Bukan Sekadar Makan Bersama: Membangun Kelekatan Psikologis dan Berkah Muamalah

oleh
oleh

Oleh: Idzni Mutiara Syahadah dan Shabrina Gheriya Laudza’i

DEPOKPOS – Pernahkah Anda duduk bersama keluarga di mejamakan, namun suasana justru terasa sepi? Hanya terdengar denting sendok dan bunyi notifikasi gawai.

Secara fisik, semua anggota keluarga hadir, tetapi secara jiwa, masing-masing sedang “berkelana” di dunia maya.

Fenomena phubbing, yakni mengabaikan orang di sekitar demi ponsel – kini menjadi polusi nyata dalam rumah tangga. Meja makan yang seharusnya menjadi ruang sakral untukbertukar cerita, kini sering kali berubah menjadi sekadar tempat pengisian energi tanpa interaksi.

Dalam perspektif Islam, hubungan antar manusia atau muamalah tidak hanya terjadi di pasar atau kantor. Muamalah terkecil justru dimulai darirumah.

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa: 19:

“…Dan bergaullah dengan mereka secara patut…”

Ayat ini merupakan fondasi muamalah keluarga.”Secarapatut” berarti berkomunikasi dengan santun, menghargai perasaan, dan memberikan perhatian penuh, termasuk saat kita duduk bersama di meja makan.

Islam tidak memandang aktivitas makan hanya sebagai pemenuhan kebutuhan biologis. Ada dimensi spiritual yang besar di sana. Rasulullah SAW bersabda:

“Berkumpullah kalian dalam menyantap makanan kalian, niscaya kalian akan diberkahi di dalamnya.” (HR. Abu Dawud)

Hadits ini menegaskan bahwa makan bersama adalah pintu keberkahan (barakah). Meja makan adalah wadah muamalah di mana seorang anak belajar tentang hak orang lain dan menghargai jerih payah orang tua.

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menuliskan bahwa salah satu adab makan adalah tidak diam seribu bahasa, melainkan membicarakan hal-hal yang baik (al-hikayatash-shalihah).

Meja makan harus menjadi tempat persemaian nilai-nilai kebaikan, bukan keheningan yang dingin.
Secara psikologis, keberkahan yang dimaksud dalam hadits tersebut selaras dengan konsep kelekatan aman (secure attachment).

Meja makan bukan sekadar tempat berbagi nutrisi, melainkan ruang untuk membangun fondasi kesehatan mental anggota keluarga.

Saat kita meletakkan gawai dan melakukan kontak mata, otak kita melepaskanhormon oksitosin yang memperkuat rasa kasih sayang. Dalam psikologi, ini adalah bentuk validasi bahwa setiap anggota keluarga “terlihat” dan “berharga”.

Sebaliknya, penggunaan ponsel di meja makan secara terus-menerus dapat menciptakan efek Still Face-sebuah kondisi di mana seseorang merasa diabaikan secara emosional, yang jika terjadi pada anak, dapat mengganggu rasa percaya diri dan kemampuan mereka berempati di masa depan.

Tantangan terbesar muamalah modern adalah gangguan digital. Membawa ponsel ke meja makan sebenarnya adalah bentuk pelanggaran adab secara halus. Bagaimana kita bisa memuliakan orang lain jika mata kita terpaku pada layar?

Rasulullah SAW memberikan teladan luar biasa. Jika beliau berbicara dengan seseorang, beliau akan memutar seluruh tubuhnya menghadap orang tersebut. Beliau hadir secara utuh (mindful).

Ingatlah sabda Rasulullah SAW bahwa perkataan yang baik adalah sedekah (HR. Bukhari dan Muslim).

Meja makan adalah tempat terbaik untuk “bersedekah” apresiasi kepada istri yang telah memasak, atau kepada suami yang telah mencari nafkah.
Sering kali tanpa sadar, kita merusak suasana dengan kritik atau topik yang berat.

Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukainya maka dimakan, jika tidak beliau meninggalkannya (HR. Bukhari).
Secara psikologis, meja makan harus menjadi “zona aman” untuk menurunkan kadar hormon stres (kortisol) setelah seharian beraktivitas.

Membangun komunikasi beradab berarti menunda topik-topik yang memicu konflik (seperti menginterogasi nilai ujian atau membahas cicilan) dan menggantinya dengan al-hikayat ash-shalihah—cerita-cerita baik yang menginspirasi.

Ketahanan sebuah bangsa dimulai dari ketahanan keluarga, dan itu semua dimulai dari apa yang terjadi di atas meja makan. Sebagaimana kutipan indah dari Sayyid Quthb, “Keluarga adalah benteng terakhir peradaban.”