan empati.
Childhood Disintegrative Disorder (CDD): Anak tumbuh normal hingga usia 2 tahun, namun perlahan-lahan kehilangan kemampuan motorik, bahasa, dan sosial yang sudah dikuasainya.
Pervasive Developmental Disorder (PDD-NOS): Gejalanya lebih kompleks dan kaku, sering kali melibatkan interaksi yang intens dengan teman imajinatif.
Sindrom Rett: Umumnya menyerang anak perempuan (terdeteksi usia 6–18 bulan), ditandai dengan kemunduran ukuran kepala (mikrosefali), kehilangan fungsi tangan, kejang, dan gangguan mobilitas.
Persamaan antara Disabilitas Intelektual (ID) dan Autisme (ASD)
Meski merupakan dua kondisi yang berbeda secara diagnosis klinis, ID dan ASD memiliki beberapa titik temu yang sering kali membuat masyarakat awam tertukar:
Hambatan Komunikasi: Anak dengan ID mengalami keterbatasan bahasa karena fungsi kognitif yang terbatas. Sementara anak dengan autisme mengalami hambatan komunikasi karena kesulitan interaksi sosial, keterlambatan bicara, atau gaya bahasa yang sulit dimengerti.
Tantangan Sosial: Anak dengan ID kesulitan membaca situasi sosial karena keterbatasan pemahaman konsep. Sejalan dengan hal itu, anak dengan autisme juga mengalami kesulitan interaksi dua arah dan cenderung menarik diri atau asyik dengan dunianya sendiri.
Faktor Penyebab: Keduanya sama-sama dapat dipicu oleh faktor genetik bawaan serta adanya gangguan perkembangan neuroanatomi (struktur dan fungsi otak).
Muncul di Masa Perkembangan: Gejala dari kedua kondisi ini sudah dapat dideteksi dan mulai terlihat sejak masa kanak-kanak.
Dampak Akademik: Kedua gangguan ini sama-sama memberikan hambatan atau tantangan tersendiri bagi anak dalam mencapai prestasi akademik konvensional di sekolah.
Memahami perbedaan dan persamaan kedua kondisi ini adalah langkah awal yang sangat penting, khususnya bagi orang tua dan pendidik. Dengan pengetahuan yang tepat, kita tidak lagi memberikan penghakiman keliru, melainkan mampu memberikan deteksi dini, penanganan yang tepat, serta kasih sayang yang sesuai dengan kebutuhan unik mereka.
